YANG FANATIK = YANG MENOLAK

sumber : danisiregar.com

sumber gambar : danisiregar.com

Hamparan padang rumput di sore hari nampaknya lebih indah dibanding mendengar keributan di tengah jalan sana. Memperebutkan Tuhan dengan mempertandingkan kitab dan nabi-nabi di dalamnya. Entah sadar atau tidak, pertandingan ‘memperebutkan Tuhan’ bukanlah hal yang penting di dunia ini. Jika kau melihat ke bawah, tidakkah kau lihat Setan tertawa puas melihat perilaku para manusia itu. Seakan Lucifer berhasil mempermainkan skemanya dan para atheis menjadikan para penganut agama tersebut sebagai lelucon. Andaikan Tuhan dapat turun hari ini juga, tak heran dia tertunduk malu melihat umatNya, anakNya seperti ini.

Semua berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa dan semua seakan gagal memahami arti dari ‘Yang Maha Kuasa’. Sebuah kata sederhana yang memungkinkan kita merujuk segala hal di dunia pada sang ‘Alpha dan Omega’, ‘Yang Awal dan Yang Akhir’. Jika yakin pada kata ‘Yang Maha Kuasa’, bukankah seharusya kita berdamai dengan keadaan di dunia ini dan bersama menuju ‘Yang Esa’.

Seorang Muslim berbicara ‘Kafir’ pada jemaat yang beribadah di gereja, bersembayang di pura dan mereka yang tidak mengenal seorang bernama Muhammad yang memiliki gelar sebagai nabi dan rasul Allah. Seorang Kristen keluar dari gereja dan menyalahkan Muslim atas tragedi terorisme. Seorang pecalang keluar berkendara sepeda motor tanpa mengenakan helm dan tidak mau kena tilang karena menganggap dirinya suci. Seorang Budha yang tidak mau menerima keberadaan Muslim di tempat tinggalnya. Pada siapa mereka berdoa setiap malam ? “Tuhan Yang Maha Kuasa” jawabnya serentak. Pada siapa mereka yang berbeda berdoa setiap malam ? “Entah !”

Tidakkah lucu, jika kau menganggap ‘Yang Maha Kuasa’ adalah satu dan kau sadar mereka yang berbeda menyebut ‘Yang Maha Kuasa’ dalam adat yang berbeda, namun kau menganggapnya bukan sebagai penyembah Tuhan. Tidakkah kau berniat menjauhkan mereka dari Tuhan ? Kau mungkin berpikir, “mengapa mereka yang tidak melakukan hal yang sama denganku boleh mendapat tempat yang sama?” iya kan ? Jadi, apakah ini tentang Tuhan atau tentangmu ?

Bukankah jika kau yakin Tuhan adalah satu, kau pun yakin ‘Yang Maha Kuasa’ adalah satu bukan? Jika begitu, dapatkah kau yakin ketika mereka yang berbeda menyebut ‘Tuhan Yang Maha Kuasa’ adalah Tuhan yang sama dengan yang kau sembah ? Jika jawabanmu adalah ‘tidak’, jawablah dua pertanyaan ini,(1) Apa kau berniat menjauhkan mereka yang berbeda dari Tuhan ? (2) Ini adalah tentang Tuhan, atau tentangmu ?

Apakah Tuhan = Agama ? Bukankah Tuhan adalah zat paling agung di alam ini ? Bayangkanlah menjadi Tuhan dalam bayanganmu. Ketika miliaran orang menyerukan nama ‘Tuhan Yang Maha Kuasa’, apakah Dia akan memilih umatnya ? Apakah Dia akan memeriksa KTP setiap orang dan berkata, “Ini bukan agama pilihanKu nih, bukan namaKu yang dipanggilnya,” ? Apakah Tuhan seperti itu ? Jika begitu, kesempurnaan Tuhan pun menjadi hilang. Karena ‘Yang Maha Kuasa dan Maha Mendengar’ itu kini tidak lagi mendengar semua umat manusia. Itukah Tuhan yang dibutuhkan manusia ? Seorang pernah memperdengarkakanku sebuah ayat, entah dari surat apa yang berbunyi “Bagiku Agamaku, Bagimu Agamamu,” dan bunyinya terasa tepat di telinga. Tidak ada yang yang pernah berkata, “Bagiku Tuhanku, Bagimu Tuhanmu,” karena hal itu terasa tidak tepat.

Jika kau percaya Tuhan adalah satu, secara logika kau percaya, bahwa ‘Yang Maha Kuasa’ adalah satu. Sehingga semua yang menyebut ‘Tuhan Yang Maha Kuasa’ adalah mereka yang berdoa pada Tuhan yang sama denganmu.

Salam

Penulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s