NEGERI SALAH FOKUS

 

sumber foto : merdeka.com

sumber foto : merdeka.com

Dalam beberapa minggu terakhir, Indonesia sedang dihebohkan oleh kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur non-aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dugaan penistaan agama tersebut terjadi kala sang gubernur memberikan pidato di Kepulauan Seribu pada 27 September lalu. Kejadian tersebut memicu beragam pendapat dari berbagai kalangan. Ada yang menganggap bahwa apa yang dikatakan Ahok adalah penistaan, ada pula yang mengatakan bahwa hal tersebut bukan merupakan penistaan agama.  Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah Ahok melakuan penistaan agama ? Atau kasus dugaan ‘penistaan agama’ hanya ulah dari sekelompok provokator yang memprovokasi umat beragama di Indonesia untuk mengambil keuntungan pribadi dari hal tersebut ?

Perkataan Ahok yang dituding sebagai penistaan agama adalah perkataannya yang menyinggung Surat Al-Maidah 51 yang pada berisi larangan pada umat Muslim untuk memilih seorang Nasrani dan Yahudi sebagai pemimpinnya. Sebenarnya siapa saja dapat mengucapkan ayat ini, namun benarkah Ahok menodai ayat suci Al-Quran seperti yang digembar-gemborkan tersebut ? Atau kita hanya salah fokus ?

Untuk dapat melihat kasus ini secara jernih, kita juga harus melihat bagaimana Ahok berbicara saat itu dan dalam konteks apa dirinya berbicara. Tentu jika semua orang dapat memahami konteks pembicaraan, maka isi pembicaraan pun menjadi jelas. Mendengar dengan jelas dan berpikir dengan logika adalah satu-satunya yang perlu kita lakukan.

Dalam kesempatan pada tanggal 27 September tersebut, jika kita melihat lebih panjang isi video tersebut, konteks yang dibicarakan Ahok justru bukan pada isi Al-Quran. Ahok yang hidup di lingkungan mayoritas beragama Islam semenjak kecil dan belajar banyak mengenai agama Islam tentu memahami secara pasti bahwa Al-Quran adalah sebuah kitab yang memiliki nilai kesucian di dalamnya. Jika kita dengarkan baik-baik, fokus pembicaraan Ahok terletak pada oknum politisi yang berniat meraih suara banyak dan mengalahkan lawan politiknya dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mengutip ayat Al-Quran meskipun ayat yang digunakannnya tidak sesuai dengan isi yang disampaikan pada kampanye politiknya.

Masyarakat Indonesia pun tidak dapat menutup mata dari adanya penyalahgunaan ayat suci untuk berbagai kepentingan. Jika ayat suci tidak pernah dimanfaatkan untuk kepentingan yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama, tentu tidak akan bermunculan organisasi-organisasi seperti Al Qaeda dan ISIS. Bahkan dalam skala yang lebih kecil, ada kasus Kanjeng Dimas dan Aa Gatot yang terbukti melakukan penipuan dengan cara berpura-pura menjadi ahli spiritual keimanan. Dalam praktiknya, Kanjeng Dimas dan Aa Gatot pun menggunakan ayat suci Al-Quran yang lagi-lagi tentu tidak sesuai dengan ajarannya.

MENURUT SEJARAH, AYAT KITAB AGAMA LAIN PUN PERNAH DIMANFAATKAN UNTUK KEPENTINGAN POLITIK

Di sejarah Agama Kristen pun politisasi dengan memanfaatkan ayat suci Alkitab pernah terjadi di abad ke-15. Berbagai kasus pun pernah kita baca dalam buku sejarah, seperti politisasi gereja, Revolusi Gereja hingga yang paling terkenal adalah hukuman yang dijatuhkan pada ilmuwan yang berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristiani. Tentu anda pernah mendengar indulgensia (surat pengakuan dosa) bukan ? Itu adalah salah satu cara politisasi Gereja saat itu, dimana umat Kristen Katolik diancam akan masuk neraka jika tidak membeli indulgensia, dimana sebenarnya uang hasil penjualan indulgensia tersebut digunakan untuk kepentingan para penguasa saat itu.

