Sorry, I Can’t Good Enough To Be Your Friend

Sumber : weheartit.com

Sumber gambar : weheartit.com

Sudah lebih dari 8 tahun aku mengenalmu. Kala itu orang-orang masih memanggil kita ‘para bocah’. Tawa pertamamu untukku masih kuingat dan itu adalah kenangan kita di depan hamparan kebun teh, bersama menghirup angin segar berhawa dingin dataran tinggi. Kita berbagi banyak hal, tanpa mengenal waktu, tawa dan tangis menghiasi hari-hari kita saat itu. Rasa sayang diantara kita membuatku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendirian selamanya. Aku ingin menjadi sahabat yang bisa melindungi dan ada di sampingmu.

Baca lebih lanjut

Iklan

NASIBMU BURUH

sumber : adiannapitupulu.com

sumber gambar : adiannapitupulu.com

Jika membaca tulisan ini, mungkin sedikit terlambat dan tidak sesuai momen hari ini. Hari ini pun bukan hari buruh, namun apa salahnya jika kita kembali memikirkan bagaimana banyak buruh-buruh di negeri ini mendapat ketidakadilan dan tidak dapat menuntut perusahaan karena mereka tidak memiliki kekuatan dan uang. Para kapitalis bisa saja merebut keadilan itu karena mereka dapat mengecam siapapun dan membayar ‘keadilan’ dengan rupiah.

Di sebuah perusahaan swasta yang memproduksi obat-obatan, para karyawan menikmati hari-hari mereka sebagai karyawan bukan karena mereka menyukai pekerjaan tersebut melainkan karena mereka melihat keluarganya dapat terjamin kebutuhan sehari-harinya. Keringat yang mengalir deras selama delapan jam setiap harinya terbayar ketika meja makan di rumah terisi dengan kehangatan sayur, daging dan kasih sayang saat makan bersama. Namun hal itu hanyalah basa-basi bagi sang kapitalis. Perlukah sebuah perusahaan memikirkan kesejahteraan karyawannya ? Ya. Namun, kenyataannya, pedulikah mereka ? Tentu tidak. Baca lebih lanjut

MENAKAR KECEMASAN

sumber gambar : health.kompas.com

Semua orang merasakan cemas, bahkan dalam 10 detik saja kita dapat memikirkan puluhan kecemasan yang sedang dialami atau bahkan yang belum dialami sama sekali. Beberapa diantaranya dapat terselesaikan dengan mudah, sedangkan sisanya bertumbuh menjadi parasit dalam kepala yang siap menghantui kapan saja. Ribuan orang mencoba berdiri di depan panggung mencoba menjadi nabi bagi setiap orang pemilik kecemasan dengan menghadirkan mutiara dan berlian melalui mulut manisnya. Api yang dikobarkan menyulut kepala setiap orang yang hadir di depan panggung tersebut. Namun ternyata itu hanya bagaikan ganja di dalam sebuah pesta di akhir pekan, tidak akan menyenangkan ketika hari senin tiba. Aku sendiri ragu jika itu yang dibutuhkan orang saat ini.

Baca lebih lanjut