SEPAKBOLA JUGA KOMERSILKAN AGAMA

Sepakbola, bisnis dan agama sebenarnya adalah tiga bidang berbeda yang dijalankan dengan pengkhayatan yang berbeda pula, namun tidak ada yang pernah menduga tiga hal yang jelas berbeda ini bisa saling terkait satu sama lain. Adalah publik sepakbola Skotlandia yang menjadi saksi bagaimana agama dimanfaatkan sedemikian rupa untuk mengkomersilkan industri sepakbola. Lalu bagaimana semua hal itu dapat terjadi ? Sekilas, cerita ini akan dianggap omong kosong belaka, namun hal ini benar-benar pernah terjadi.

Komersialisasi agama bermula dari adanya sentimen antara penganut Kristen-Protestan dengan penganut Katholik. Tiga ratus tahun setelah reformasi gereja, banyak warga Irlandia yang menderita kemiskinan. Dari kondisi tersebut, warga-warga Irlandia yang beragama Katholik tersebut mencari peruntungan dengan bermigrasi ke Skotlandia, ke kota Glasgow tepatnya. Kepindahan mereka ternyata menghadapi tantangan yang cukup berat, karena sentimen antar dua aliran Kristen ini masih sangat kuat. Karena sentimen tersebut, akhirnya orang-orang Katholik dikucilkan dari masyarakat. Banyak dari mereka gagal bekerja di perusahaan-perusahaan milik pengusahan yang beragama Kristen-Protestan, namun sebagian lagi berhasil mulai membuka usahanya. Karena hidupnya menjadi terpisahkan dengan masyarakat Kristen-Protestan di Glasgow, maka orang-orang Katholik tersebut tidak punya pilihan selain bergaul dan memperat hubungan dengan sesama Katholik. Di sinilah gesekan terus terjadi antar orang-orang beragama Kristen-Protestan dan Katholik.

Singkat ceerita ada seorang biarawan Serikat Maria bernama Romo Walfrid yang memutuskan untuk membentuk sebuah tim sepakbola Glasgow Celtic pada tahun 1888. Tentu sudah bisa ditebak siapakah pemain-pemain Glasgow Celtic saat itu, yap, pasti lah hanya orang-orang Katholik yang bermain di situ. Salah satu alasan Romo Walfrid saat itu adalah karena ketakutannya akan pengaruh Kristen-Protestan yang cukup meluas pada anak-anak muda, sehingga Romo Walfrid berinisiatif untuk mewadahi aktivitas kaum muda melalui sepakbola. Memang rencana Romo Walfrid berjalan sangat baik. Prestasi demi prestasi didapatkan Celtic melalui sepakbola.

Namun, tantangan baru muncul. Klub rival sekota mereka adalah Glasgow Rangers. Tentu sudah dapat ditebak siapakah pemain yang bermain untuk Glasgow Rangers. Sudah pasti warga Glasgow yang beragama Kristen-Protestan. Pada awalnya, persaingan Rangers-Celtic yang sering disebut Old Firm ini tidak pernah diwarnai dengan sentimen agama, namun warga beragama Kristen-Protestan di Glasgow saat itu sepakat untuk mendukung Glasgow Rangers dapat menghancurkan reputasi Glasgow Celtic melalui sepakbola. Di sinilah sentimen yang berdiri atas nama agama muncul di stadion sepakbola. Yel-yel anti Katholik dan Paus terus dinyanyikan para suporter Rangers kala mereka bertanding melawan Celtic dan sebaliknya.

Era gesekan yang baru mulai terjadi di tahun 1980-an dimana industri sepakbola di Skotlandia sudah mulai bergerak maju. Idealisme tentang agama pemain sudah mulai luntur. Pada tahun 1989, Rangers mengontrak seorang pemain beragama Katholik yaitu Maurice Johnston. Sontak suporter Rangers pun melayang protes pada manajemen. Namun, manajemen Rangers tidak menanggapi kritis suporter tersebut, karena manajemen sendiri sudah mempunyai cita-cita untuk Go International dan bersaing dengan klub-klub Eropa. Untuk itu, Rangers berkeingingan merekrut pemain-pemain latin, yang notabene adalah pemain-pemain beragama Katholik. Untuk menarik simpati suporter Rangers sendiri, Maurice Johnston pernah tertangkap basah menyanyikan lagu yel-yel anti-Katholik. Para pemain Katholik di Rangers pun malah memancing para suporter untuk terus meneriakkan yel-yel bernada rasis tersebut.

Seiring berjalannya waktu, baik Celtic maupun Rangers menghilangkan idealisme mereka akan agama pemainnya. Hal tersebut terjadi karena kebutuhan dalam industri sepakbola untuk bersaing mencapai prestasi setinggi-tingginya untuk mendatangkan makin banyak investor dan uang. Namun, di saat yang sama mereka tidak bisa menghentikan sentimen agama di tingkat suporter, bahkan cenderung membiarkan (setidaknya hal ini terjadi hingga akhir tahun 1990-an). Klub seakan memandang bahwa suporter adalah mangsa pasar dan harus tetap dibiarkan fanatik seperti itu untuk menjaga keutuhan mangsa pasar. Semakin fanatik suporter sepakbola, maka akan semakin meningkat semangat mereka untuk membeli berbagai atribut klub sepakbola kesayangannya ataupun sekedar nonton ke stadion, dan semua itu adalah bagian dari pendapatan tim. Meskipun mereka tahu bahwa sentimen yang terjadi adalah karena tim sepakbola dan agama, namun pembiaran itu dianggap wajar demi memenuhi kebutuhan tim sepakbola di era industri.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membenarkan sentimen atas nama agama, namun ini adalah kenyataan di era industri, khususnya dalam industri sepakbola. Segala hal yang menyangkut industri tentu akan berorientasi pada kebutuhan dana dan komersialisasi hal-hal yang menarik bagi masyarakat atau mangsa pasar, dalam konteks sepakbola, hal itu merujuk pada suporter sepakbola.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s