Koma

Photo by Ian Espinosa on Unsplash

Konon orang yang sedang koma sedang menjalani fase di antara hidup dan mati. Di masa ini, arwah atau roh tidak berada dalam tubuhnya. Roh dapat berjalan-jalan ke manapun menunggu dokter bisa menyelematkan fisiknya atau menunggu hingga jantung tidak berfungsi kembali. Jantung seperti genset yang dapat berdetak sendiri hingga waktu tertentu. Saat jantung berhenti, arwah pun akan pergi ke dunia lain.

Saat sedang koma, roh kita akan bertemu malaikat maut yang berusaha menjemput kita meninggalkan dunia, meskipun ada harapan bagi kita untuk hidup. Nenekku yang menceritakan mitos itu padaku. Aku tidak pernah percaya cerita itu, sampai akhirnya kualami sendiri.

Namaku adalah Tristan, seorang wartawan biasa di sebuah media online, tanpa prestasi gemilang. Aku terbiasa meliput kegiatan pemerintahan, politik, dan isu-isu di Kota Bandung. Tidak ada yang spesial dari berita yang kubuat, semuanya hanya berita biasa yang dibaca orang, kemudian berlalu.

Pekerjaan ini membuatku harus bergerak aktif dari satu titik ke titik lainnya. Mengetik cepat melalui layar ponsel pintar, kemudian berpindah lokasi sudah menjadi makanan sehari-hari. Pekerjaan ini melelahkan, tapi aku bersyukur memiliki profesi terhormat ini.

Kuakui hari ini aku sedang galau. Di tengah kesibukan, aku juga seorang manusia biasa. Aku jatuh cinta dengan rekan seprofesi. Sering bertemu di lapangan membuatku terbiasa melakukan banyak hal bersama. Namanya Wanda, biasanya aku panggil dia Mbak Wanda karena usianya lebih tua. Terkadang kami makan bersama, mengopi bersama, bahkan terkadang di luar aktivitas pekerjaan kami sering mengobrol dan menghabiskan waktu bersama.

Mbak Wanda, adalah seorang terkadang sangat jutek. Tetapi itu tidak dapat menyembunyikan wajah manisnya. Kulitnya sawo matang, dan rumbutnya ditutupi oleh kerudung. Perawakannya tidak terlalu tinggi, kutaksir tinggi badannya hanya sekira 165cm. Tentu ia terlihat sangat pendek jika bersebelahan denganku yang tingginya 185cm.

Semua terasa biasa, karena awalnya dia adalah orang yang kuhindari. Selain karena sifatnya yang jutek, agama kami juga beda, dan usianya terpaut jauh denganku. Kami berbeda usia 10 tahun dan dia berstatus janda. Meski sangat jutek, di dalam itu, dia adalah seorang wanita lembut yang juga butuh perhatian. Dia cukup terbuka denganku, dan kami saling berbagi cerita.

Tetapi belakangan dia berubah. Seakan menjaga jarak denganku. Dia juga tidak pernah menghubungiku, bahkan untuk sekedar basa-basi pun tidak pernah lagi. Ketika bertemu di lokasi peliputan pun, dia tidak menegurku sama sekali. Entah kenapa dia menjadi sangat jauh denganku.Perubahan sifatnya mengganggu pikiranku.

“Kamu ngikutin aku terus?” katanya ketika kusapa dan kucoba ajak berbasa-basi saat bertemu di lokasi peliputan.

“Aku cuman pengen ngobrol,” kataku kemudian yang tidak didengarkannya.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi peliputan di Balai Kota Bandung, aku memikirkan dua beban. Beban tambahan pekerjaan yang dilimpahkan padaku dan pikiran mengenai Wanda.

Di simpang empat Jalan Gatot Subroto, aku hendak berbelok ke arah kanan menuju Jalan Laswi. Ketika lampu merah baru saja berubah menjadi hijau, aku langsung memacu sepeda motorku. Tetapi tanpa sadar, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kiri, yaitu Jalan BKR menuju Jalan Gatot Subroto. Mobil itu bermaksud mengejar lampu hijau yang baru saja berubah menjadi merah, tetapi ternyata ia terlambat. Bersamaan dengan keterlambatan itu, ia pun menabrak sepeda motorku. Aku terlempar beberapa meter dari sepeda motorku.Aku langsung tidak sadarkan diri.

Kemudian, aku terbangun di sebuah rumah sakit. Aku tidak merasakan sakit di tubuhku, kemudian aku bangkit dan bermaksud menanyakan kepada dokter jika aku baik saja dan apakah aku sudah boleh pulang atau belum. Mataku terbelalak, ketika aku turun dari ranjang, melihat ke arah ranjang tempatku berbaring. Ragaku ada di situ.

