MENCOBA (DINDING YANG TINGGI)

Sumber gambar : puisk.com

Sumber gambar : puisk.com

Kemarin, kau pertemukan aku dengan dia. Anggun menggunakan pakaian semampai berwarna biru muda. Aku tahu, aku telah jatuh hati padanya dan mungkin dia pun begitu. Tapi tembok penghalang kami terlalu besar. Sebuah tinta yang mengatasnamakan NamaMu di atas langit sana. Mungkin kau sebenarnya tak pernah menjadi penghalang, tapi mata manusia yang terhalang ribuan cermin membuatnya melihat dengan pengelihatan yang samar-samar.

Dia yang bersujud di atas sajadah memuja namaMu dan aku yang berlutut di depan salibMu. Tak akan bisa bersatu meski kita tahu semuanya akan baik. Tak akan bisa bersatu meski saling peduli. Tak akan bisa bersatu meski sayang. Tak akan bisa bersatu meski tahu kita akan bahagia. Cepat atau lambat aku harus menjauh sebelum terlambat dan terlalu dalam.

Tawa canda dalam kepalaku lah yang menghiburku setiap hari. Dalam kepalaku ini juga lah aku mengidamkan kebahagiaan. Tidak hanya untuk diriku sendiri atau calon pasanganku kelak. Tapi aku ingin semua orang di sekitarku pun ikut merasakan bahagiaku. Aku hanya ingin kedua orangtuaku, saudariku dan teman-temanku tersenyum ketika aku menggandengnya dengan penuh bangga. Maka kuputuskan untuk melupakan dia, aku harus menjauh.

Kucari bidadari yang tidak terlihat oleh tembok penghalang buatan manusia itu. Namun tak kunjung bertemu dengan pujaanku. Dalam bayang, kupikir aku telah melihatnya, namun tembok yang lebih tinggi, kini menjulang di hadapanku. Entah kenapa tembok ini sangat tinggi. Rasanya tidak masuk akal. Jika di jalan terjal, muncul tembok tinggi penghalang sangatlah wajar karena aku mungkin tidak mampu menghancurkan tembok itu dan melanjutkan perjalanan pada jalan yang belum pernah aku jalani. Namun kali ini berada pada di jalan yang sama denganku. Aku terus berpikir setiap malam,kenapa tembok ini tumbuh tinggi menjulang. Terpampang gambar salibMu di ujung tembok penghalang itu. Namun hanya samar-samar. Aku pun mendengar sayup-sayup orang di seberang sana membanggakan tembok ini dan membanggakan lukisan salib yang dibuat dengan tangannya itu, yang bahkan aku pun tidak dapa melihatnya.

Mengapa tembok ini muncul dengan kesombongan yang sangat dasyat. Bukankah aku sama dengan mereka ? Mengapa mereka merasa aku ini  seperti orang yang kotor ? Padahal aku hanya mencari perasaan sebagaimana yang digambarkan oleh orang-orang yang berada di jalan yang sama denganku. Lalu aku pun disingkirkan oleh orang-orang tersebut. Penghalangku untuk merasakan itu, menjadi semakin sulit. Perlukah kutunjukkan seberapa besar kedekatanku dengan Tuhan agar mereka dapat membiarkanku masuk. Mungkin saja orang yang aku tunggu tidak pernah membuat tembok itu, hanya saja begitu banyak tangan yang merasa dekat denganMu, membuatkannya agar aku tidak dapat masuk ke dalamnya.

Perlukah aku berkumpul bersama mereka, berdoa beramai-ramai memuja namaMu, padahal aku lebih suka berbicara padaMu dalam suasana sepi yang intim ? Perlukah aku ikut bertingkah seperti mereka, padahal aku bisa membuat orang yang menjadi mengenalMu dari mataku dan caraku berbicara tentang Tuhan ? Perlukah aku memperlihatkan bahwa aku memujaMu di depan banyak orang ? Aku tidak mau melakukan itu, karena bagiku, pengetahuan akan kasihMu sudah cukup.

Kalau begitu, dapatkah aku bertanya, di jalan mana aku diperbolehkan berjalan dengan santai mencari rasa cinta yang telah aku tunggu sejak lama ? Perlukah aku kembali mencoba berbalik ke jalan yang terjal itu, karena rasanya tinggi temboknya tidak terlalu tinggi. Tapi.. ah, sudahlah. Aku lebih baik berpikir lagi sembari melihat tembok berlukiskan salibmu.

Tidakkah aku diberikan kesempatan untuk melihatnya ? Aku pun tidak tahu apa ini adalah wanita yang baik untukku kelak atau tidak. Terlalu jauh jika aku mengharapkan cinta ini akan bertemu. Aku hanya berharap dia masih seperti terakhir aku bertemu dengannya.  Mewujudkan kasihnya untuk sesama tidak hanya seperti bualan di mulut dan di depan kawannya sendiri, namun peduli untuk menolong sesama. Mungkin wanita inilah yang kucari. Aku belum mengatakan bahwa aku mencintainya. Mengenalnya lebih dekat adalah hal yang jauh lebih baik untuk saat ini. Ah, tapi sudahlah, aku pun tidak tahu kapan bertemu dengannya lagi.

——-

Ah.. apa yang kubicarakan ini ? Percuma aku meracau semalaman, tidak akan ada seorang pun yang mengerti dan mendengarkanku. Tuhan pasti mengerti, namun Dia meninggalkanku teka-teki. TEKA-TEKI. (?)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s