Kapal yang Tak Harusnya Kubangun dan Dia yang Tak Perlu Kusapa

ilustration by Mahkeo on Unsplash

 

Setelah terdampar di sebuah desa antah berantah dan terpuruk berbulan-bulan, kini aku kembali mulai mengumpulkan tenaga. Untuk membuat perahu kembali. Berlayar kembali melanjutkan cerita sebelumnya.

Aku kembali mulai mengumpulkan kayu, dan alat-alat yang kubutuhkan untuk membuat kapal.

Hingga kembali datang seorang gadis yang melihatku membuat kapal itu. Rambutnya warna hitam panjang dan terurai. Wajahnya manis, dengan senyuman yang hangat, siapapun akan bahagia melihat senyuman itu.

Ia menyapaku dengan manis. Ia mengatakan menyukai orang yang membuat kapal.

Kuceritakan padanya kisahku dan bagaimana ku membangun kapal ini. Kuceritakan akan kujadikan apa kapal ini.

“Nanti aku ingin membangun menara kecil di atas kapal untuk memantau lautan luas,” kataku

“Persis seperti ada yang di bayanganku. Aku juga ingin menaiki kapal seperti itu,” kata gadis itu.

Jelang matahari tenggelam, sang gadis berniat membantuku. Ia mulai mengambil beberapa kayu dan membantuku membangun kapal itu.

Keesokan harinya ia membawa beberapa bahan yang bisa kugunakan untuk mempercantik kapal ini ketika berlayar.

Ia masih terlihat membantu. Terkadang ia pamit izin pulang, untuk kembali lagi.

Ia juga menceritakan mengenai kapal impiannya. Beberapa sudut berbeda dengan rancangan yang sudah kubuat.Kemudian, semalaman, aku menggambar ulang rancangan kapalku. Mungkin itu akan membuatnya terkesan.

Dan, ya, ia tersenyum dan mengaku terkesan. Ia tak sabar ingin naik ke kapal itu. Begitu pun aku. Lalu saat mengerjakan kapal itu, ia bilang ada kebocoran di dek kapal. Aku pun datang dan memperbaiki kebocoran itu.

Cukup gawat, aku pun segera mencari alat dan bahan untuk memperbaiki kerusakan itu. Ketika aku kembali, aku langsung memperbaiki kapal itu. Tetapi kemudian, suatu ketika ia bilang akan pergi dulu ke suatu tempat dan akan kembali. Aku menunggu.

Tapi tak lama, hujan turun. Aku terpaksa menepi dan mencari tempat berteduh.

Hingga pagi datang dan goresan pelangi muncul di langit, ia tak kunjung datang.

Sesaat, aku kembali mengerjakan kapal itu. Hingga akhirnya aku melihatnya berlayar di laut dengan kapal berbeda.

Ia terlihat bersanding dengan sang kapten. Wajahnya tampak kusut dengan rambut yang terurai dan tak rapi.

Sang kapten terlihat tersenyum menunjukan kapalnya yang megah dan melambaikan tangan pada awak kapal. Kemudian ia terlihat memberi instruksi pada sang gadis untuk melakukan sesuatu.

Warga desa bilang, sang gadis sudah lama menjadi permaisuri di kapal itu. Katanya ia sempat kabur dari kapal karena kelakuan sang kapten. Warga desa pun bingung kenapa permaisuri itu kembali.

Ada juga yang bilang bahwa sang permaisuri bahagia di kapal itu. Walaupun bukan itu yang aku lihat dari sini. Ia bilang bahwa ia ingin menaiki kapal yang kurancang dan senang melihat kapalku ini. Kemudian ia pergi meninggalkanku dengan kapal yang belum selesai kubangun.

Seharusnya memang tak kusapa gadis itu.

Aku hanya bisa berusaha mengirimkan pesan, menanyakan kabarnya. Tapi tak kunjung mendapat balasan. Kenapa ia ingin menaiki kapalku tetapi tak benar-benar menaikinya, kenapa ia membantu membangun kapalku tetapi meninggalkannya ketika semua belum selesai, kenapa ia masih meninggalkan banyak tanda tanya di sini. Aku perlu jawaban.

Melihatnya berada di kapal itu, membuatku kembali putus asa. Aku melihat kapalku dan kembali berpikir, kenapa aku membangun kapal? Seharusnya dari awal memang tak kubangun kapal ini. Lebih baik aku kembali terbaring di ruang gelap di belakang perkampungan ini. Di sana rasanya lebih baik.

Entah sampai kapan kapalku terbengkalai lagi. Entah sampai kapan hingga aku memiliki keinginan untuk meneruskan membangun kapal ini.

Kubangun kapal ini untukku dan untuknya. Tetapi baginya, kapal ini hanya basa-basi. Ia sudah menaiki kapal yang lain. Ia lebih memilih sebagai budak berstatus permaisuri di kapal megah dibandingkan menduduki singgasana di kapal impian yang kurancang dan mengarunginya bersama.

Manusia sebuta itu.

Bandung, 27 Juli 2019

Theofilus Richard

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s