Belajar dari Kasus Meiliana, Protes Volume Masjid yang Dibalas Pengerusakan Tempat Ibadah

sumber : Kompas.com

Beberapa waktu lalu Indonesia dihebohkan dengan kasus penistaan agama yang dilakukan Meiliana. Kasus ini berjalan selama dua tahun dan akhirnya menjatuhkan vonis bersalah pada Meiliana yang. Wanita keturunan Tionghoa ini pun harus dihukum penjara selama satu tahun enam bulan.

Beberapa orang terang-terangan menyatakan bahwa hukuman itu terlalu ringan untuk Meiliana.

Kasus ini bermula dari Meiliana yang merasa keberatan dengan volume suara toa masjid yang dianggap terlalu keras. Sebagai warga yang tinggal bersama, Meiliana pun menyatakan keberatannya. Sayangnya pernyataan Meiliana ini ditanggapi berbeda oleh warga sekitar yang mendengar pernyataan Meiliana secara tidak langsung.

Pihak kepolisian dan Camat Tanjung Balai sebenarnya sudah berupaya mengadakan mediasi, tetapi beberapa orang memilih jalannya sendiri untuk menjadi hakim jalanan. Mereka yang tersulut emosi mendatangi rumah Meiliana dan merusak rumahnya.

Tidak cukup sampai di situ, mereka kembali merusak vihara dan kelenteng. Menurut catatan dari beberapa media, terdapat tiga vihara dan delapan kelenteng dirusak oleh massa yang emosi.

Setelah vonis Meiliana dibacakan, Meiliana tampak lesu, sementara massa yang tersulut emosinya, yaitu pihak yang merasa agamanya dinistakan justru memprotes hakim. Mereka memprotes karena menganggap hukuman Meiliana terlalu ringan.

Ada tiga fakta yang didapat dari cerita ini.

  1. Orang yang memrotes volume toa masjid divonis bersalah menista agama.
  2. Massa yang MERUSAK RUMAH IBADAH vihara dan kelenteng, DIBIARKAN BEBAS begitu saja. Bahkan masih bertingkah dengan memrotes jumlah hukuman Meiliana.
  3. Massa yang merasa agamanya dinistakan main hakim sendiri.

Jika tindakan kekerasa merusak ibadah didasarkan pada agama, apakah mereka masih menyembah Tuhan? Atau hanya menyembah ritual agar dianggap suci?

Apa yang dirasakan Meiliana sebenarnya dirasakan banyak orang di Indonesia. Hanya saja Meiliana menjadi satu di antara contoh orang yang berani bersuara, walaupun akhirnya mendapat tanggapan yang salah dari banyak orang.

Di beberapa tempat, masjid dipasang pengeras suara yang bervolume sangat kencang. Meski yang dilantunkan adalah doa, tetapi bila volumenya tidak diatur, maka tentu akan mengganggu kenyamanan warga sekitar. Banyak yang tahu, tetapi diam saja, karena mereka takut.

Orang minoritas takut memprotes karena takut dikira anti Islam dan intoleran. Setelah itu, dampak yang mereka takutkan adalah dikucilkan, diusir, atau malah rumahnya dirusak. Beberapa orang Islam yang mau protes pun mungkin takut, karena takut dianggap kurang iman, tidak taat, dan lain-lain.

Selain volume yang keras, terkadang pengeras suara masjid pun digunakan untuk kepentingan di luar adzan.

Pengalaman penulis pribadi, toa masjid kerap digunakan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu. Saya sediri pernah mendengar toa masjid digunakan untuk rapat. Mungkin itu rapat pengurus masjid atau DKM. Dalam rapat yang berlangsung sekira 90 menit itu, mereka membahas soal uang kas, kegiatan masjid, dan lain-lain. Tentunya, dengan volume yang membuat warga sekitar tidak nyaman.

Sampai manakah batas ketidaknyamanan itu? Sebagai gambaran, suara televisi di dalam rumah pun tidak terdengar, padahal  volume televisi sudah ditingkatkan dari biasanya. Sekali lagi, antara malas dan takut, akhirnya saya mendiamkan saja. Saya berusaha tidur sampai rapat mereka selesai.

Selesai sampai di situ? Tidak.

Pada Bulan Ramadan, sudah lumrah, para remaja masjid membimbing adik-adiknya belajar mengaji dalam sebuah kelas yang digelar di masjid. Saya pribadi mengapresiasi karena para remaja tersebut bisa mengisi puasa dengan kegiatan positif daripada hanya tidur, ghibah, atau melamun menunggu adzan.

Tetapi perlukah, kegiatan tersebut disuarakan melalui toa masjid. Dari balik kamar, saya bisa mendengar jelas, bagaimana para remaja masjid mengatur anak-anak supaya bisa duduk rapi. Terkadang saya mendengar suara tawa mereka saat melakukan ice breaking. Acara dimulai dari perkenalan sampai pengenalan mengaji yang paling dasar terdengar sampai telinga saya yang masih berada di dalam kamar. Lagi-lagi volumenya pun terlalu keras.

Apa yang saya lakukan ? Lagi-lagi saya akui, saya takut memprotes dan memilih berusaha tidur.

Jika Anda berpendapat bahwa di lingkungan Anda adem ayem dan kelompok minoritas hidup damai. Pastikan dulu, apakah memang benar begitu? Atau mereka hanya ketakutan bersuara?

Menurut saya, ada dua pendekatan untuk membuat orang lain terlihat adem. Pertama, saling memahami dan terbuka. Kedua, memberikan rasa takut untuk mengendalikan  orang lain.

Melihat kasus Meiliana, saya berpendapat bahwa masyarakat Indonesia masih kurang dewasa dalam beragama. Menuhankan simbol-simbol di atas kehidupan bersama, menjadi PR kita semua.

Bagimana menyebarkan kasih dalam beragama jika kekerasan masih kita benarkan ‘atas nama agama’ ?

Sebenarnya, menurut saya, dalam kasus Meiliana, kesalahan terdapat dalam komunikasi. Ada kesalahpahaman antara Meiliana dengan warga sekitar. Ketika Meiliana keberatan dengan volume toa masjid, warga mengira Meiliana melarang adzan berkumandang dan melarang umat Muslim beribadah (mungkin).

Tetapi hal itu juga tidak bisa dibenarkan jika pada akhirnya warga merusak rumah, vihara, dan kelenteng.

Kesimpulannya, dari 73 tahun negara ini merdeka, kita masih harus belajar mengenai toleransi dan kehidupan yang saling membuat nyaman bagi mayoritas dan minoritas. Mengenai toleransi, masyarakat tampaknya masih belum berkembang  dari puluhan tahun silam.

Tidak ada salah saling mengerti mereka yang berbeda agama, etnis, golongan, pilihan politik, atau pendapat. Selama kita tidak bisa benar-benar saling mengerti dan memahami, intoleransi masih tetap ada turun menurun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s