PARA PENYEMBAH PERSEPSI

sumber gambar : Masboi

sumber gambar : Masboi

Di sebuah sudut jalan kita seringkali mendengar sebuah lantunan ayat suci berbunyi : ‘Bagiku Agamaku, Bagimu Agamamu’ yang kemudian dilanjutkan dengan larangan mengucapkan selamat Natal meskipun dirinya tidak mengerti iman Kristen..

Sementara di sudut jalan lainnya, kita juga sering mendengar sebuah pernyataan yang berbeda : ‘Tidak keselamatan di luar Gereja !’ yang kemudian dilanjutkan dengan membanding-bandingkannya dengan agama lain.

–oo0oo–

Kalimat-kalimat tersebut seringkali dibuat menjadi tameng bagi sekelompok orang untuk menghakimi apa yang dianut orang lain, bahkan tidak jarang digunakan sebagai alat untuk mengolok-olok iman yang berbeda darinya. Seringkali ayat tersebut diucap oleh para imam, ulama atau tokoh masyarakat yang dianggap terhormat, sehingga tidak heran jika banyak orang pun memberi reaksi afirmatif terhadap seruan tersebut.

Mereka yang memiliki keyakinan demikian beranggapan  bahwa dirinya berada di pihak Tuhan dan Tuhan ada pihaknya.  Seakan iman dikuatkan dan seakan mengetahui apa yang Tuhan inginkan dari imannya. Seperti anak kecil yang merengek berebut kudapan dengan saudaranya, mereka berseru atas nama Tuhan mengkafirkan saudaranya. Seakan tidak rela kudapan itu menjadi hak saudaranya, mereka berseru atas nama Tuhan tidak rela berbagi Surga bersama saudaranya. Menganggap dirinya anak kesayangan orang tua, seperti mereka menganggap Tuhan selalu berada di pihaknya.

Baca lebih lanjut

Iklan

NEGERI SALAH FOKUS

 

sumber foto : merdeka.com

sumber foto : merdeka.com

Dalam beberapa minggu terakhir, Indonesia sedang dihebohkan oleh kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur non-aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dugaan penistaan agama tersebut terjadi kala sang gubernur memberikan pidato di Kepulauan Seribu pada 27 September lalu. Kejadian tersebut memicu beragam pendapat dari berbagai kalangan. Ada yang menganggap bahwa apa yang dikatakan Ahok adalah penistaan, ada pula yang mengatakan bahwa hal tersebut bukan merupakan penistaan agama.  Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah Ahok melakuan penistaan agama ? Atau kasus dugaan ‘penistaan agama’ hanya ulah dari sekelompok provokator yang memprovokasi umat beragama di Indonesia untuk mengambil keuntungan pribadi dari hal tersebut ?

Perkataan Ahok yang dituding sebagai penistaan agama adalah perkataannya yang menyinggung Surat Al-Maidah 51 yang pada berisi larangan pada umat Muslim untuk memilih seorang Nasrani dan Yahudi sebagai pemimpinnya. Sebenarnya siapa saja dapat mengucapkan ayat ini, namun benarkah Ahok menodai ayat suci Al-Quran seperti yang digembar-gemborkan tersebut ? Atau kita hanya salah fokus ?

Baca lebih lanjut

SEPAKBOLA JUGA KOMERSILKAN AGAMA

Sepakbola, bisnis dan agama sebenarnya adalah tiga bidang berbeda yang dijalankan dengan pengkhayatan yang berbeda pula, namun tidak ada yang pernah menduga tiga hal yang jelas berbeda ini bisa saling terkait satu sama lain. Adalah publik sepakbola Skotlandia yang menjadi saksi bagaimana agama dimanfaatkan sedemikian rupa untuk mengkomersilkan industri sepakbola. Lalu bagaimana semua hal itu dapat terjadi ? Sekilas, cerita ini akan dianggap omong kosong belaka, namun hal ini benar-benar pernah terjadi.

Baca lebih lanjut

YANG FANATIK = YANG MENOLAK

sumber : danisiregar.com

sumber gambar : danisiregar.com

Hamparan padang rumput di sore hari nampaknya lebih indah dibanding mendengar keributan di tengah jalan sana. Memperebutkan Tuhan dengan mempertandingkan kitab dan nabi-nabi di dalamnya. Entah sadar atau tidak, pertandingan ‘memperebutkan Tuhan’ bukanlah hal yang penting di dunia ini. Jika kau melihat ke bawah, tidakkah kau lihat Setan tertawa puas melihat perilaku para manusia itu. Seakan Lucifer berhasil mempermainkan skemanya dan para atheis menjadikan para penganut agama tersebut sebagai lelucon. Andaikan Tuhan dapat turun hari ini juga, tak heran dia tertunduk malu melihat umatNya, anakNya seperti ini.

Baca lebih lanjut