Jubah putih menutupi tubuhku dari leher hingga kaki. Ada ikat seperti tali tambang warna emas di pinggangku. Aku masih bingung, pakaian apa yang kupakai dan mengapa aku melihat tubuhku sendiri terbaring di atas tempat tidur, lengkap dengan infus dan alat bantu pernapasan. Apakah ini sekedar mimpi? Lalu, siapakah aku?

“Hei, kau koma juga ya?” ujar seorang perempuan yang tiba-tiba mengajakku berbicara. Perempuan itu memiliki kulit putih dengan rambut berwarna hitam sebahu. Sama sepertiku, dia juga mengenakan jubah warna putih lengkap dengan ikat seperti tali tambang warna emas di pinggangnya.

“Siapa kau?” tanyaku kaget.

“Hai, aku Putri. Aku juga sedang koma. Aku sudah koma sejak pagi ini. Kamarku ada di lantai atas,” ujarnya santai.

“Huh? Koma?” tanyaku masih heran.

“Ya, sudah sewajarnya, roh dari orang yang sedang koma bisa berjalan-jalan. Menunggu kondisi tubuh kita, apakah akan membaik atau memburuk. Jika memburuk, kita harus pergi dari dunia ini. Jika membaik, kita punya pilihan untuk kembali hidup,” ujarnya.

“Bagaimana kau tahu itu?” kataku.

“Aku sudah koma terlebih dulu, beberapa roh memberitahuku soal itu, kau tidak perlu kaget,” ujarnya.

Kemudian, Putri mengajakku berjalan-jalan. Kami seperti manusia biasa, bedanya kami bisa melihat roh dan kami tidak bisa dilihat manusia biasa. Saat berjalan ke luar kamar rawat, aku melihat beberapa anggota keluargaku datang. Mereka tampak khawatir melihat kondisiku. Kemudian, aku melihat beberapa temanku juga datang.

“Tidak ada yang bisa kau lakukan, selain menunggu,” kata Putri.

Kemudian ia mengajakku berkeliling Kota Bandung sambil berbincang. Ada yang lupa kuberitahu, roh tidak seperti hantu yang bisa menembus dinding. Kami seperti manusia biasa, hanya saja kami tidak terlihat. Kami memang bisa terbang karena kami tidak terikat hukum gravitasi, tapi tetap saja, kami tidak bisa menembus dinding seperti para hantu, karena kami memang bukan hantu.

Di atap sebuah gedung tertinggi di Bandung, kami duduk sambil berbincang soal kehidupan kami masing-masing.

“Aku berharap Mbak Wanda menyempatkan diri untuk datang menjengukku,” kataku.

“Kenapa? Apakah dia pacarmu?”

“Bukan. Tapi terkadang dia terlihat peduli padaku, terkadang tidak mempedulikanku. Aku sayang padanya. Dia yang membuatku sadar jika kehidupanku bukan hanya rutinitas pekerjaan saja,” ujarku.

“Pasti banyak kenangan bersamanya?” tanya Putri.

“Tidak juga. Tapi beberapa kali kami menghabiskan waktu bersama, hanya sekedar untuk makan bersama atau mengopi di sebuah cafe. Kami terkadang chating melalui hape kami. Bahkan saat ia sulit tertidur atau ada masalah, ia bagikan cerita itu padaku. Itulah kenapa aku suka padanya,” kataku.

“Mungkin dia hanya ingin perhatianmu sesaat. Ketika dia  sudah mendapat perhatian dari yang lain, dia akan lupa dengan dirimu,” kata Putri.

“Bisa jadi. Tapi, aku hanya butuh bersamanya di sisinya,” kataku.

“Lebih baik lepaskan saja bebanmu itu. Sebentar lagi, kita akan ke Surga. Di sana tidak ada beban. Aku ingin segera menuju ke sana,” kata Putri.

“Aku masih ingin hidup,” ujarku.

Kemudian aku kembali ke rumah sakit. Sejujurnya, aku menunggu kedatangan Mbak Wanda. Tetapi hari ini ia tidak kunjung datang. Begitu pula keesokannya, hingga tiga hari setelah aku koma, ia tetap tidak datang.

Malam ketiga, aku berjalan sendiri. Di satu sisi aku senang, keluarga dan sahabat-sahabatku masih peduli keberadaanku. Tapi, Mbak Wanda? Memang dia sudah tidak peduli denganku. Di bawah sebuah pohon  besar di dekat rumah sakit, aku duduk, aku melihat kuntilanak menatap mataku. “Hei, aku bukan manusia, aku roh, jadi aku tidak takut padamu, Kunti!” ujarku.

“Aku tidak sedang menakutmu nak, aku hanya memandangimu. Kulihat kemarin kau sedang berjalan bersama seorang roh perempuan juga,” kata Kuntilanak yang mencoba mengajakku mengobrol.

