Tidak Menarik Lagi

Photo by mwangi gatheca on Unsplash

Terlalu malu untuk minta tolong

Terlalu gengsi untuk mengatakan ‘aku lemah’

Tapi kehidupan sudah tidak tampak menarik lagi

Hidup pun seperti enggan bertemuku.

Hidup seperti seseorang yang terpaksa melihatku saat terbangun di pagi hari.

Ia tidak bisa mengusirku tapi enggan menyapaku dengan senyum manis.

Sebisaku memperlakukan kehidupan dengan baik, semakin sakit kudapat

 

Mereka yang memiliki niat buruk justru bisa menikmati hidup, selalu mendapat hal baik

Semakin ku memikirkannya, semakin ku tidak tertarik dengan hidup.

 

Orang begitu saja berujar manis, kemudian mengingkarinya

Saat aku berusaha menjaga janji dan sikapku, orang membuangnya dengan mudah

Kemudian, tebak siapa yang mendapat nasib buruk? Yang pasti bukan mereka

 

Aku berjalan sendiri, aku bertarung sendiri.

Tidak ada yang peduli.

 

Aku membutuhkan perhatian? Itu jelas!

Kemudian, yang kudapat hanya makian sebelum meninggalkanku. Itulah yang kau lakukan pada seorang yang benar membutuhkan perhatian.

 

Orang yang selalu melempar kata mutiara dan motivasi di pagi hari hanyalah jalang

Mereka bisa berkata manis karena mereka mendapat nikmat setelah memperlakukan orang dengan buruk.

Semakin ku berjalan, semakin banyak orang yang membuatku muak, termasuk orang yang membuatku menaruh perhatian. Ku muak.

 

Aku hanya ingin memperlakukan orang dengan baik. Tetapi semakin kulakukan semakin ku diinjak.

Saat ku butuh seseorang yang baru datang dalam hidupku, aku tidak boleh mengungkapkannya.

Jika kuungkapkan, dia akan berlari menjauhiku. Lebih baik kubiarkan dia pada jarak yang sama seperti sekarang. Karena aku benci menjadi orang yang dibenci.

 

Pagi ini sama saja. Hanya matahari yang menyorot dengan silau dan panas.

Langkahku tetap saja dalam bayang yang gelap. Tidak bisa kunikmati lagi. Mungkin aku memang tidak memiliki hak yang sama dengan orang lain untuk bahagia.

Kemudian ketika ku membalikan badan dan berlari menuju kamar untuk menangis, tapi tidak bisa. Tidak setitikpun air mata keluar.

Bahkan Tuhan tidak mengizinkanku menangis.

 

Saat ku tidak tertarik lagi pada kehidupan ini, Apakah Dia mengizinkanku pergi? Atau belum saatnya?

Aku tidak mau melakukannya sendiri. Aku butuh bantuan.

Penulis,

Bandung, 27 September 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s