HARUSKAH KONSTITUSI NGURUSI IBADAHMU ?

(Sumber gambar : komunitasindonesiaberhijab.ning.com )

(Sumber gambar : komunitasindonesiaberhijab.ning.com )

“Sekali lagi Umat Islam tertindas, sekali lagi Umat Islam ternistakan….”

Begitulah sebuah kata menggelitik yang keluar dari seorang ustadz dalam sebuah acara yang ditayangkan di sebuah televisi swasta milik Bakrie.


Sebelum salah paham, di sini penulis ingin mengatakan bahwa penulis sangat menghormati umat muslim, dan sangat menghormati setiap perempuan muslim yang memutuskan mengenakan hijab untuk kegiatan sehari-hari. Dalam konteks ini, saya hanya membahas sudut pandang dari sebuah media mengenai pernyataan Ahok akan pelarangan kewajiban berhijab untuk siswi sekolah.

Beberapa waktu belakangan media sosial sempat dihebohkan dengan pemberitaan mengenai kebijakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terkait pelarangan mewajibkan siswi sekolah mengenakan hijab. Sontak hal ini mengundang reaksi dari berbagai kalangan. Ahok beralasan hal tersebut untuk mencegah adanya keterpaksaan dalam mengenakan hiijab di kalangan siswi sekolah. Ahok menganggap keterpaksaan tersebut membuat hijab yang tadinya bertujuan suci seakan menjadi tidak suci lagi. Seperti biasanya, satu tindakan dari pejabat publik melahirkan beragam tanggapan dari masyarakat, mulai dari yang setuju hingga menganggap Ahok telah melecehkan Islam.

Yang membuat penulis tergelitik tentu adalah cara berbagai media mengemas wacana ini. Mulai dari yang wajar hingga yang terkesan lebay dimana hal tersebut dilakukan bukan atas nama Tuhan, namun ‘Atas Nama Pasar alias Rating’. Terdengar menyayat hati namun nampaknya itu yang terjadi. Sebuah media, sebut saja stasiun televisi yang dikelola oleh Bakrie nampak menekan Ahok atas keputusannya tersebut. Mungkin jika dikaitkan dengan politik, seperti yang kita ketahui bahwa Pak Bakrie enggan mendukung Ahok untuk maju lagi sebagai gubernur dan bukan tidak mungkin, acara yang berbau religius tersebut diarahkan untuk menekan kepentingan politik Ahok. Who knows? Tapi daripada berburuk sangka membicarakan isu yang terlalu sensitif tersebut (politik), lebih baik kembali membahas sudut pandang dari sebuah acara di stasiun televisi tersebut. Dalam acara tersebut disebutkan bahwa Ahok seakan melarang para Muslimah melaksanakan perintah agama sebagaimana yang tertulis pada Al Qur’an.

Dalam acara tersebut dihadirkan dua narasumber, dimana keduanya adalah orang yang berada pada sudut pandang sama. Kesimpulan sama terus ditonjolkan dari menit awal acara dimulai hingga acara berakhir. Host berjanggut panjang pun hanya dapat mengamini apa yang dikatakan kedua narasumber tersebut, tanpa berani mempertanyakan bagaimana beragam umat Muslim melihatnya dari sudut pandang berbeda. Seakan mendapat angin, sang ustadz pun mengungkapkan perasaannya sebagai Muslim yang seakan penuh penderitaan, penghinaan dan penindasan. Bagi yang sudah pernah menonton pasti dapat merasakan secara pasti lebaynya ketiga orang yang berada di depan kamera tersebut.

Perlu diketahui sebelumnya, Ahok tidak pernah melarang siswi yang beragama Islam untuk mengenakan hijab. Ahok dengan senang hati memperbolehkan siswi Muslimah mengenakan hijab setiap hari saat bersekolah. Pelarangan kewajiban pemakaian hijab ini hanya didasari pada inkonsistensi seorang siswi yang tidak siap mengenakan hijab namun dipaksa untuk mengenakannya, sehingga kesakralan hijab tersebut hanya sekedar menjadi rutinitas selama enam jam di sekolah dan mengabaikan nilai ibadah dari pemakaian hijab tersebut. Banyak pula siswi sekolah yang mendukung keputusan Ahok tersebut, dengan beralasan jika hijab merupakan sesuatu yang seharusnya datang dari hati, bukan dari sebuah pemaksaan.

Lalu apa yang harus dilakukan lembaga pendidikan jika menginginkan putri-putrinya mengenakan hijab ? Pendidikan agama di sekolah rasanya sudah cukup untuk mengajarkan siswinya akan kesadaran untuk berhijab.

 

‘’Haruskah peraturan beribadah tertulis dalam buku undang-undang ?

Pedulikah Tuhan jika tata peribadatan masuk dalam konstitusi ?

Bukankah Tuhan mewajibkan kita untuk beribadah, bukan untuk melembagakannya ?

Bukankah amal dan ibadah adalah urusan pribadi dengan Tuhan ?

Haruskah negara bertanggung jawab atas peribadatanmu ?

Mungkin aku orang yang tidak terlalu mengerti agama, tapi aku cukup mengerti bagaimana manusia mengacaukan hubungannya dengan sesama dan berburuk sangka atas nama Tuhan.

‘Berjuang untuk membela yang tertindas’ katanya, sambil menginjakkan kakinya diatas kepala orang lain.

‘Atas nama Tuhan’ katanya, setelah telinganya dibisiki pria berdasi hitam dan berjas warna-warni.

Hanya kita yang bertanggung jawab pada ibadah kita masing-masing bukan ?

Mengapa harus menyalahkan pemerintah atas ibadah kita ?’’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s