KASUS KOPI SIANIDA, ANTARA SENSASI DAN DRAMA

via news.dreamers.id

via news.dreamers.id

Beberapa waktu terakhir di televisi sangat ramai dengan pemberitaan soal kasus Es Kopi Vietnam yang diberi racun berupa sianida yang akhirnya menewaskan seorang wanita cantik bernama Wayan Mirna Salihin. Penulis sendiri sudah lupa kapan kasus ini menyeruak ke permukaan. Tiba-tiba saja kasus pembunuhan ini menjadi salah satu ‘kasus spesial’ diantara kasus pembunuhan lainnya.

Sebagian orang menganggap kasus ini memang kasus yang sangat spesial karena trik pembunuhan yang diperagakan sang pelaku merupakan sebuah misteri yang rasanya sulit untuk ditemukan kebenaran. Di sisi lain, kasus pembunuhan ini seakan menjadi ‘konsumsi’ yang ditunggu masyarakat karena drama di balik kasus pembunuhan ini. Mulai dari pemberitaan sang tersangka Jessica Wongso yang katanya memiliki sedikit keanehan dalam bersikap hingga gosip dirinya punya hubungan sesama jenis dengan Wayan Mirna beredar di lini masa. Entah itu benar atau tidak, namun perkembangan dari kasus ini sangat ditunggu oleh setiap orang.

Kasus ini sempat surut dari pantauan media karena masyarakat pun sudah menduga bahwa kemungkinan besar Jessica Wongso adalah pelaku dibalik kasus ini. Namun apa yang terjadi kemudian ? Masyarakat kembali dibuat bertanya-tanya sebenarnya siapa pembuh Mirna. Pertanyaan ini lantaran banyak media memberitakan bahwa dalam kasus tersebut, ditemukan terduga lainnya yang dianggap mencurigakan. Mulai dari Hani (teman Mirna lainnya) hingga sang suami turut menjadi nama yang ramai di pemberitaan media massa. Ada yang bilang bahwa sang suami menyogok seorang barista untuk membunuh istrinya tersebut. Sogokannya bukan main-main, Rp140juta, namun hal itu terbukti tidak benar.

Lepas dari itu, sidang yang berlangsung berhari-hari dan membuat mata lelah, seakan menyuguhkan masyarakat Indonesia akan sebuah ‘drama televisi’. Stasiun-stasiun televisi pun seakan mengerti kebutuhan masyarakat Indonesia akan drama dan menghadirkan ‘drama’ tersebut di depan televisi. Meski kasus ini berputar-putar dan memunculkan cerita baru setiap harinya, masyarakat tetap tertegun di layar kaca sambil berdebar-debar mengikuti kisahnya berlanjut. Bak sinetron, setiap episode akan memunculkan hal-hal baru yang tidak ada habisnya.

Di luar persidangan, media-media khususnya televisi pun menyiarkan fakta-fakta di balik kasus tersebut. Bahkan di salah satu stasiun televisi berita yang sudah tersohor namanya, menyajikan ‘drama’ ini layaknya sebuah ‘drama reality show’, dengan menceritakan orang-orang yang memiliki hubungan dengan Mirna. Dalam acara tersebut juga menampilkan video pra-wedding Mirna dengan suaminya yang kemudian dilanjutkan dengan kesaksian-kesaksian orang-orang terdekat Mirna mengenai pribadi Mirna dan pandangannya terhadap kasus ini agar terlihat lebih dramatis. Pada tayangan itu pula masyarakat kembali akan menemukan ‘pernyataan-pernyataan baru’ yang menjadi bumbu dalam kasus ini.

Dimulai dari cara penyajian tayangan hingga pernyataan-pernyataan yang dihadirkan di layar kaca memang membuat masyarakat semakin tertegun mengikuti kasus ini. Misalnya saja Arief Soemarko, suami Mirna yang sempat dituding membunuh Mirna membuat pernyataan bahwa dirinya mengetahui jika Mirna dan Jessica memiliki sedikit pertengkaran karena soal persepsi. Arief pun mencurigai hal tersebut menjadi salah satu penyebab Jessica tega membuh Mirna.

Terlepas dari benar ataupun tidak pernyataan-pernyataan tersebut, muncul satu pertanyaan menggelitik dalam benak. Mungkin pertanyaan tidak hanya ada dalam benak penulis, tapi juga masyarakat luas. Etiskah jika kasus ini menjadi sebuah objek yang diekspolitasi bak sebuah drama demi mendorong rating sebuah media, khususnya televisi ? Dengan ramainya kasus ini, tentu semua tahu, pihak televisi pun diuntungkan terutama televisi-televisi berita yang menghadirkan tayangan berita tersebut dengan eksklusif ditambah dengan efek-efek visual yang lebih dramatis guna menarik perhatian masyarakat sebagai penonton.

Dunia hiburan televisi Indonesia memang di tengah krisis, terutama setelah kualitas tayangan televisi hampir semuanya menurun dan mendewakan rating. Namun apakah pantas jika kasus seorang Wayan Mirna Salihin yang tewas tragis karena diracun sianida akhirnya menjadi objek berita yang diexpose secara berlebihan oleh media televisi ? Memang nilai berita dari kasus ini sangat besar dan menarik, tapi rasanya kita perlu mendefinisi ulang dari kata ‘nilai berita’ jika akhirnya hanya menjadi sebuah ajang untuk mendorong dan menaikkan rating. Mungkin PWI dan AJI juga dapat mendiskusikan hal ini, mengenai etika saat meng-expose sebuah pemberitaan.

Salam Hormat

 

Penulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s