Maaf

Sumber foto : Pixabay

Maaf

Surat ini hanya untuk mengatakan sebuah permintaan maaf. Maaf jika aku jadi baper. Maaf jika aku menjadi terbawa suasana. Mungkin maksudmu tidak begitu, tapi maaf semua berubah sejak hati ini menjadi berdebar saat di sampingmu. Maaf semua berubah ketika aku mulai menghkhawatirkanmu.

Tapi bolehkah ku berkeluh jika semua ini kau yang memulai?

Pertama kali di rutinitas tanpa warna, sebuah pesan masuk mengingatkanku untuk sarapan.

Katakanlah itu basa basi.

Awalnya berubah sedikit dari jalur, ketika kau mengajak berbincang hal di luar pekerjaan.Tapi semua masih sama saja, kau hanya seorang wanita random bagiku saat itu.

Kemudian, kau mulai berkeluh kesah padaku. Pertama kau berkeluh tentang pekerjaanmu. Kau berkeluh tentang kantormu, dan kau berkeluh tentang apa yang terjadi antara kau dan rekan kerjamu.

Kemudian ku hanya merespon dengan candaan dan sedikit dorongan semangat.

Waktu berjalan dan kau semakin random. Kau melihat apa yang kukerjakan dan menanyakan apa yang kukerjakan. Saat itu semua masih normal, kau hanya teman yang sedang bercanda denganku.

Lalu, kau kembali bercerita. Kau mengeluhkan dirimu sendiri. Kau terbaring lemah di rumah karena sakit yang kau derita. Saat ini, aku mulai khawatir. Aku masih nyaman berada di zona sebelumnya, tetapi kepalaku seakan menyuruh untuk melakukan sesuatu.

Tapi seakan ada yang mencoba menahanku saat itu.

Jarum jam berdetak dan waktu berlalu. Kau kembali melemparkan obrolan mengenai keadaanmu. Aku khawatir, tapi seakan aku harus menahan melakukan sesuatu karena ada yang berbisik untuk tetap berada di ‘zona teman’ saja yang memberi dukungan padamu.

Kau pun kemudian memintaku menemani berbincang semalaman saja melalui aplikasi berbagi pesan.

Setelah waktu itu berlalu, tidak sadar jika aku menjadi terbiasa berbincang denganmu. Tetapi pikiran ‘Jangan baper!’ terus menggema di kepalaku, mengingatkanku untuk tidak menyebrang lebih jauh untuk lebih dekat denganmu.

Saat hari sepi, pesanmu selalu masuk ke dalam ponselku. Menjadi penghias hariku yang biasanya hanya diisi rutinitas saja. Seakan obrolan itu mengisi sedikit lubang hidupku yang lama kosong.

Saat kau tidak bisa tidur, kau kembali menghubungiku. Tidak banyak yang bisa kulakukan selain kembali menemanimu berbincang.

Saat aku libur, kau pun mengajakku kembali menyapaku, bahkan saat kau sedang sibuk. Di titik ini aku sudah terbiasa dengan sapaanmu. Perbincangan denganmu menjadi bagian dari keseharianku.

Beberapa kali saat aku libur, kau mulai menyapaku dan memulai obrolan. Kadang serius kadang bercanda. Tetapi aku senang, ada seseorang yang menganggap kebradaanku di luar rutinitas.

Di titik ini seakan aku disadarkan jika kehidupanku bukan hanya rutinitas pekerjaan, tetapi ada yang lain.

Kita saling bercerita kegiatan kita sehari-hari, pekerjaan atau nongkrong dimana aku bersama temanku malam hari ini.

Saat bertemu kau pun banyak bercerita. Aku yang pendiam masih menjadi pendengar setia. Tapi aku senang kau mulai terbuka. Kau menceritakan masa lalu ketika kau masih menganggap dirimu ‘berantakan’.

Aku ingin tidak peduli, tapi tidak bisa. Seakan aku ingin mengetahui masa lalumu. Bukan sekedar untuk mengoreknya, tapi aku ingin menerima masa lalumu dan masa ini sebagai bagian dari hidupku.

Kemudian dadaku menjadi lebih sesak. Saat kau melakukan hal yang tidak kusuka, entah kenapa rasanya aku marah, tapi aku tidak berhak melarangmu. Rasanya aku kesal dan sakit.

Ketika kamu lelah, entah kenapa ada dorongan untuk duduk di sampingmu, menunggumu menyenderkan kepala meski itu tidak terjadi.

Semua berubah ketika kau mengacuhkanku tetiba. Kamu yang biasanya mengajakku untuk makan siang atau menyeruput kopi bersama di saat sore, tetiba hilang.

Menuju penyepian sejenak katamu.

Tapi aku merasa ada yang beda. Kau seakan berjarak denganku.

Saat aku menyapamu dari jarak jauh, aku mengganggu privasi katamu.

Ketika kau kembali ke rumah, kau masih dengan duniamu sendiri. Tadinya kau yang juga ada dalam duniaku seakan menjadi bayang semu saja. Seakan menyiratkan apa yang terjadi sebelumnya hanyalah basa-basi. Aku bagimu hanya anak kecil yang berbasa-basi.

Aku ingin mengetahui kabarmu lagi. Aku bilang aku ingin bercerita. Lalu kau tanya kembali apa.

Sebuah pertanyaan jebakan, jika aku salah menjawab, maka aku tidak pernah bertemu lagi. Hari-hari saat menghabiskan sore bersama dan hari-hari saat kau minta aku menemanimu berbincang di malam hari tidak akan terulang.

Kau pun setuju saat aku mengajakmu menyeruput secangkir kopi di sore hari seperti sebelumnya.

Tapi kutunggu kabar darimu. Tidak ada.

Semoga bukan karena kau menghindariku. Hatiku tidak tenang.

Maaf, jika aku baper, maaf jika aku mencarimu.

 

Bandung, 20 Januari 2018

Penulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s