Apa Enaknya sih Kalau Satu Agama Terlihat Superior ?

sumber gambar : adhirajagutanyaho.blogspot.co.id

Belakangan ini isu SARA semakin banyak terjadi dan terlihat. Agama disangkutkan dengan politik dengan membawa isu penderitaan sebuah agama yang dirasakan sekelompok orang menjadi ‘tuan rumah tunggal’ di negeri ini, dimana isu itu hanya fana. Isu itu hanya bayangan sebuah kejadian yang tidak merefleksikan wajah negeri ini.

Di satu sudut, sebuah gedung besar dipadati ribuan umat untuk melihat ‘sang doktor’ lengkap dengan jas, dasi dan kopeah di kepalanya. Berduyun-duyun ingin menyaksikan ‘sang doktor’ melantunkan khotbah yang membius ribuan orang. Tak hanya khotbah, dirinya pun membuka kesempatan beradu argumen dengan orang-orang yang berbeda pandangan dan agama.

Barisan ‘penantang’ sang doktor pun mulai melancarkan pertanyaan satu per satu. Tidak ada yang dapat dibantah, tidak ada yang pernah memenangkan debat melawannya. Atau setidaknya memang acaranya dibuat terkesan seperti itu. Dibanding disebut dakwah, panggung itu lebih tepat disebut ‘Gladiator Agama’, dimana agama diadu terus, dimana tuan rumah berhak menyerang lebih banyak dan tim tamu hanya diberi waktu menyerang sebanyak satu kali.

Kemudian ribuan penonton bersorak-sorai layaknya para suporter olahraga di sebuah bar yang baru saja memenangkan taruhan sambil menegak segelas bir atau sesloki alkohol. Entah kepuasan apa yang menjangkiti ‘sang doktor’ dan para penonton. Yang jelas mereka merasa bahwa Tuhan berada di pihak mereka, dan mereka telah memenangkan pertandingan antar agama.

Dengan piciknya mereka berpikir bahwa Tuhan berada di sisi orang-orang yang menjadikan agama yang seharusnya berperan sebagai media komunikasi antara Tuhan dengan manusia, malah menjadi sebuah pertandingan, sebuah pertaruhan demi memenangkan ego, ego mereka atas identitas. Pertanyaannya, apakah Tuhan memerlukan itu ?

Rasa puas dan kemenangan dibawa pulang ‘sang doktor’ bersama para pengikutnya. Sorak-sorai kemudian bertambah ketika beberapa di antara penonton menyatakan ingin berpindah agama. Para penonton seakan merasakan kemenangan telak bersama ‘sang doktor’.

‘Sang doktor’ telah membuat ribuan orang terbius dengan keahliannya berbicara, keahliannya menyerang argumen, keahliannya mengahafal kitab suci agama lain (tanpa memahami). Kata-katanya dianggap kebenaran, sehingga rasa superioritas atas agama lain selalu hadir ketika para penonton menyaksikan ‘sang doktor’ hadir.

Pertanyaan pun kembali muncul, apa enaknya jika merasa sebuah agama seakan superior dibandingkan agama lain ?

Dalam pandangan penulis, agama merupakan media komunikasi antara Tuhan dengan manusia.  Sedangkan, iman adalah hubungan mistikal yang intim antara Tuhan dengan manusia. Kedua komponen tersebut diperlukan agar manusia mengetahui bahwa Tuhan sedang menitipkan bumi dan kehidupan untuk dijaga. (titik).

Tetapi menurut para pengikut ‘sang doktor’ agama tidak hanya sekedar urusan menjaga bumi dan kehidupan, tetapi juga penyamaan identitas dan kekuasaan di bumi berdasarkan agama yang dianutnya. Sehingga mereka perlu tahu alasan agamanya lebih superior dibandingkan agama lainnya.

Tidakkah Anda berpikir jika pemikiran bahwa salah satu agama lebih superior dibanding agama lainnya adalah sebuah pemikiran yang dangkal ?

Mengapa kita harus mencari alasan bahwa agama kita lebih baik dari agama lain hanya untuk sekedar mempertebal keimanan kita pada Tuhan ? Tidakkah itu adalah pemikiran yang sempit tentang Tuhan ?

Bukankah menjalin hubungan intim dengan Tuhan lebih baik dibanding mencari perbedaan antar agama dan menggunakannya untuk mengkerdilkan penganut agama lain ? Lantas, apa lagi yang kau cari dari ‘sang doktor’ ?

Berhentilah menjadi ‘penyembah persepsi’ dan mulailah menjadi penyembah Tuhan.

Tulisan ini dibuat bukan semata-mata karena penulis merasa sebagai seorang yang sangat dekat dengan Tuhan. Tetapi melihat keadaan orang saat ini yang cenderung menggunakan waktu luangnya untuk mencari-cari perbedaan pada kepercayaan lain membuat penulis ‘gatal’ dan bertanya-tanya, apakah ini tujuan agama ?

Jika benar agama adalah untuk mendekat diri manusia pada Tuhan dan melaksanakan perintah Tuhan untuk menjaga bumi serta kehidupan, tentu perdebatan tentang perbedaan agama dan agama mana yang lebih superior adalah  sebuah penyimpangan agama.

Sebagai catatan, penulis bukanlah ahli agama, ilmu sosial dan lain-lain. Tetapi penulis hanya seorang yang berharap jika agama tidak digunakan sebagai sebagai alat pemuas ego dan persepsi.

 

Salam Hormat,

Theofilus Richard

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s