Tentang Surga, Ancaman Neraka, dan Kemunafikan, Adakah Ketulusan?

Sumber gambar: Shutterstock

Bumi ini sudah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman ditinggali.

Padahal para manusia berujar mereka semakin dekat dengan Tuhan.

Seperti apa Surga dan Neraka untuk mereka?

Itukah alasan mereka dalam bertindak? Menghindari Neraka? Demi Allah?

Dasar munafik. You trade God for your satisfaction? You Sick.

Aku tidak pernah bilang bahwa aku dan pemikiranku adalah yang paling benar.

Tapi paling tidak ini membuatku nyaman.

Aku berusaha berbuat baik dan memperlakukan orang lain secara baik.

Untuk apa? Untuk Surga? Aku bukan munafik seperti mereka.

Aku berusaha menjadi baik karena aku peduli. Aku hanya ingin menunjukan kepada orang bahwa aku tulus. Aku tidak terbebani Surga dan Neraka.

Mereka selalu berpikir mereka berjalan menuju arah lebih baik. Apa katanya? Hijrah?

Kemudian mengunggah ayat dan khotbah di media sosial? Memamerkan ritual yang dijalani dan menyebutnya sebagai ‘melakukan semua demi Allah’

Bukankah Tuhan melihat dari tempat yang tersembunyi dan membalas dari tempat yang tersembunyi?

Mereka seperti orang farisi yang berdoa di sudut-sudut jalan, di tengah keramaian, agar mereka dilihat. Kini dunia maya menjadi tempat para farisi.

Mereka yang baik bukan lagi mereka yang tulus, tapi orang yang mengatakan ‘Sungguh aku melakukan ini demi Allah’.

Hypocrite.

Mereka melakukan itu karena takut akan neraka. Mereka berusaha menghindari Neraka.

Lihatlah bagaimana mereka mengucapkan “Kalau melakukan ini akan masuk neraka, maka sebaiknya tidak dilakukan,”

Lalu bagaimana jika neraka tidak ada? Tentu mereka tidak ada lagi perbuatan baik yang mereka lakukan. Iya bukan?

Ketulusan hilang. Karena itulah kubilang, dunia ini sudah tidak nyaman ditinggali. Mereka yang mengaku ‘berhijrah’ berakhir menyakiti orang lain dengan alasan “Aku tidak bisa melakukannya, karena demi Allah. Aku tidak ingin masuk neraka,”

Tapi ia menyakiti dan melukai perasaan orang lain. Tidak ada yang lebih sakit dibanding ditinggalkan dan direndahkan orang yang dianggap peduli dan penting bagi kita.

Aku? Aku tidak peduli. Aku akan memperlakukan orang secara baik karena aku peduli.  Bukan untuk menghindari neraka.

Aku hanya bisa pastikan bahwa aku ingin menjadi orang yang tulus dan bertanggung jawab.

“Lalu apa yang menjadi kompasmu melakukan itu semua jika tidak berpegang pada kitab?” katanya

Jangan salah. Aku belajar agama. Hanya, aku tidak ingin lagi ditakuti oleh neraka. Aku hanya ingin nyaman menjadi diriku dan membuat orang nyaman dengan keberadaanku di sekitarnya.

“Bagaimana jika kau masuk neraka? Kau pasti menyesal?”

Entahlah. Aku hanya pasrah. Ketika masuk neraka, setidaknya kita semua tahu, neraka tidak hanya diisi orang jahat. Ternyata Tuhan juga bisa mengirim orang yang berusaha tulus ke neraka. No offense.

Lalu apakah surga akan diisi oleh orang munafik dan farisi online? Atau orang yang bilang bahwa pemaksaan hubungan seksual dalam pernikahan adalah diperbolehkan oleh agama, akan masuk surga?

Entahlah. Aku tidak ingin memikirkan Surga dan Neraka. Seperti yang aku bilang. Aku hanya berusaha berbuat baik dan tulus selama aku hidup. Biar Tuhan yang menolongku nanti.

Theofilus Richard

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s