“Iya, Putri namanya, dia roh juga,” kataku. Tidak lama kemudian, muncul Putri di depan berjalan ke arahku. Kemudian Kuntilanak itu pun melihat ke arah Putri.

“Hati-hati Nak, di bukan roh,” ujarnya yang kemudian menghilang. Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi karena yang pikiranku fokus pada Mbak Wanda, aku tidak mempedulikan perkataan Kuntilanak itu.

Kemudian aku meninggalkan Putri. “Hei, kau mau kemana, Tristan?” tanyanya.

“Mencari Mbak Wanda,” kataku.

Kemudian aku pun mencari Mbak Wanda. Setahuku, malam ini ada sebuah event yang digelar di Balai Kota. Pasti Mbak Wanda datang ke sana untuk meliput. Ternyata benar saja dugaanku. Dia ada di sana. Kulihat ia sedang mengendarai motornya menuju gerbang keluar Balai Kota. Sepertinya acaranya sudah selesai, dan dia pasti mau pulang. Aku mengikutinya, tepatnya aku berada kursi penumpang sepeda motornya.

Setiba di rumahnya, aku mengikuti masuk ke dalam. Dia duduk di sofa, aku melihatnya, memeriksa pesan masuk di aplikasi pesan singkat miliknya. Beberapa pesan ia kirimkan untuk rekan kerja, beberapa grup, dan beberapa pria yang tidak kukenali. Sesekali ia terlihat tersenyum sambil membalas pesan itu. Aku sambil berpikir, apakah dia tidak mengingatku sama sekali?

Malam ini aku menginap di rumahnya. Jika aku keluar sekarang tentu akan menakutinya. Pintu yang sudah dikuncinya tetiba terbuka, pasti akan membuatnya ketakutan.

Keesokan harinya, aku mengikutinya pergi. Setelah liputan di Balai Kota, ia pergi ke suatu tempat, cafe. Ia terlihat bertemu dengan seorang pria. Pria itu nampak lebih muda darinya. Senyum dan tawa hadir saat perbincangan itu. Sekali lagi aku bertanya, apakah dia tidak mengingatku sama sekali? Apakah dia benci padaku? Ataukah karena agama dan usia yang berbeda? Kemudian aku memutuskan pergi dari tempat itu, dan menuju rumah sakit.

“Kurasa aku siap pergi,” ujarku kepada Putri.

“Baiklah, sekarang kita tinggal tunggu saja malaikat maut menjemput,” ujarnya singkat.

Tulang selangka kanan dan retak di tengkorak yang cedera akibat kecelakaan sudah dioperasi. Dokter mengatakan, kondisi tubuhku membaik. Sehingga masih ada harapanku untuk tetap hidup. Artinya aku punya pilihan.

Hingga malam keenam aku koma, Mbak Wanda tetap tidak datang. Mungkin lebih baik aku pergi mengikuti Putri. Di akhirat sana tidak ada yang terbebani olehku, aku juga tidak akan memiliki beban.

“Ayo, pergi saja dari sini!” kata Putri.

Kemudian, tetiba, dari pintu kamar rawatku, seorang dengan kerudung warna biru muda dan masih mengenakan pakaian dinas lapangannya yang berwarna abu masuk ke dalam kamar rawatku. Saat itu, jarum jam menunjukan pukul 21.00 WIB. Orangtua ku pun sudah pulang, dan di sana hanya ada Mbak Wanda seorang diri.

Ia menghela nafas sejenak di ujung tempat tidurku. Kemudian berjalan perlahan ke samping ranjangku. Ia mengambil kursi dan duduk di samping ranjangku. Aku tidak bisa menebak ekspresinya. Hanya saja ia masih memandang mataku yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit.

Aku cukup senang ia datang. Aku merasa keberadaanku masih dianggap dalam hidupnya. Ya, begitu menyedihkannya aku yang membutuhkan perhatian dari seorang wanita. Aku yang berupa roh berdiri di sampingnya. Kemudian kurendahkan tubuhku, agar aku bisa memeluknya. Tentu dia tidak akan mengetahuinya. Aku hanyalah roh.

Kemudian dia menyenderkan kepalanya di kasurku. Apakah ini hanya sekedar formalitas belaka agar ia bisa mengklaim dirinya sudah menjengukku di rumah sakit? Atau kah dia memang peduli padaku?

“Ayo!” Putri berseru lagi.

Aku melihat Mbak Wanda, kemudian aku melihat Putri. Kemudian aku merasa ada yang janggal.

Selama enam hari ini, aku merasa tidak pernah melihat kamar Putri. Putri juga tidak pernah menunjukan kamarnya. Justru dia yang sering menuju kamarku setiap hari.

