13 Reasons Why dan Glorifikasi Bunuh Diri

sumber foto : Netflix

 

Serial Netflix yang berjudul ’13 Reasons Why’ pasti sudah tidak asing didengar di telinga bukan? Serial yang bercerita mengenai 13 alasan seorang gadis bernama Hannah Baker bunuh diri di kamar mandi menjadi salah satu serial Netflix yang sangat populer dan ditonton banyak orang di berbagai belahan dunia. Karena serial ini, nama aktor dan aktris yang berperan, semisal Katherine Langford dan Dylan Minnette pun menjadi populer.

Tetapi Serial ini juga menjadi salah satu serial yang kontroversi. Banyak adegan dalam serial ini menampilkan kekerasan, bullying, dan pelecehan seksual, melalui visualisasi yang gamblang (tetapi tetap sesuai etika), sehingga ditakutkan akan berdampak buruk bagi penonton kalangan remaja.

Serial ini juga dinilai kontroversi, karena banyak kalangan menyebut serial ini sebagai glorifikasi bunuh diri.

sumber gambar : Netflix

Seperti yang telah diketahui, Hannah Baker, sebagai karakter utama di film tersebut, bunuh diri dan ia meninggalkan 13 kaset tape yang berisi alasan kenapa ia bunuh diri.

Dilaporkan beberapa kasus bunuh diri terjadi di kalangan remaja setelah menonton serial yang diangkat dari buku berjudul sama karangan Jay Asher tersebut.

Pada Juli 2017, dua remaja bernama Belle dan Priscilla, ditemukan tewas bunuh diri. Orang tua Belle dan paman Priscilla, menyebut kedua remaja tersebut bunuh diri setelah menonton 13 Reasons Why. Mereka juga mengatakan bahwa serial tersebut seakan memberi petunjuk mengenai cara bunuh diri jika hidup terasa berat dan sudah tidak sanggup menahan stres.

Sebulan sebelumnya, Juni 2017, seorang pria bernama Franco Alonso Lazo Medrano, ditemukan tewas bunuh diri dengan cara yang sama yang dilakukan Hannah Baker di serial 13 Reasons Why, yaitu dengan menyayat urat di lengannya. Tidak berhenti di situ, Franco juga meninggalkan kaset tape dan dua pucuk surat. Satu surat ditujukan untuk seorang perempuan bernama Claudia, dan satu surat berisi instruksi penggunaan kaset tape dan siapa saja yang harus mendapat kaset tersebut. Percis sama seperti yang dilakukan Hannah Baker.

Creepy? Yes.

Karena munculnya kasus tersebut lah kenapa ’13 Reasons Why’ disebut sebagai serial yang mengglorifikasi bunuh diri. Banyak juga orang tua yang memrotes Netflix karena memproduksi serial ini. Tetapi apakah benar serial ini mengglorifikasi bunuh diri?

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, glorifikasi adalah proses, cara, perbuatan meluhurkan, memuliakan dan sebagainya. Glorifikasi bunuh diri berarti proses atau cara, perbuatan yang meluhurkan tindakan bunuh diri.

Tetapi rasanya kurang tepat jika serial 13 Reasons Why ini disebut sebagai glorifikasi bunuh diri, karena fokus cerita ini justru ingin membuka isu-isu yang selama ini jarang dibuka ke publik, semisal pelecehan, bullying, dan lain-lain. Melalui ’13 Reasons Why’ diharapkan orang banyak sadar bahwa isu-isu tersebut memiliki dampak besar terhadap orang. Hanya karena lingkungan sekitar korban bunuh diri tidak peka, bukan berarti mereka dapat menyalahkan serial ini begitu saja.

Kepekaan terhadap stres

 Stres dan depresi tidak hanya dialami oleh orang dewasa yang sudah memiliki beragam kesibukan, tetapi anak usia sekolah juga bisa depresi. Tekanan sosial bisa terjadi pada siapa saja. Masalahnya, kekuatan psikologis seseorang berbeda-beda, ditambah lagi pengalaman atau masa lalu setiap orang berbeda, sehingga itu bisa mempengaruhi cara berpikir dan mental seseorang (menurut saya).

Jika melihat serial ini secara keseluruhan, kita akan tahu pesan mendalam yang ada di serial ini. Topik bullying dan pelecehan menjadi sangat sensitif jika dibicarakan ke publik, terutama bagi korban dan pelaku. Biasanya pelaku ingin lari dari masalah ini untuk mencegah hal buruk yang akan terjadi pada karir atau masa depannya. Sedangkan korban merasa malu dan takut untuk mengungkapkan hal ini. Sehingga ketika korban memendam luka ini, akan berujung luka pada mentalnya.

