NASIBMU BURUH

sumber : adiannapitupulu.com

sumber gambar : adiannapitupulu.com

Jika membaca tulisan ini, mungkin sedikit terlambat dan tidak sesuai momen hari ini. Hari ini pun bukan hari buruh, namun apa salahnya jika kita kembali memikirkan bagaimana banyak buruh-buruh di negeri ini mendapat ketidakadilan dan tidak dapat menuntut perusahaan karena mereka tidak memiliki kekuatan dan uang. Para kapitalis bisa saja merebut keadilan itu karena mereka dapat mengecam siapapun dan membayar ‘keadilan’ dengan rupiah.

Di sebuah perusahaan swasta yang memproduksi obat-obatan, para karyawan menikmati hari-hari mereka sebagai karyawan bukan karena mereka menyukai pekerjaan tersebut melainkan karena mereka melihat keluarganya dapat terjamin kebutuhan sehari-harinya. Keringat yang mengalir deras selama delapan jam setiap harinya terbayar ketika meja makan di rumah terisi dengan kehangatan sayur, daging dan kasih sayang saat makan bersama. Namun hal itu hanyalah basa-basi bagi sang kapitalis. Perlukah sebuah perusahaan memikirkan kesejahteraan karyawannya ? Ya. Namun, kenyataannya, pedulikah mereka ? Tentu tidak.

———-

Perusahaan anda telah besar, lalu apakah yang anda lakukan ? Bagaimana jika memperluas pengaruh perusahaan ini di pasar, dengan begitu keuntungan anda semakin besar bukan ? Jelas, hal itu yang dilakukan. Lalu pertanyaan selanjutnya, maukah anda bekerja lebih keras dari ini ? Jika anda memiliki karyawan, untuk apa anda bekerja keras, manfaatkan saja mereka. Mereka akan melakukan apapun untuk sesuap nasi di ruang makan nanti malam. Lalu, akan muncul pertanyaan terakhir, PANTASKAH ?

Anda adalah pengusaha kelas kakap dengan keuntungan Rp 18M/hari. Anda adalah pengusaha yang memiliki karyawan dengan jumlah besar mengabdi pada anda. Setiap tahun akan datang karyawan baru dengan kualitas yang sangat baik. Banyak dari karyawan anda telah mengabdi pada anda selama puluhan tahun. Tentu anda sangatlah bahagia. Akankah kau membayar mereka dengan pantas ?

“Untuk apa membayar prestasi mereka, jika mereka sudah bisa makan setiap harinya?!” Itulah yang kau teriakkan padaku. Teriakkan itu kau dengungkan di saat anak istrimu sedang menghabiskan miliaran uang hasil kerjamu dan karyawanmu. Jadi apa anakmu kini? Berpotensikah dia menjadi penggantimu di posisi puncak singgasanamu ?

Pengabdian puluhan tahun, layak diberikan pesangon ratusan juta. Sudah jelas dengan posisinya saat ini, puluhan tahun bukan waktu yang singkat untuk membantumu mencapai puncak saat ini. Popularitas dan keuntungan perusahaan sangat bergantung pada loyalitas mereka. Namun, satu saat muncul bisikan setan yang kau puja setiap harinya. “Aku punya kekuasaan, kekuatan dan uang. Kukeluarkan saja sedikit uangku, untuk mencegah uangku yang akan terbuang lebih banyak untuk karyawan-karyawan itu. Mereka hanyalah buruh, apa peduliku ?”

Itulah kata terakhir yang kau katakan padaku sebelum masa indah para karyawan itu berakhir.

———–

Kisah nyata ini terjadi di sebuah perusahaan yang namanya sudah besar dan meproduksi obat secara masal. Kita dapat melihat produk-produknya dijual di warung-warung, minimarket, hingga toko-toko besar dan rumah sakit. Sebagai pengusaha yang harus menghadapi karyawan loyalnya yang telah mengabdi selama puluhan tahun, tentu sangat wajar apabila uang ratusan juga keluar dari koceknya sebagai pesangon. Ditambah, itu merupakan bagian dari perjanjian saat seorang karyawan mulai bekerja. Kesepakatan batal, apabila sang karyawan melakukan tindakan tidak terpuji dan dipecat dari perusahaan. Coba cermati kalimat barusan. Bagaimana jika seorang pemimpin perusahaan dapat membuat seorang karyawannya melakukan tindakan yang memicu pemecatan, maka uang ratusan juta tidak pernah keluar dari koceknya serta tidak perlu repot-repot kekurangan keuntungan.

Seorang akuntan didatangkan dengan tujuan mengaudit seluruh karyawan. Mendadak, ‘kasus-kasus palsu’ dimunculkan. Entah berapa banyak karyawan loyal pada perusahan tersebut mendadak menjadi ‘karyawan tidak terpuji’. Beberapa diantaranya diketahui memiliki hubungan dengan perusahaan lain (bisa supplier ataupun lainnya), beberapa lagi diketahui mendapat hadiah dari perusahaan lain dan kasus-kasus sepele lainnya. Jika begitu, dan perusahaan ingin mengangkat kasus ini, sudahkah anda sebagai pimpinan memikirkan kesejahteraan karyawan ? Pernahkah anda memberi hadiah pada karyawan anda ?

“UNTUK APA SAYA MENGELUARKAN RATUSAN JUTA UNTUK PARA KARYAWAN ITU, JIKA SAYA HANYA PERLU MENGELUARKAN Rp 40JUTA UNTUK MEMBAYAR AKUNTAN DAN MENYERET MEREKA PADA PEMECATAN ? PERSETAN DENGAN LOYALITAS PULUHAN TAHUN !” –Pemikiran sang pemimpin perusahaan-

Seakan perusahaan kembali pada masa awal revolusi industri. Karyawan terus ditekan begitu keras tanpa mempedulikan kesejahteraannya, untuk menarik keuntungan sebanyak-banyaknya untuk sang pemimpin perusahaan. Dapatkah kita bergerak, jika uangnya bisa membeli ‘keadilan’ ? Perlukah mempublikasikan nama perusahaan itu, hingga semua orang tahu ?

Tangan-tangan itu terlalu lemah untuk melawan, kantong mereka terlalu tipis untuk membalas kekuasaan uang, kepala mereka terlalu keras diinjak dan hati mereka terlalu takut pada ancaman lebih besar.

Terakhir, saya berharap cerita ini adalah yang terakhir. Tidak ada lagi tangisan buruh, tidak ada lagi hasil kerja yang sia-sia, tidak ada lagi loyalitas yang direndahkan.

Silahkan bagikan tulisan ini di facebook, twitter, atau media sosial lainnya, agar para tangan di atas melihat ke bawah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s