KASIH YANG BEDA AGAMA

sumber gambar : www.ceritamu.com

sumber gambar : http://www.ceritamu.com

Hai, gue Romi dan sudah beberapa bulan gue memadu kasih dengan kekasih gue (iya lah, masa kekasih orang lain). Gue ga pernah inget angka, makannya gue cuman inget kalau kita sudah jadian beberapa bulan yang lalu. Jujur, gue beragama Kristen, sedangkan pacar gue yang bernama Ivana berasal keluarga Islam taat dan Ivana pun beragama Islam (obviously !). Sehingga kita memutuskan untuk backstreet. Pacaran backstreet itu susah ya. Yap, backstreet. Back itu artinya di belakang, Street itu jalan. Jadi kita itu pacarannya di belakang jalan, soalnya kalau di tengah jalan takutnya ketabrak, apalagi kalau ketabraknya sama bokap nyokapnya dia, masalahnya bisa jadi double dan belum lagi kalau yang nanggung biaya kecelakaan itu bokap nyokap gue, bisa-bisa gue dipecat jadi anak. Soalnya gue kan lahir dari keluarga Akew yang totok, jadi ga mau rugi. Gue tebak, kalau benar kecelakaan, yang pertama diomelin adalah kerugian akibat kecelakaannya, bukan karena pacar gue yang berkerudung dan beda agama. Backstreet juga bisa berarti jalan belakang. Kita kalau kencan sukanya lewat jalan belakang, karena di jalan depan suka ada yang tabrakan (jadi bikin jalan macet). Di jalan depan juga suka ada razia, sedangkan gue kan ga punya SIM, bahaya kalau lewat sana, belum juga kencan udah bisa tekor bayar tilang ratusan ribu.

Gue jatuh cinta dengan Ivana semenjak berkenalan pada sebuah acara di kampus. Awalnya gue ga mau pacaran dengan yang beda agama, apalagi dia taat sama agama (ditandai dengan kerudung dan rajin sembayang), dan dia pun bukan Tionghoa seperti keluarga gue. Tiap ditanya tipe gue kaya apa, gue akan selalau menjawab ,”Yang cantik, seksi, tapi ramah,” dan itu ga ada di Ivana. Tapi emang gue akuin, walaupun dia ga terlalu cantik, tapi dia sangat ramah, menyenangkan dan lumayan manis. Pakaian tertutupnya itu juga ga bisa menyembunyikan tubuh singsetnya. Darimana gue tahu? Dari pertama ketemu, gue udah ngebayangin. Aduh, ketahuan deh jadinya kalau cowok itu suka ngebayangin cewek yang baju tertutup, karena ga ketahuan, jadinya dibayangin. Kalau yang pake bikini mah udah biasa, udah tahu dalamnya kaya gimana, ya ga usah dibayangin lagi. Hehehehe… Okey, cukup.

Setelah lama dekat, ternyata gayung bersambut, dia juga suka sama gue walaupun dia tahu gue seorang Kristen. Bukan cuman itu aja, dia tetep mau sama gue meskipun gue punya kebiasaan yang bertentangan dengan prinsipnya. Gue masih suka minum alkohol, karena gue yakin alkohol ga cuman punya pengaruh buruk dan banyak artikel yang bercerita tentang dampak positif alkohol yang dikonsumsi dalam jumlah teratur. Tapi tetap aja, itu bertentangan dengan ajaran agama yang dianut oleh Ivana, ya asal dia ga kebawa sama gaya gue ini aja. Satu lagi, kalau yang ini emang bener jelek sih, gue masih suka nonton bokep. Kali ini dia maklum karena kemungkinan menemukan cowok yang ga suka nonton bokep itu jauh lebih sulit daripada dapetin beasiswa ke Yale University (salah satu universitas terbaik di Amerika Serikat).

Kalau mau kencan, biasa kami diam-diam dari orangtua kami. Tapi, ada sesuatu yang membuat gue kaget. Gue rasa bokap nyokap gue tahu gue pacaran sama Ivana. Jadi, gue tahu kalau mereka itu tahu gue pacaran sama Ivana. Bukan cuman itu, bokap nyokap gue juga tahu kalau gue tahu bahwa mereka tahu hubungan gue. Gue sih di depan mereka pura-pura engga tahu bahwa mereka tahu soal hubungan gue dan Ivana. Gue pura-pura engga tahu kalau bokap nyokap gue pura-pura engga tahu kalau gue pacaran dengan Ivana. Ivana juga gitu, dia pura-pura engga tahu kalau gue tahu bokap nyokep gue tahu tentang hubungan gue sama Ivana.

Terus, bokap nyokap Ivana gimana ? Jujur, mereka bingung sama Ivana yang suka telepon-teleponan sambil senyum sendiri. Mereka kadang mengerenyutkan dahi ketika Ivana tersenyum sendiri. Bokap nyokap Ivana hanya bingung, tapi mereka engga tahu apa-apa. Ivana sendiri kadang bingung kenapa bokap nyokap dia suka bingung sendiri sambil melihat Ivana. Ivana bingung, mereka tahu apa engga soal hubungannya dengan gue, sedangkan bokap nyokapnya Ivana bingung kalau si Ivana itu emang jadi murah senyum atau jadi gila. Pernah Ivana ditarik bokap nyokapnya untuk dibawa ke psikiater dan berakhir dengan sebuah suntikan yang ga seharusnya dia terima.

