Kapal yang Tak Harusnya Kubangun dan Dia yang Tak Perlu Kusapa

ilustration by Mahkeo on Unsplash

 

Setelah terdampar di sebuah desa antah berantah dan terpuruk berbulan-bulan, kini aku kembali mulai mengumpulkan tenaga. Untuk membuat perahu kembali. Berlayar kembali melanjutkan cerita sebelumnya.

Aku kembali mulai mengumpulkan kayu, dan alat-alat yang kubutuhkan untuk membuat kapal.

Hingga kembali datang seorang gadis yang melihatku membuat kapal itu. Rambutnya warna hitam panjang dan terurai. Wajahnya manis, dengan senyuman yang hangat, siapapun akan bahagia melihat senyuman itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Maaf

Sumber foto : Pixabay

Maaf

Surat ini hanya untuk mengatakan sebuah permintaan maaf. Maaf jika aku jadi baper. Maaf jika aku menjadi terbawa suasana. Mungkin maksudmu tidak begitu, tapi maaf semua berubah sejak hati ini menjadi berdebar saat di sampingmu. Maaf semua berubah ketika aku mulai menghkhawatirkanmu.

Tapi bolehkah ku berkeluh jika semua ini kau yang memulai?

Pertama kali di rutinitas tanpa warna, sebuah pesan masuk mengingatkanku untuk sarapan.

Katakanlah itu basa basi.

Baca lebih lanjut

Lisanku, Diksiku, dan Kamu

ilustrasi via pixabay.com

 

Adakah lidahku salah berucap? Ataukah karena ada kata yang tak sempat terucap ?

Kepala ini tak bisa menebak apa yang ada di kepalamu. Mataku juga tidak bisa melihat apa yang kau alami.

Lidah ini pun kelu ketika diksimu tegas dan singkat. Menyiratkan makna agar aku segera menepi ke sisi tak mengganggu .

Padahal belum jarum jam ini memutar 360 derajat, tapi semua sudah berubah. Seperti politisi saja yang ucapannya tak bisa dipegang. Kemudian mengabarkan bahwa pihaknya benar dan pihak lainnya yang salah.

Jika memang mata, mulut, dan telinga ini membuatmu sakit, beritahu aku. Aku ingin membuatnya lebih baik. Biarkan ku membuat semuanya kembali normal.

Baca lebih lanjut