Ahok, Pemerintah yang Baik dan Politisi yang Buruk

sumber gambar : Kompas

sumber gambar : Kompas

Seperti yang banyak orang lihat di layar kaca, di koran, internet dan media massa lainnya, Jakarta menjadi fokus perhatian hampir semua orang Indonesia saat ini. Salah satu permasalahan yang paling menarik perhatian adalah pertarungan politik menjelang Pilkada DKI 2017. Diantara tiga kandidat yang saat ini menjadi sensasi di lini masa media sosial dan pemberitaan, ada satu kandidat yang paling mencuri perhatian, yaitu calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal dengan nama Ahok.

Dibenci Orang Kaya

Nama Ahok terkenal bukan hanya karena menjadi gubernur keturunan Tionghoa pertama di Jakarta, tetapi karena sejumlah sepak terjangnya selama menjadi gubernur. Semenjak awal menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Jokowi, Ahok dikenal banyak orang karena aksi semprat-semprotnya kepada bawahannya yang seringkali dianggap tidak bekerja dengan baik. Tidak hanya semprat-semprot, Ahok juga terbilang berani mengucapkan kata-kata kasar dan menekan pihak lain yang dianggapnya ‘bermain-main’ dengan uang atau aset negara.

Tak bisa dipungkiri lagi, banyak orang yang geram karena tingkah Ahok ini. Beberapa cerita yang penulis dengar dan baca, banyak juga pengusaha dibuat geram oleh Ahok lantaran para pengusaha tersebut tidak dapat lagi berbuat curang. Ahok sudah pernah mencabut beberapa izin pengusaha yang kedapatan mencoba melanggar peraturan. Tentu ini kabar baik bagi masyarakat Jakarta, dimana gubernur menjalankan administrasi pemerintahan dengan baik dan tidak hanya berpihak pada pengusaha kaya saja.

Tukang Gusur

Selanjutnya ‘popularitas’ Ahok juga semakin meningkat kala mantan Bupati Belitung Timur tersebut menggusur beberapa pemukiman di Jakarta. Akibat aksinya tersebut, Ahok seringkali dijuluki ‘Tukang Gusur’ oleh haters setianya.

Ahok sendiri memiliki alasan dalam menggusur atau dalam bahasa halusnya adalah menertibkan beberapa wilayah di DKI Jakarta tersebut. Menurut pantauan penulis dari beberapa media, berbagai wilayah yang harus ditertibkan Ahok itu merupakan wilayah yang memang melanggar daerah hijau dan merupakan tanah pemerintah. Lebih parahnya, ada pemukiman kumuh yang berada di aliran sungai, sehingga sudah dipastikan pemukiman tersebut akan kebanjiran setiap tahunnya.

Penggusuran atau penertiban yang dilakukan Ahok tentu menyebabkan banyak warga kehilangan tempat berteduh. Tapi Ahok bukannya tanpa solusi. Pemda DKI Jakarta menyediakan sebuah rumah susun dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Ada klinik untuk warga berobat, dan juga tempat sembayang. Untuk memudahkan mobilitas warga, lokasi rumah susun pun dekat dengan akses Trans Jakarta. Tapi ternyata itu bukan alasan para haters Ahok berhenti nyinyir (huft !).

Hasil penggusuran pun bisa dilihat dengan mata kepala sendiri. Tidak ada yang disalahgunakan seperti dijual ke pengusaha atau dijadikan kantor mewah pemerintah. Beberapa diantara hasil gusuran itu, menjadi taman dan beberapa diantaranya dibuat tanggul untuk mencegah terjadinya banjir.

Banjir ? Hilang. Kalau Macet Gimane ?

Bagi orang awam, rekam jejak seorang Gubernur Jakarta dinilai dari pekerjaannya menyelesaikan permasalahan banjir dan macet. Dua masalah ini merupakan masalah menahun yang seakan sudah menjadi penyakit yang melekat di Jakarta. Ibarat penyakit kulit, dua masalah tersebut seperti lepra yang sangat sulit sembuh.

Layaknya seorang dokter yang galak, Ahok mencoba mencari akar permasalahannya dan langsung mengerjakannya ketika solusinya sudah ditemukan. Menurut penuturan salah seorang kerabat penulis yang merupakan seorang warga Jakarta, beberapa daerah yang banjir setiap tahunnya, kini sudah tidak lagi banjir.

Sedangkan mengenai masalah macet, memang yang satu ini belum juga hilang. Masyarakat Jakarta masih harus berharap kalau proyek MRT yang banyak mengeluarkan biaya itu memang berdampak untuk mengurangi kemacetan di Jakarta.

Ahok Politisi yang Buruk

Sebagaimana penuturan di atas, meskipun tidak rinci tapi dapat dilihat kalau memang Ahok adalah seorang pejabat pemerintah yang baik. Segala wewenangnya dalam bidang administrasi pemerintahan dapat dimanfaatkannya dengan baik untuk membuat kebijakan yang memiliki dampak luas bagi masyarakat. Perubahan yang ada di Jakarta dirasakan warga, meski kita tahu sendiri kalau pekerjaan rumah seorang Gubernur Jakarta saat ini masih sangat banyak.

Hanya saja, seperti yang penulis katakan di awal, apapun yang dilakukan Ahok, haters setianya masih akan tetap nyinyir. Sebisa mungkin mencari kesalahan dari gubernur yang mengidolakan superhero Batman ini.

Hanya satu kelemahan fatal yang dimiliki Ahok di mata penulis. Semua itu tergambar di rekam jejak Ahok selama karir politiknya. Ya, sebagai administrator, dia sangat unggul, tapi sebagai seorang politisi, Ahok merupakan contoh yang buruk.

