Kapal yang Tak Harusnya Kubangun dan Dia yang Tak Perlu Kusapa

ilustration by Mahkeo on Unsplash

 

Setelah terdampar di sebuah desa antah berantah dan terpuruk berbulan-bulan, kini aku kembali mulai mengumpulkan tenaga. Untuk membuat perahu kembali. Berlayar kembali melanjutkan cerita sebelumnya.

Aku kembali mulai mengumpulkan kayu, dan alat-alat yang kubutuhkan untuk membuat kapal.

Hingga kembali datang seorang gadis yang melihatku membuat kapal itu. Rambutnya warna hitam panjang dan terurai. Wajahnya manis, dengan senyuman yang hangat, siapapun akan bahagia melihat senyuman itu. Baca lebih lanjut

Tarian di Atas Kapal

sumber foto : unsplash.com

Langkah tarianku di atas kapal ini berhenti ketika kau mengatakan ‘kunjungi kapal ini seperlunya’.

Kata itu keluar dari seorang melambaikan tangan di kejauhan saat aku asik bermain pasir di pantai.

Badanku sudah lelah, tapi kau ingin aku berenang menuju kapalmu yang tidak dapat merapat ke tepi pantai.

Maka aku pun berenang, karena kupikir aku hanya membantumu sebentar saja, kemudian aku bisa kembali pulang ke tepi pantai.

Saat kutiba di kapal itu, kapal mulai berjalan. Aku tidak menginginkannya tapi kudiamkan saja, membiarkan kapal itu berjalan ke arah yang kau tentukan.

Baca lebih lanjut

Lisanku, Diksiku, dan Kamu

ilustrasi via pixabay.com

 

Adakah lidahku salah berucap? Ataukah karena ada kata yang tak sempat terucap ?

Kepala ini tak bisa menebak apa yang ada di kepalamu. Mataku juga tidak bisa melihat apa yang kau alami.

Lidah ini pun kelu ketika diksimu tegas dan singkat. Menyiratkan makna agar aku segera menepi ke sisi tak mengganggu .

Padahal belum jarum jam ini memutar 360 derajat, tapi semua sudah berubah. Seperti politisi saja yang ucapannya tak bisa dipegang. Kemudian mengabarkan bahwa pihaknya benar dan pihak lainnya yang salah.

Jika memang mata, mulut, dan telinga ini membuatmu sakit, beritahu aku. Aku ingin membuatnya lebih baik. Biarkan ku membuat semuanya kembali normal.

Baca lebih lanjut