Banyak umat merasa geram dengan kondisi Gereja yang saat itu sudah banyak menyimpang dari ajaran Yesus. Puncak dari Zaman Kegelapan Gereja adalah dengan lahirnya Revolusi Gereja yang dimotori oleh Martin Luther King. Singkatnya Martin Luther King keluar dari Gereja Katolik dan merancang sebuah ‘Gereja’ baru yang menjadi cikal bakal Agama Kristen-Protestan. Revolusi Gereja ini pula yang akhirnya membuat Gereja Katolik berevolusi untuk kemudian kembali kepada substansi Gereja sebenarnya yaitu dengan melanjutkan tugas para Rasul dan mengikuti teladan Yesus.

Kembali pada persoalan Ahok. Dalam kasus ini bukan tidak mungkin kegaduhan disebabkan oleh seorang provokator yang memang tidak suka dengan keberadaan
Ahok di panggung politik atau bermaksud mengalahkan Ahok dalam kontestasi politik dengan meredam popularitasnya melalui kasus ini. Mungkin kalimat ini terkesan berpihak pada Ahok dan terlalu banyak beropini, akan tetapi pada kenyataan itulah yang terjadi. Masyarakat Indonesia salah fokus, dimana fokus Ahok adalah mengingatkan masyarakat bahwa ada orang yang memanfaatkan ayat suci untuk tujuan dan kepentingan diri sendiri. Tetapi banyak kelompok masyarakat malah menganggap bahwa Ahok melakuan penghinaan terhadap ayat suci Al-Quran.

———

PERUMPAMAAN

Jika anda yang membaca tulisan ini masih bingung atau tidak mengerti dengan maksud dari tulisan ini, maka akan saya beri sebuah perumpamaan.

Apa yang anda pikirkan jika saya mengeluarkan pernyataan seperti ini ? “Tadi saya melihat seseorang membujuk anak anda untuk mengikuti taruhan balapan liar,”

Pertanyaannya adalah, apakah saya yang membujuk anak anda untuk mengikuti taruhan balap liar ?

Tentu anda mengerti maksud saya bukan ?

———–

TERSINGGUNG ITU WAJAR, TAPI…

Menurut saya sendiri, sangat wajar apabila masyarakat Muslim di Indonesia tersinggung dengan pernyataan Ahok, karena salah paham sangat lumrah dalam proses komunikasi. Tetapi masalah tersebut sebenarnya sudah tuntas ketika Ahok menyatakan permintaan maaf dengan tulus dan mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki maksud untuk menghina atau melecehkan ayat suci Al-Quran. Ahok pun bersedia memberi keterangan dan membuktikan secara hukum jika dirinya tidak memiliki niat sedikit pun melecehkan agama atau menghina ayat suci Al-Quran. Dalam pernyataan tersebut, sebenarnya sudah jelas bahwa masalah itu hanyalah kesalah pahaman penggunaan diksi antara Ahok dengan masyarakat.

Kemudian yang menjadi masalah adalah adanya sekelompok orang yang katanya meminta Ahok segera ditangkap dan diproses hukum, dimana sebelum orang tersebut berbicara, Ahok sudah datang ke Bareskim Polri untuk memberikan keterangan terkait kasus dugaan penistaan agama. Poin kedua, massa yang terprovokasi pun menuntut Ahok meminta maaf atas perkataannya tersebut ke seluruh umat Muslim, dimana hal itu sudah dilakukan sebelum kasus ini kian ramai hingga berujung pada aksi besar-besaran beberapa hari silam. Lalu, apa yang sebenarnya dituntut massa tersebut ? Jika begitu, tentu kecurigaan adanya kepentingan tertentu yang menunggangi pun semakin besar.

Sebelumnya, mohon maaf jika tulisan ini menurut anda bermuatan opini. Saya hanya memaparkan logika pemikiran saya saja dalam kasus ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s