Lo semua lihat sendiri kan, bagaimana menderitanya kami berdua mempertahankan hubungan ini ? Yang satu harus adu konspirasi dengan orangtua, dan yang satu lagi dianggap gila. Sebenarnya inti masalah dari pacaran beda agama apa ya ? Mungkin gue dan dia terlalu muda untuk mengerti. Tidak seperti pendeta flamboyan yang berkhotbah sana sini seakan menjadi yang paling mengerti Tuhan Yesus. Atau haruskah seperti Habib yang merazia rumah makan saat bulan puasa agar gue lebih mengerti permasalahan hubungan beda agama ? Menurut gue sih, Tuhan itu satu dan Tuhan sayang dengan manusia. Pertanyaannya, apakah memang nanti Tuhan menghukum kita kalau status KTP kita (kolom agama) berbeda dengan pasangan kita ? Apakah agama = iman = Tuhan ? Ataukah agama hanya hitam di atas putih ? Ataukah agama adalah wujud ekpresi yang berbeda-beda dari setiap manusia yang percaya pada Tuhan ? Itu masih misteri menurut gue.

Akhirnya gue memutuskan meminta nasihat pada orang-orang yang lebih tua dari gue, dari pasangan suami-istri dan juga pada temen-temen gue. Katanya sih, menurut mereka kalau mau hubungan ini jalan, MINIMAL atau PALING TIDAK, salah satu kami harus pindah agama. Ya, terus setelah bermeditasi dan merenung beberapa minggu (tentunya diselingi dengan makan, minum, mabok, main sama temen-temen, main COC dan main ‘Duel Otak’) akhirnya gue membuat sebuah keputusan. Gue bakal pindah agama. Gue akan pindah agama jadi Buddha, karena gue lihat banyak biksu-biksu yang gue kenal berbicara sangat santun dan filosofis, itulah yang bikin gue kagum sama Buddha. Tapi bukan cuman gue yang membuat keputusan, tapi juga Ivana. Ivana mendengar perkataan salah seorang, “Minimal atau paling tidak , salah satu dari kalian harus pindah agama,” dan maka dari itu Ivana berpikir untuk mengambil langkah maksimal. Bagaimana kalau tidak hanya salah satu dari kita yang pindah agama, tapi kita berdua pindah agama ? Ya, akhirnya dia dan gue pindah agama. Gue pindah ke Buddha dan dia pindah agama jadi Hindhu.

Setelah pindah agama, gue berharap masalah selesai. Tapi kenyataannya engga, malah masalah tambah rumit. Sialan tuh yang ngasih saran pindah agama. Kalau gue ketemu lagi orangnya, matanya gue colok. Ngomongnya bakal nyelesein masalah, tapi keadaannya malah jadi tambah rumit. Ada apa ya sama otak itu orang? Kampret ! Btw, kenapa gue ga nanya ke pemuka agama ya? Ah, sudahlah. Kalau dulu yang marah ke gue cuman orangtua gue, sekarang ditambah dengan orangtua Ivana karena gue dianggap bawa pengaruh buruk. Begitu juga sebaliknya sama Ivana

Bokap nyokap kita berdua akhirnya ngambek sama kita berdua. Kita berdua kayanya bentar lagi diusir dari rumah masing-masing. Karena gue panik, akhirnya gue nyari kos-kosan dan gue denger bokapnya Ivana punya kosan cowok, akhirnya gue ngekos di sana. Cuman gue harus bantuin bersih-bersih kosan juga, selain itu, gue juga harus bayar lebih daripada anak kos lainnya.

Kalau Ivana sih katanya dia tinggal di kosan temennya. Tapi untuk menopang hidupnya, dia harus kerja. Kebetulan aja akuntan toko bokap gue itu keluar, akhirnya Ivana coba ngelamar kerja di sana. Karena bokap gue juga lagi butuh orang yang jago itung (Ivana jago banget soal ngitung, apalagi dagang), akhirnya bokap gue nerima dia.

Ya begitulah hidup kami. Akhirnya gue ga dibenci bokap nyokap Ivana lagi, karena ternyata gue bawa keuntungan di bisnis kos-kosannya. Ivana juga ga dibenci sama bokap nyokap gue lagi karena tenaganya menjadi andalan di toko bokap gue. Begitulah hidup kami, walau gue masih ga tahu ke depannya kaya gimana.

Hikmah yang bisa diambil dari cerita gue ini adalah jelas pindah agama bukan jalan buat pasangan beda agama. Di tengah era modern ini, solusi haruslah menjawab kebutuhan jaman. Kalau dari kasus gue sih, keuntungan ekonomi dari masing-masing pihak berkepentingan yang jadi solusinya. Ini solusi gue, gimana solusi lo ?

#SantaiAja #GaUsahSeriusAmat

 

TULISAN INI DIBUAT HANYA UNTUK MERINGANKAN OTOT-OTOT TEGANG PASCA SIDANG UJIAN SKRIPSI.

TIDAK PERLU DIBACA APABILA ANDA SEDANG DALAM KEADAAN KESAL ATAU EMOSI. GRACIAS !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s