Sempat bersikeras menolak partai politik karena citra kotornya, ucapannya yang meledak-ledak dan emosional, masa bodoh terhadap kelompok yang berseberangan dan menyudutkan lawan politiknya yang dianggapnya bodoh tapi punya akal licik.

Pada titik ini, seharusnya Ahok memang harus menjaga ucapannya, karena seorang politisi harus mengukur kekuatan partai politik, walaupun dia sering menemukan politisi-politisi kotor yang merupakan kader parpol memanfaatkan uang negara dan jabatan untuk kepentingan sendiri. Ahok bukanlah seorang visioner untuk ukuran politisi.

Dalam bahasa sederhananya adalah “Masa bodoh dengan yang lainnya. Yang penting kerjaanku beres, Jakarta ditata, wis  cukup, gak perlu banyak omong !”

Tentu sikap ini akan berdampak pada karir politiknya. Hal itu pun terlihat jelas sekarang. Pertama, mesin politik yang pernah mendukungnya, kini beralih mendukung lawan politiknya. Kedua, kelompok-kelompok yang membenci Ahok ternyata bisa mengumpulkan massa yang lebih dari cukup untuk melakukan serangan tiba-tiba seperti yang terjadi sekarang. Hadangan terhadap dirinya untuk maju dalam Pilkada 2017 lebih besar dari sebelumnya.

Ketiga, kelompok yang tadinya netral berpotensi terhasut dengan isu-isu yang menyudutkan Ahok. Selama ini Ahok tidak pernah merangkul kelompok-kelompok yang berseberangan atau kelompok yang ‘mengambang’ alias tidak mendukung siapa-siapa. Tentu, kesempatan ini sangat mudah dimanfaatkan oleh lawan politiknya.

Manuver Politik

Sangat sulit menemukan celah Ahok untuk menggagalkannya sebagai pemangku jabatan di pemerintahan DKI Jakarta. Ketika ditemukan satu ‘kesalahan’ yang terasa ‘dibuat-buat’, dengan bumbu dramatisasi, hal itu dieksploitasi sedemikian rupa sehingga citra Ahok di depan masyarakat berubah 180 derajat.

Kelompok yang menyudutkan Ahok tentu tidak dapat dipandang sebelah mata, dan tidak bisa dianggap remeh. Walau mereka memiliki pemikiran yang dianggap bodoh bagi sebagian masyarakat, tapi kenyataannya mereka dapat dengan pintar memanipulasi orang sehingga menghimpun dukungan yang sangat banyak. Ahok seakan tidak pernah memperhitungkan bahwa massa tersebut masih memiliki hak suara dalam pilkada. Kehilangan simpati mereka, tentu  akan kehilangan suara yang sangat banyak tersebut dalam pilkada, belum lagi kehilangan suara dari para simpatisan kelompok tersebut.

Massa yang berjumlah besar tersebut tentu sangat giat menjadi ‘kompor’ di tengah masyarakat mengatasnamakan sesuatu yang ‘suci’ untuk tidak lagi mendukung Ahok di Pilkada 2017. Kemudian kita pun mendengar suara-suara yang menyamakan Ahok dengan Nimrod dan Firaun. Walau sebenarnya penulis juga ragu jika Firaun bisa membangun tempat ibadah atau masjid seperti yang Ahok lakukan.

Lalu, kemana suara itu pergi ? Pilihannya jelas, menyebar diantara dua pasangan calon (paslon) lainnya. Ada Agus dan juga Anies. Agus datang dengan kekuatan politik ‘kekeluargaan’ (you know what I mean), sedangkan Anies datang dengan dukungan dari partai politik yang pernah menjadi lawan politiknya saat masih menjadi Tim Sukses Jokowi.

Beberapa survey menyebutkan, jika Agus yang seringkali diremehkan ternyata memiliki mesin politik yang kuat sehingga berpotensi memenangkan banyak suara. Hal ini pun tampaknya membuat Anies-Sandiaga gerah. Manuver politik pun harus segera dilakukan Anies untuk mengejar ketinggalan. Sehingga kita tidak perlu heran jika Anies mendatangi kelompok yang sangat membenci Ahok. Massa yang sangat besar adalah ibarat harta karun bagi seorang politisi sejati. Bayangkan jika ribuan massa tersebut mempengaruhi tetangga dan saudaranya untuk mendukung Anies, tentu sudah bisa ditebak apa yang terjadi. Ini adalah langkah cerdas Anies sebagai politisi.

Sedangkan Ahok, jelas bukanlah seorang politisi yang baik. Fokus Ahok selalu pada program yang berguna untuk kemajuan Jakarta. Bagi masyarakat yang berpikir terbuka tentu akan melihat Ahok adalah seorang figur pemimpin yang baik. Tapi lagi-lagi seorang politisi harus memikirkan, bahwa di luar sana masih banyak orang yang tidak dapat berpikir terbuka tapi memiliki potensi suara sangat banyak. Bagaimana cara merangkulnya agar dapat memilihnya dan mendukung programnya, itulah yang dipikirkan politisi.

Penulis tidak bermaksud menjelekan para Cagub yang berkompetisi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 ini, melainkan hanya mengutarakan pendapat saja. Di luar itu, Ahok dan Anies Baswedan merupakan dua figur yang penulis sangat kagumi sepak terjangnya. Keduanya merupakan inspirasi bagi bangsa ini.

Sekali lagi, tulisan ini hanya mengutarakan pendapat penulis tentang Koh Ahok saja.

Salam Hormat,

Penulis (Theofilus Richard)

*btw, maaf kepanjangan tulisannya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s