SUDAH SAMPAI MANA PENDIDIKAN KITA

(Sumber gambar : promopremi.com )

(Sumber gambar : promopremi.com )

Di tengah gemuruh keramaian May Day atau hari buruh, beberapa dari kita mungkin lupa jika satu hari setelah Hari Buruh adalah Hari Pendidikan Nasional (2 Mei). Ya, pendidikan, salah satu faktor yang paling penting, tidak hanya demi secarik ijazah hingga kita bisa mencari kerja dengan mudah, namun lebih dari itu pendidikan adalah bekal kehidupan. Harta dapat dirampas, ijazah dapat terbakar musnah, namun ilmu akan dibawa hingga raga sudah tidak berdaya untuk bergerak. Pendidikan adalah kunci bagi semua orang untuk dapat memahami hidup dan memahami sikap dirinya serta lingkungan. Pendidikan membentuk karakter dan obat bagi jiwa yang lapar akan rasa ingin tahu. Tapi, sudahkah bangsa ini mencapai cita-cita sejati sebuah pendidikan ?

Sedikit cerita ketika masih duduk di Sekolah Dasar, masa dimana semua terasa sederhana. Masalah pada saat itu hanyalah mengatur waktu antara mengerjakan PR, bermain bersama teman dan menonton Power Ranger dalam satu hari setelah pulang sekolah. Mengingat masa seperti itu, tentu mengingat juga bagaimana cara anak SD berpikir terhadap setiap reaksi yang terjadi di sekeliling lingkungannya. Lalu, apa yang terbesit dalam kepala anak SD ketika mendengar kata pendidikan ? Tentu kita harus membuang jauh makna dan cita-cita pendidikan seperti yang telah disebutkan di paragraf pertama. Jika menarik pada pengalaman pribadi, ketika mendengar kata pendidikan, pasti yang terpikirkan adalah soal sekolah dan nilai-nilai yang akan menjamin kenaikan kelas. Ya, itulah pendidikan. Semuanya tentang angka. Tuntutan akan nilai yang tinggi dari orangtua juga turut andil membentuk pemikiran seorang anak akan makna pendidikan itu sendiri. Jika seperti itu, tidak heran jika dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi,  tidak ada lagi kata-kata ‘Pendidikan untuk menuntut ilmu’. Ilmu menjadi dimaknai dengan angka. Pendidikan untuk meraih nilai terbaik, mendapat ijazah dan mendapat pekerjaan dengan gaji yang tinggi.

Mendewakan Ilmu Eksak

Di bangsa ini pun sudah berpuluh-puluh tahun memuja sebagian ilmu yang disebut dengan ‘eksak’ sebagai penopang hidup, agar anak-anak mereka menjadi seorang dengan pekerjaan bergaji tinggi. Bangsa ini sudah terlalu lama mengkerdilkan ilmu, dan mendewakan ijazah serta upah tinggi. Ketika orientasi akan kebutuhan material menjadi tujuan dari menempuh pendidikan, maka akan banyak nilai yang akan segera diabaikan. Percaya atau tidak, itulah realita yang terjadi. Kurangnya kepedulian akan nilai-nilai sosial, sejarah ataupun yang berhubungan orang banyak akan segera sirna seiring dengan berjalannya waktu. Apakah itu tujuan dari pendidikan ? Untuk mengunggulkan salah satu ilmu yang menghasilkan uang banyak ? Bukankah pendidikan itu adalah sarana seoerang siswa untuk belajar hal yang menarik baginya ? Apa bedanya dengan perbudakan, jika pendidikan hanya digunakan sebagai sarana membentuk para ‘Pencari Harta’ ?

Mungkin saat ini ilmu-ilmu diluar eksak, telah bertambah peminatnya. Ilmu sosial yang biasa diperlakukan layaknya ‘second class citizen’ juga sedang ramai peminatnya. Namun itu tidak menghilangkan pragmatisme dunia pendidikan sebagai sarana membentuk karakter ‘Pencari Harta’. Bahaya akan pragmatisme ini mungkin tidak terasa, namun berbeda cerita jika anda menghabiskan waktu belasan tahun hidup di lingkungan yang pragmatis. Sekolah-lulus-mencari kerja-mendapat uang banyak- hidup sejahtera. Itulah siklus hidupnya. Mereka yang seperti itu hanya memaknai pendidikan sebagai formalitas, agar dapat bekerja di perusahaan bergengsi. Apatisme akan nilai-nilai sosial dan sejarah sangat terasa. Kepekaan akan situasi yang terjadi di lingkungannya seakan hilang. Tidak peduli siapa yang berkuasa pada hari kemarin, hari ini ataupun besok asalkan masih menikmati limpahan rupiah, maka itu tidak menjadi masalah. Tidak peduli jika bangsa ini memiliki ‘sejarah gelap’ yang ditutupi, tidak peduli jika masih banyak orang diluar sana dikucilkan pemerintah, tidak peduli jika tidak ada yang memperjuangkan hak-hak anak miskin yang tidak mampu menempuh pendidikan. Baginya diskusi-diskusi seperti itu hanyalah membuang waktu, bagai sebuah lelucon belaka. Memang ironis, tapi percaya atau tidak percaya itu adalah yang terjadi di tengah masyarakat kita.

Harapan

Cukup sudah bermuram durja. Beruntung ada anak-anak muda bangsa ini yang memaknai pendidikan dengan cara lain. Menggunakan pendidikan yang telah diraihnya, untuk memahami lebih jauh kehidupan yang dijalani. Menggunakan pendidikan yang telah diraihnya untuk berbagi dengan sesama meski tanpa dibayar. Menggunakan pendidikan yang telah diraihnya untuk membantu anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan layak Menggunakan pendidikan yang telah diraihnya untuk meningkatkan kepekaan masyarakat luas akan nilai-nilai sosial, sejarah dan politik. Jika cita-cita masih untuk memajukan bangsa ini, perlahan akan tercipta oleh sebagian kecil orang ini lakukan.

Telah banyak cerita, kawan-kawan saya yang dengan rela meluangkan waktunya untuk berbagi ilmunya dengan saudara-saudara yang mungkin tidak mampu membayar uang sekolah. Dengan kemampuan terbatas, namun semangat yang tinggi, tekad untuk berbagi ilmu dijalani sepenuh hati. Anak-anak muda seperti inilah yang menjadi pelita bagi negeri ini. Salut untuk mereka.

Mari mulai mencari makna pendidikan sejati. Yang pasti bukan sekedar sarana mencari secarik kertas, untuk kemudian mendapatkan harta dari balik meja para kapitalis.

*Bukan sok idealis. Tentu sebagai orang biasa, saya pun akan mencari kerja dan dibayar oleh para kapitalis. Tapi itu bukan satu-satunya tujuan. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s