Obat (Part 1)

Photo by Warren Wong on Unsplash

Aku terbiasa sendiri. Sampai melakukan semuanya sendiri. Wanita selalu membuatku sakit. Lukanya tidak pernah sembuh.

Pria lainnya berlari dari satu wanita ke wanita lain. Ketika mereka sakit, wanita lain menyembuhkan, kemudian ketika wanita itu menyebabkan sakit, mereka berlari ke wanita lain yang menyembuhkan.

Aku tidak seperti itu. Aku hanya berlari dari satu cerita patah hati ke cerita patah hati lainnya. Dari satu penyakit ke penyakit lainnya. Penyakit sebelumnya tidak pernah diobati. Dibiarkan mengendap, membusuk, dan berharap bisa hilang begitu saja.

Mungkin lebih mudah jika aku menjadi homoseksual. Tapi tidak bisa. Aku tidak tertarik pada laki-laki. Membayangkannya saja membuatku geli.

Setiap bertemu wanita, jantungku masih berdebar. Hatiku masih meletup-letup ketika bertemu wanita.Terkadang bibirku membeku, kemudian aku membiarkan wajahnya terbayang dalam benakku. Hingga aku ingin menutup hari, wajahnya masih muncul. Ini misterius.

Aku masih menyukai wanita, sekalipun aku tahu ia akan menyakitiku. Aku lelah. Sampai kapan begini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s