Lisanku, Diksiku, dan Kamu

ilustrasi via pixabay.com

 

Adakah lidahku salah berucap? Ataukah karena ada kata yang tak sempat terucap ?

Kepala ini tak bisa menebak apa yang ada di kepalamu. Mataku juga tidak bisa melihat apa yang kau alami.

Lidah ini pun kelu ketika diksimu tegas dan singkat. Menyiratkan makna agar aku segera menepi ke sisi tak mengganggu .

Padahal belum jarum jam ini memutar 360 derajat, tapi semua sudah berubah. Seperti politisi saja yang ucapannya tak bisa dipegang. Kemudian mengabarkan bahwa pihaknya benar dan pihak lainnya yang salah.

Jika memang mata, mulut, dan telinga ini membuatmu sakit, beritahu aku. Aku ingin membuatnya lebih baik. Biarkan ku membuat semuanya kembali normal.

Baca lebih lanjut

Iklan

Dia yang Katanya ‘Kesalahan’

Orang bilang ini dosa, tapi kenapa yang ada di antaranya diciptakan Yang Kuasa

Kuikuti semuanya seperti yang orang bilang, untuk jauhi itu

Jauhi perasaan itu

Menghindarinya sebisa mungkin

Berkoar dan sesumbar tidak jatuh pada perasaan itu

Seperti dipermainkan oleh dunia dan pikiranku sendiri. Hatiku lebih berdebar dari biasanya. Itu justru terjadi saat perjumpaanku dengannya. Gadis berkerudung biru itu secara ajaib menyapa perasaanku.

Baca lebih lanjut

MENCOBA (DINDING YANG TINGGI)

Sumber gambar : puisk.com

Sumber gambar : puisk.com

Kemarin, kau pertemukan aku dengan dia. Anggun menggunakan pakaian semampai berwarna biru muda. Aku tahu, aku telah jatuh hati padanya dan mungkin dia pun begitu. Tapi tembok penghalang kami terlalu besar. Sebuah tinta yang mengatasnamakan NamaMu di atas langit sana. Mungkin kau sebenarnya tak pernah menjadi penghalang, tapi mata manusia yang terhalang ribuan cermin membuatnya melihat dengan pengelihatan yang samar-samar.

Baca lebih lanjut

KASIH YANG BEDA AGAMA

sumber gambar : www.ceritamu.com

sumber gambar : http://www.ceritamu.com

Hai, gue Romi dan sudah beberapa bulan gue memadu kasih dengan kekasih gue (iya lah, masa kekasih orang lain). Gue ga pernah inget angka, makannya gue cuman inget kalau kita sudah jadian beberapa bulan yang lalu. Jujur, gue beragama Kristen, sedangkan pacar gue yang bernama Ivana berasal keluarga Islam taat dan Ivana pun beragama Islam (obviously !). Sehingga kita memutuskan untuk backstreet. Pacaran backstreet itu susah ya. Yap, backstreet. Back itu artinya di belakang, Street itu jalan. Jadi kita itu pacarannya di belakang jalan, soalnya kalau di tengah jalan takutnya ketabrak, apalagi kalau ketabraknya sama bokap nyokapnya dia, masalahnya bisa jadi double dan belum lagi kalau yang nanggung biaya kecelakaan itu bokap nyokap gue, bisa-bisa gue dipecat jadi anak. Soalnya gue kan lahir dari keluarga Akew yang totok, jadi ga mau rugi. Gue tebak, kalau benar kecelakaan, yang pertama diomelin adalah kerugian akibat kecelakaannya, bukan karena pacar gue yang berkerudung dan beda agama. Backstreet juga bisa berarti jalan belakang. Kita kalau kencan sukanya lewat jalan belakang, karena di jalan depan suka ada yang tabrakan (jadi bikin jalan macet). Di jalan depan juga suka ada razia, sedangkan gue kan ga punya SIM, bahaya kalau lewat sana, belum juga kencan udah bisa tekor bayar tilang ratusan ribu. Baca lebih lanjut

CONGRATULATION

Hanya kata ‘selamat’ yang dapat kuucapkan ketika kau pergi. Hari ini ketika gerbang besar telah terbuka dan lonceng berdetak. Karpet merah yang mengantarkanmu ke depan altar bersama pangeran pujaanmu. Mungkin jika aku melakukan hal berbeda pada hari itu, pria itu tidak ada disebelahmu saat ini. Tapi , sudahlah aku tidak bisa merusak hari bahagiamu.

Aku hanya bercerita tentang keraguanku. Saat itu aku menunggu tamu istimewaku, di depan perapian. Baca lebih lanjut

SAYANG PADA SAHABAT (?)

‘Aku ingin ketemu kamu’ ;‘Aku kangen kamu’ ;‘Kapan kamu pulang ?’

Seringkali aku mendengar 3 kalimat itu. Berulang kali kalimat itu membangunkanku di saat matahari bahkan belum menunjukkan sinarnya. Entah pukul berapa saat itu. Jujur, aku terganggu saat itu, namun senyum selalu tergores di wajah ketika mengetahui itu adalah kamu. Aku tahu saat itu kamu sangat membutuhkan seseorang. Itu selalu terulang, bahkan di saat aku belum pergi, benar-benar belum pergi, di saat sebenarnya aku bisa setiap hari mengunjungimu dan membuatmu tertawa. Kadang aku pun merindukan waktu saat aku bisa membuatmu tertawa. Sekarang, waktu kita terbatas. Tapi aku juga membenci waktu-waktu dimana kau hanya berkeluh kesah, tentang dia. Aku tidak tahu apa yang kau lihat dari dia, tapi… entahlah aku tidak pernah berani berkomentar buruk karena aku pun tidak benar-benar mengenal siapa dia, yang kutahu kau terlalu mudah untuk percaya padanya. Baca lebih lanjut