ITALIA : KEMENANGAN TANPA DOMINASI

( Sumber gambar : www.wyscout.com )

( Sumber gambar : http://www.wyscout.com )

Bulan ini sungguh bulan yang penuh berkah, bukan saja karena bulan ini bertepatan dengan Bulan Ramadhan, namun bulan ini adalah bulan yang penuh berkah bagi para pecinta sepakbola karena pada bulan ini dua benua terkuat dalam sepakbola sedang menjalankan kompetisi antar negara di benuanya masing-masing. Sekiranya kita dapat menyaksikan lima pertandingan sepakbola kelas atas dalam satu hari dari Copa America Centenario dan Euro 2016. Namun kali ini penulis tidak akan membahas kedua kompetisi tersebut sekaligus, melainkan penulis hanya akan membahas seputar performa timnas Italia dibawah asuhan Antonio Conte di Euro kali ini.

Timnas Italia menjadi salah satu bahasan menarik dalam Euro kali ini. Menjelang berakhirnya fase grup, Italia dapat memastikan diri lolos ke fase gugur dengan menjadi juara grup. Yang menarik perhatian adalah pola permainan yang diterapkan oleh pelatih Conte dalam dua pertandingan melawan Belgia dan Swedia. Dalam dua pertandingan tersebut, sama sekali tidak terlihat bahwa Italia adalah tim dengan kelas juara. Tim kelas juara yang dimaksud adalah tim dengan agresivitas menyerang yang tinggi dan jelas Italia bukanlah tim yang seperti itu. Italia lebih sering bermain bertahan dibanding menyerang. Entah sudah tradisi atau memang itu gaya bermain Conte, namun hal tersebut cukup efektif memuntahkan serangan-serangan lawan. Lukaku, Origi maupun Hazard gagal total melumpuhkan lini pertahanan Italia meskipun selama 90 menit Belgia bermain sangat agresif dalam hal menyerang. Dua gol yang bersarang di gawang Curtois merupakan gol yang diperoleh melalui serangan balik. Di sinilah letak kecerdikan skuad Italia, sementara bermain bertahan, lini tengah dapat dengan jeli melihat ruang kosong di lini pertahanan Belgia yang terus fokus ingin mencetak gol secepatnya. Menurut penulis, dua gol tersebut memang tidak dihasilkan oleh sebuah pola serangan yang ideal namun cukup efektif untuk membawa kemenangan untuk Gli Azzuri.

Sedangkan dalam pertandingan melawan Swedia, Italia nampak tidak begitu kerepotan seperti saat melawan Belgia. Seakan sudah mengetahui pola serangan Swedia, peluang demi peluang kian mudah dipatahkan. Serangan swedia yang mengandalkan serangan dari sayap, kemudian memberi umpan pada Ibrahimovic. Sehingga, meskipun Swedia mendominasi pertandingan, tidak ada satu gol pun diciptakan. Hingga akhir pertandingan lini pertahanan Italia berhasil membuat Ibrahimovic frustasi karena kegagalannya memanfaatkan sejumlah peluang. Lini serang Italia pun tidak jauh lebih baik. Pelle yang mencetak gol pada pertandingan melawan Belgia, tidak banyak berkutik. Giaccherini dan Candreva yang menjadi andalan di sayap pun seringkali gagal menyodorkan umpan-umpan yang dapat memanjakan Pelle. Namun nasib beruntung lebih berpihak pada Italia di menit-menit akhir. Lagi-lagi melalui sebuah serangan balik di menit 88, Eder berhasil mencetak gol. Lagi-lagi hal yang sama terulang, yaitu gol kemenangan dari sebuah serangan balik.

Jika melihat pada dua pertandingan, tersebut jelas Italia mengandalkan rapatnya lini pertahanan sebagai tulang punggung untuk dapat memenangkan pertandingan. Sesekali serangan dilakukan dengan memanfaatkan kesalahan dari pemain tim lawan. Tanpa mendominasi pertandingan, Italia berhasil membawa kemenangan dan menjadi juara Grup E. Kejadian ini hampir mirip dengan yang terjadi di Liga Primer Inggris musim 2015/2016, dimana Leicester City dibawah asuhan Ranieri sangat jarang mendominasi permainan, namun seringkali dapat mencuri gol dan membawa kemenangan pada tim hingga akhirnya menjadi juara. Perbedaannya terletak pada filosofi lini tengah antara Timnas Italia dan Leicester City, dimana Leicester City seringkali dapat mengoptimalkan fungsi Riyadh Mahrez untuk dapat membongkar pertahanan lawan sehingga  memudahkannya memberi umpan pada Jamie Vardy yang rajin mencari ruang kosong di lini pertahanan lawan. Berbeda dengan Conte, yang lebih suka mengoptimalkan pemain sayapnya. Banyak yang menilai serangan dari sayap Italia belum begitu optimal, namun mungkin saja itu dikarenakan dua lawan yang dihadapi merupakan dua lawan terberat di Grup E yang harus dihadapi pada dua pertandingan pertamanya. Conte bersama Timnas Italia masih memiliki waktu hingga fase gugur untuk membuktikan pola serangannya dapat berkembang dan bermain atraktif.

Intermezo : Ranieri berhasil menunjukkan bahwa dia dapat menjadi juara meskipun sangat jarang mendominasi permainan. Begitu pula Conte, yang sejauh ini berhasil memenangkan pertandingan tanpa mendominasi pertandingan. Apakah itu alasan Chelsea merekrut Conte ? Untuk dapat meraih kemenangan, meskipun memiliki penyerang yang level permainannya tidak stabil ? Kita tentu harus melihatnya di Liga Primer musim depan dimana pelatih-pelatih top berkumpul di satu kompetisi, yaitu Ranieri, Pochetino, Mourinho, Guardiola, Klopp, Conte dan Wenger. Hmmm… btw, Wenger masih dihitung pelatih top bukan sih ?

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s