PARA PENYEMBAH PERSEPSI

sumber gambar : Masboi

sumber gambar : Masboi

Di sebuah sudut jalan kita seringkali mendengar sebuah lantunan ayat suci berbunyi : ‘Bagiku Agamaku, Bagimu Agamamu’ yang kemudian dilanjutkan dengan larangan mengucapkan selamat Natal meskipun dirinya tidak mengerti iman Kristen..

Sementara di sudut jalan lainnya, kita juga sering mendengar sebuah pernyataan yang berbeda : ‘Tidak keselamatan di luar Gereja !’ yang kemudian dilanjutkan dengan membanding-bandingkannya dengan agama lain.

–oo0oo–

Kalimat-kalimat tersebut seringkali dibuat menjadi tameng bagi sekelompok orang untuk menghakimi apa yang dianut orang lain, bahkan tidak jarang digunakan sebagai alat untuk mengolok-olok iman yang berbeda darinya. Seringkali ayat tersebut diucap oleh para imam, ulama atau tokoh masyarakat yang dianggap terhormat, sehingga tidak heran jika banyak orang pun memberi reaksi afirmatif terhadap seruan tersebut.

Mereka yang memiliki keyakinan demikian beranggapan  bahwa dirinya berada di pihak Tuhan dan Tuhan ada pihaknya.  Seakan iman dikuatkan dan seakan mengetahui apa yang Tuhan inginkan dari imannya. Seperti anak kecil yang merengek berebut kudapan dengan saudaranya, mereka berseru atas nama Tuhan mengkafirkan saudaranya. Seakan tidak rela kudapan itu menjadi hak saudaranya, mereka berseru atas nama Tuhan tidak rela berbagi Surga bersama saudaranya. Menganggap dirinya anak kesayangan orang tua, seperti mereka menganggap Tuhan selalu berada di pihaknya.

–oo0oo–

Lalu, dimana pihak Tuhan sebenarnya ? Dimanakah Tuhan sementara manusia saling mengkafirkan sesamanya ? Sadarkah mereka, jika teriakan kafir sangat menyakitkan ? Sadarkah mereka jika kafir yang diartikan sebagai ‘orang-orang yang tidak percaya Tuhan’ disematkan pada orang-orang yang mempercayai Tuhan sebagai pencipta semesta ini ?

Mari tinggalkan sejenak pertanyaan tersebut dan melihat fakta yang ada.

Sekarang tentu kita menyadari bahwa semua umat manusia hidup di satu bumi yang sama, satu semesta yang sama, satu dunia yang sama. Dari fakta itu, tentu kita juga menyadari bahwa ada Satu Pencipta yang menjadi alasan kehidupan di dunia ini bukan ? Bukankah itu berarti manusia hanya memiliki satu Tuhan ?

Tetapi kini manusia hanya berjalan dengan akal pikiran dan melupakan Tuhan. Mereka memiliki patokan yang disebut ‘Kitab Suci’ dimana kehadirannya dianggap sama dengan kehadiran Tuhan di dunia ini. Manusia membaca dan menafsirkan. Tafsiran yang dianggapnya sebagai mutlak dari citra Tuhan melalui Kitab Suci. Padahal Tafsiran hanyalah persepsi yang diciptakan akal pikirannya.

Persepsi yang kadang dibuat untuk memuaskan hasrat dan egonya. Bagai dua sisi mata uang, persepsi bisa membuat kehidupan semakin sejuk, damai dan penuh harapan. Tetapi Persepsi juga bisa membuat hal sebaliknya.

Persepsi membuatnya menjauh dari hal-hal kecil yang seharusnya dapat memberi kesejukan. Persepsi membuat manusia menjadi menjauh dengan sesamanya. Persepsi membuat manusia mengkafirkan saudaranya sesama makhluk Tuhan. Persepsi membuatnya beranggapan bahwa surga hanya miliknya. Persepsi yang dianggapnya Hukum Tuhan berbalik menjadi menjauhkan manusia dengan Tuhan. Jika begitu, bukankah manusia malah memenangkan ego dalam dirinya ketimbang memberi kesejukan ?

Jika kita begitu mengagungkan persepsi yang kita ciptakan, bukankah kita hanya menciptakan Tuhan berdasarkan imajinasi kita ? Jika kita begitu bangga dengan persepsi yang kita buat, bukankah itu artinya kita tidak lagi menyembah Sang Pencipta, melainkan menyembah ego kita sendiri ?

Persepsi setiap orang bisa berbeda, tapi fakta bahwa hanya ada satu sosok yang menciptakan semesta tetap akan menjadi fakta. Fakta bahwa manusia mengagungkan sosok Sang Pencipta tidak akan pernah berubah. Agama pasti tidak akan sama, tetapi Tuhan Sang Pencipta tidak pernah berubah semenjak awal dunia diciptakan hingga akhir kiamat nanti. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia kembali membuat persepsinya untuk menurunkan ego dan melihat sesama manusia sebagai makhluk Tuhan yang setara di hadapan Tuhan, makhluk yang memiliki hak sama di dunia ini.

–oo0oo–

Saya tidak mengatakan bahwa pendapat saya adalah yang paling benar melebihi para ahli dan alim ulama. Tetapi saya hanya tergelitik melihat para pemuka agama berbicara di depan orang banyak tentang Tuhan, tetapi selalu gagal memberi kesejukan pada banyak orang. Tidak semua, tetapi jumlahnya tidak sedikit juga.

Saya bukan orang suci,tetapi saya hanya yakin jika kesejukan hanya akan tercipta jika mau berpikir terbuka, mau saling memahami, mau saling belajar dan menurunkan ego masing-masing. Tidak seperti sekarang ini, orang-orang yang mengaku sebagai alim ulama, ahli kitab dan pemuka agama, tetapi pekerjaannya hanya menghalalkan segala cara meyakinkan bahwa dirinya yang paling benar dan lainnya adalah salah.

Jika anda mengetahui orang-orang yang saya bicarakan, merekalah yang disebut dengan ‘Para  Penyembah Persepsi’

Salam Hormat

Penulis (Theofilus Richard)

 

-Ditulis di Bandung, 28 Desember 2016-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s