Kejadian selama enam hari ini, mirip dengan cerita yang diceritakan nenekku saat aku masih kecil. Kecuali ada satu hal yang kurang. Lalu, aku berlari keluar kamar rawatku. Aku berlari meninggalkan Mbak Wanda dan Putri. Aku berlari menuju lantai atas.

Kemudian aku menuju meja resepsionis di lantai itu. Aku menyolek lengan seorang perawat yang menjaga buku daftar pasien di lantai tersebut. Sengaja aku menyolek untuk mengalihkan perhatiannya. Benar saja, kemudian dia ketakutan, dan segera berlari arah menuju rekan yang duduk tidak jauh darinya. Mungkin ia ingin memanggil rekannya dan membicarakan mengenai ‘colekan gaib dari hantu’. Kini tidak ada yang menjaga buku daftar pasien. Aku mencuri buku itu secara cepat. Aku berlari menuju kamar mandi yang tidak jauh dari meja resespsionis, agar tidak seorang melihat buku daftar pasien yang terbuka sendiri.

Aku melihat buku daftar pasien, ada tiga orang bernama Putri. Putri Selena, Citra Putri Lestari, dan Kusuma Putri Winarno. Kemudian, aku berlari dan meninggalkan buku daftar pasien itu. Aku sudah tidak peduli apa yang dipikirkan pegawai rumah sakit saat melihat buku daftar pasien itu tergeletak di kamar mandi. Aku langsung berlari menuju kamar Putri.

Kemudian aku periksa tiga kamar yang dihuni orang bernama Putri. Kuintip satu persatu kamar yang dihuni orang bernama Putri. Kubuka pintu itu pelan-pelan, agar tidak menarik perhatian orang. Beruntung, di malam hari suasana rumah sakit ini tampak sepi, hanya ada perawat yang berjaga di dekat meja respsionis.

Tidak ada satu pun di antara mereka memiliki wajah sama dengan Putri yang memberitahu bahwa aku sudah menjadi roh. Apakah Putri bukan nama aslinya? Kemudian aku periksa kamar yang lain. Tidak ada Putri. Kemudian aku mengingat perkataan Kuntilanak waktu itu yang kuanggap angin lalu, soal Putri, dia bukan roh.

“Ayo kita pergi,” tetiba Putri muncul di belakang punggungku.

“Pantas saja kau selalu mengajakku mengakhiri hidup ini. Ternyata kau malaikat maut,” kataku yakin.

Lalu, dia menghela nafas dan tersenyum. “Aku penasaran, bagaimana kau tahu?” tanyanya.

“Sudah waktunya aku tahu,” jawabku.

“Baiklah, karena kau sudah tahu. Aku ingin bicara denganmu,”

“Bicara apa?”

“Pertarunganmu sudah berakhir, ayo ikut denganku. Lagipula kau sudah bilang jika kau ingin mengakhiri semua sakit ini bukan?” ujarnya.

Kemudian aku berpikir sejenak. Aku memang pernah berpikir untuk mengakhiri rasa sakit ini. Melepas semua beban ini. Menghilangkan beban orang lain atas kehadiranku. Lalu, aku menatap mata Putri. Aku memberikannya jawaban.

Lalu, mataku terbuka dari lelap tidurku. Alat bantu pernapasan, masih terpasang di atas hidung dan mulutku. Infus masih terpasang di lengan kiriku. Di sisi kananku, Mbak Wanda menyilangkan tangannya di atas kasurku sebagai alas kepalanya yang bersender. Kulihat ia sedang tertidur. Ia masih mengenakan seragam kerjanya. Kupegang tangan kanannya, aku mencoba menggenggam tangan itu secara  perlahan. Kemudian, dia sepertinya terbangun.

Lalu, ia terlihat kaget. Kemudian ia segera memanggil perawat untuk datang. Perawat pun memanggil dokter jaga. Penanganan paska sadar dari koma sudah dilakukan kepadaku.

Keesokan harinya, dokter menceritakan apa yang terjadi padaku ke keluargaku. Mereka nampak senang karena aku sudah sadarkan diri. Dokter juga bilang kondisi tubuhku sangat baik. Tetapi tetap saja, aku harus menjalankan fisioterapi karena aku sempat koma. Aku masih harus dirawat beberapa hari lagi di rumah sakit untuk memulihkan kondisiku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri. Tapi setidaknya, aku senang karena Mbak Wanda datang. Aku sendiri masih tidak tahu apakah Mbak Wanda benar peduli padaku atau tidak. Mungkin ia hanya sekedar kasihan saja, atau merasa tidak enak belum menjengukku, ataukah saat itu ia sedang tidak mendapat perhatian dari orang lain dan merindukanku? Aku tidak tahu.

Tapi itulah hidup, semua yang berada di depan selalu menjadi misteri. Apapun yang terjadi selama aku koma, aku bersyukur, dapat kembali sadar dan melihat kehidupan ini.

–Selesai–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s