MENAKAR KECEMASAN

sumber gambar : health.kompas.com

Semua orang merasakan cemas, bahkan dalam 10 detik saja kita dapat memikirkan puluhan kecemasan yang sedang dialami atau bahkan yang belum dialami sama sekali. Beberapa diantaranya dapat terselesaikan dengan mudah, sedangkan sisanya bertumbuh menjadi parasit dalam kepala yang siap menghantui kapan saja. Ribuan orang mencoba berdiri di depan panggung mencoba menjadi nabi bagi setiap orang pemilik kecemasan dengan menghadirkan mutiara dan berlian melalui mulut manisnya. Api yang dikobarkan menyulut kepala setiap orang yang hadir di depan panggung tersebut. Namun ternyata itu hanya bagaikan ganja di dalam sebuah pesta di akhir pekan, tidak akan menyenangkan ketika hari senin tiba. Aku sendiri ragu jika itu yang dibutuhkan orang saat ini.

Menemukan solusi untuk diri sendiri lebih sulit dibandingkan memikirkan persoalan orang lain. Jika kita kembali menelisik pada dialog dalam pertemanan, dimana adanya aktivitas berbagi di dalam kelompok tersebut, setiap orang tentu mengharapkan adanya orang lain yang akan menjadi jawaban dari sebuah pertanyaan besar yang menggantung dalam kepalanya. Hanya saja dalam pergaulan sehari-hari, kita lebih sering menemukan solusi-solusi normatif berupa motivasi atau semangat yang sebetulnya kita sendiri tidak tahu apakah semangat itu muncul dari dalam hatinya atau hanya sebuah formalitas pelengkap dialog. Sejauh mana dialog tersebut akan berdampak pada kehidupan si ‘pencurhat’ hanya dapat dilihat jika teman-teman di sekelilingnya benar-benar berpikir dalam membuat sebuah dialog. Tapi bukan itu inti tulisan ini. Jauh sebelum itu ada dua hal yang perlu disadari mengapa dialog akan kecemasan orang lain merupakan hal yang penting dan secara tidak langsung berpengaruh pada kehidupan kita sendiri.

Pertama, kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok hari atau apa yang terjadi beberapa hari lalu pada orang lain di sekitar kita. Setiap tindakan kecil mempengaruhi kejadian di masa mendatang. Kita tidak pernah tahu jika seorang teman atau saudara yang mengeluhkan kecemasan yang mungkin sepertinya sepele, namun ternyata dia memiliki motivasi untuk bunuh diri atau menghancurkan hidupnya sendiri. Sehingga, dialog merupakan jalan yang mudah untuk membuat alternative timeline untuk kehidupannya esok hari. Di saat itulah kesempatan kita mengukur kecemasan yang dirasakannya dengan rentetan peristiwa yang pernah dialaminya. Caranya memandang masalah tersebut dapat digunakan untuk menelaah seluk beluk sebuah masalah. Orang lain tak pernah berharap kita mengenal secara pasti kecemasannya, namun jauh di dalam hati siapapun itu tentu berharap lawan bicaranya dapat mengenal kecemasan dan masalahnya.

Kedua, masalah orang lain bisa saja merupakan cermin terhadap diri kita. Meskipun sekilas masalah kita berbeda dengan teman yang menjadi lawan bicara, saat menggali lebih dalam kecemasannya kita bisa saja menemukan beberapa poin masalah yang sama. Dengan sebuah dialog dari 4 hingga 5 orang, komunikasi dua arah bisa saja menjadi jawaban bagi setiap orang yang berdialog tersebut. Kecemasan orang lain adalah cermin terbaik bagi diri kita untuk berintropeksi. Bukan tidak mungkin keterbukaan orang lain membuat kita tersentak. Alternative timeline akan dibuat bukan hanya untuk teman yang membicarakan kecemasannya, namun juga diri sendiri.

Dalam tulisan ini, tidak ada maksud untuk menggurui. Namun hal-hal tersebut merupakan dari pengalaman pribadi yang seringkali bingung dengan kecemasan diri sendiri yang dianggap ‘paling berat’. Ketika terbuka kesempatan pada sebuah dialog informal dan harus mendengarkan kecemasan orang lain, di situlah saya menemukan ukuran untuk menakar kecemasan diri sendiri. Mendengarkani kecemasan orang lain dan tersentak terhadap opini lawan bicara lainnya adalah proses untuk melihat diri sendiri. Kita bukanlah orang yang paling cemas di dunia. Ketika telinga terbuka, mata akan ikut terbuka, hati tergugah dan aliran darah berjalan cepat di dalam kepala. Proses menuju pemikiran yang baru sedang dimulai, mari nikmati prosesnya.

*nb : Tulisan ini bukan untuk memecahkan masalah anda. Hanya berharap anda kembali berpikir dengan kecemasan anda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s