Dalam serial ini, kita akan melihat Hannah seakan tidak tahu harus menceritakan masalahnya kepada siapa. Orang-orang di sekitarnya pun memiliki masalah berbeda. Hannah memahami bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya dan masalahnya saja, karena itulah ia seakan sulit menemukan solusi dan jalan keluar dari ‘penyakit mental’ yang dialami. Ia sakit secara psikologis. Bahkan ketika menceritakan masalahnya pada konselor di sekolah, sang konselor malah menyuruh Hannah untuk ‘move-on’ alias melupakan masalah yang terjadi.

Garis besarnya di sini adalah ketika orang sekitar Hannah, gagal memahami Hannah dan mengira masalah yang dihadapi orang lain sepele. Ketika itu, stres dalam kepala Hannah semakin bertambah dan merasa bahwa ia tidak dicintai, dan keberadaannya sudah tidak diinginkan di dunia ini lagi.

Tidak ada lagi orang yang mendengarkan Hannah.

“Jika tidak ada yang mau mendengarkanku saat hidup, mungkin mereka akan mendengarkanku saat mati,” kira-kira itulah yang dipikirkan Hannah sebelum bunuh diri.

Ternyata, benar saja, semua orang mendengarkan rekaman kaset  tape yang dibuat Hannah. Di saat seperti inilah, baru orang lain menganggap masalah Hannah menjadi penting.

sumber gambar : Magical Quote

Pesan yang terkandung dalam serial ini, tentu kita harus mencegah orang lain melakukan apa yang dilakukan Hannah. Serial ini seharusnya memacu orang untuk lebih peduli dengan orang di sekitarnya. Jangan pernah berpikiran bahwa orang stres hanya mencari perhatian. Terkadang mereka hanya perlu didengarkan dan berbicara.

“It is easier when you start to talk,”

Jika seseorang mengajak Anda berbicara serius, terutama jika dia adalah seorang teman yang menganggap keberadaan Anda sangat penting, layani dia. Jangan menaruh curiga padanya dan tetap dengarkan dia.

Terkadang orang tidak menyadari bahwa orang lain membutuhkan untuk didengarkan. Banyak orang mengaggap ‘Ah paling masalah ga penting,’ atau ‘Apaan sih nih orang. Malesin banget’. Jika Anda berpikiran seperti itu, Anda selangkah lebih dekat menjadi ‘pembunuh’.

Mungkin ia tidak langsung menceritakan masalahnya, tetapi keberadaan Anda bersama dia mungkin akan membuat dirinya sedikit terobati. Terkadang seseorang tidak langsung mengutarakan masalah, ia hanya ingin mengalihkan perhatiannya dengan berbicara atau menghabiskan waktu bersama orang yang ia anggap peduli, yang ia sayang, atau orang terdekat.

Menurut penulis, itulah yang ingin disampaikan oleh ’13 Reasons Why’. Jangan menyalahkan ’13 Reasons Why’ karena ketidakmampuan Anda memahami masalah dan seberapa stres orang di sekitar Anda.

Kesimpulannya, serial ‘13 Reasons Why’ adalah serial yang mengangkat isu yang biasa terjadi di kehidupan tetapi jarang dibicarakan karena dianggap sensitif. Karena dampak luar biasa pada isu tersebut, ‘13 Reasons Why’ ingin menampilkan dampak yang terjadi jika sebuah masalah dan tekanan sosial terus dibiarkan.

“Because when you start to talk, it gets easier,”

Sekali lagi, serial ini tidak ada hubungannya dengan glorifikasi bunuh diri. Orang yang mengatakan hal itu, berarti gagal paham dengan garis besar cerita yang ditampilkan ‘13 Reasons Why’.

Peristiwa bunuh diri bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja. Itu adalah keputusan individu seseorang, tidak peduli apa yang dilalui dan apa yang ditontonnya. Banyak orang mengatakan bahwa bunuh diri adalah kebodohan yang dilakukan orang itu sendiri. Banyak yang menganggap bahwa masalah yang dihadapi korban bunuh diri hanya sepele, dan menganggap masalah yang dihadapi dirinya lebih berat.

Tetapi orang sering kali tidak sadar, seberapa tekanan dalam diri seseorang, kesehatan mental, dan tekanan sosial yang didapat seseorang. Oleh karena itu, orang yang masih hidup hanya bisa berusaha berbicara dan mencegah tingkat stres seseorang meningkat.

Bagi Anda yang merasa stres, merasa worthless, atau merasa tidak dicintai, segeralah berbicara dengan orang terdekat yang Anda percaya. Jika mereka tidak bisa Anda ajak bicara, segera lari ke konsultan profesional. Mungkin masalah belum akan selesai dengan bercerita, tetapi beban Anda akan sedikit lebih ringan.

sumber gambar : Quote Saga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s