BUKAN RAJA JALANAN

“Tuhan tolong adikku Tuhan. Jangan ambil dia dariku !” teriak seseorang dengan histeris di depan ruang ICU.

Mendengar suaranya, seluruh pasien dan perawat pun menatap ke arahnya. Salah satu perawat mencoba menahannya karena mencoba masuk ruang ICU. Sementara kepalaku yang masih sedikit pusing mencoba medekat ke arahnya. Beberapa saat terdiam di samping dia yang menangis histeris. Di sampingnya, detak jarum jam terasa sangat lambat. Aku berpikir cukup beruntung, karena aku masih bisa bangun dan berjalan walaupun rasa pusing di kepalaku belum hilang dan luka lecet di kaki dan telapak tanganku. Kepalaku terbentur cukup keras, namun beruntung helm di kepalaku masih melindunginya. Namun, melihat orang tersebut menangis cukup keras membuatku tidak tega meninggalkannya begitu saja.

“Mas, maafkan saya. Segera saya akan mengganti biaya rugi motor anda setelah adik saya sembuh,” imbuhnya di tengah isak tangisnya yang mulai mereda

“Pikirkan saja itu nanti. Lagipula kondisi sepada motor saya hanya lecet sedikit. Beruntung tadi pagi saya memasang engine guard. Lalu, bagaimana kondisi adikmu itu ? apakah sudah ada perkembangan ?” Tanyaku kembali padanya

“Belum ada mas. Saya juga tidak tahu bagaimana nantinya ? Kondisi adik saya sudah tidak sadar ketika dia terjatuh,” jawabnya.

“Lalu, bagaimana denganmu sendiri ? Kau yang mengenderai sepeda motor itu bukan ?”

“Perawat sudah menjahit luka di lengan dan kakiku. Andai bisa saya tukar nasib saya ini dengan adik saya sekarang, pasti saya lakukan,” ungkapnya menyesal.

Tiga jam sebelumnya.

“Doni, ayo sebentar lagi balapannya mau mulai !” Seru Roland di depan rumah sambil menekan tombol klakson beberapa kali menandakan sedang terburu-buru.

“Iya Bang Roland, sabar, aku lagi cari helm,”

“Udah ga usah, deket ini tempat balapannya. Cepetan, aku harus jadi joki motor temen !” serunya sudah tidak sabar.

“Ya udah deh kalau gitu. Tapi jaketku dimana ya bang ?” tanya Doni lagi.

“Udah ga usah pake jaket, kamu kan cuma nonton ini. Ayo cepet !”

“Ya udah deh,” jawab Doni pasrah dan segera naik ke jok sepeda motor kakaknya itu. Mereka berdua pun menancap sepeda motor bebek yang dipinjam dari ayahnya tersebut untuk berangkat ke tempat tujuan, yaitu arena balap liar.

Sore ini seperti biasanya ada balapan drag race di jalan Komplek Perumahan Tiara, komplek perumahan baru dan masih sepi. Balapan tersebut tidak pernah diketahui aparat karena selain tempatnya yang berpindah-pindah, beberapa oknum yang mengamankan balapan selalu siaga apabila ada petugas polisi yang datang ke lokasi. Beberapa rumor menyebutkan bahwa iuran keamanan yang disetor setiap pengunjung dan pembalap, sebagian disetorkan pada para oknum polisi sebagai suap.

Roland sendiri adalah salah satu joki balap pada balapan tersebut. Roland mengenderai motor temannya. Sebagai joki, dia akan mendapat komisi 40 persen dari taruhan yang dimenangkan dalam balapan tersebut. Sedangkan Doni adalah adik dari Roland yang sangat menggemari dunia balap. Doni sangat sering melihat kakaknya tersebut balapan dan terobsesi untuk menjadi pembalap jika sudah dewasa nanti. Namun sore ini nampaknya bukan hari keberuntungan bagi mereka berdua.

Sepeda motor yang dipacu Roland melaju kencang. Gas ditariknya tanpa henti, hanya sesekali terdengar suara membuang gas hanya untuk mengoper gigi, selanjutnya gas kembali ditarik terus menerus. Belokan tajam terus diterjangnya dan hampir menabrak gerobak penjual pisang goreng yang sedang berjalan. Tidak ada ketakutan di wajah Roland. Baginya, dia adalah raja jalanan dan tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kemampuannya mengendari sepeda motor di jalan raya ini. Baginya peraturan adalah omong kosong untuk pecundang. Di usianya yang menginjak 17 tahun, dirinya enggan memiliki SIM, karena dianggap hanya membuang uang saja, lagipula kepandaiannya mengendalikan sepeda motor sudah teruji di arena balap. Baginya SIM bukan tentang kelayakan dan wawasan lalu lintas, melainkan omong kosong aparat kepolisian.

“Santai aja Don, jangan tegang begitu !” serunya sambil tersenyum dan tertawa.

“Aku santai kog, aku udah biasa melihat Bang Roland ngebut kaya gini,” jawabnya santai.

Saat dirinya sedang memacu sepeda motor dengan kencang, dia melihat sebuah rombongan klub motor. Dengan helm di kepala, jaket di tubuhnya, hingga deker di lututnya. Dengan sepeda motor yang dilengkapi pelindung tangan dan mesin, Roland hanya menganggap rombongan tersebut seperti pawai badut dengan seragam kebesaran. Dengan gerungan tiga kali di samping rombongan tersebut, Roland menghina rombongan sepeda motor itu lalu pergi begitu saja dengan kecepatan tinggi. Lalu lintas yang tengah padat saat itu, dengan lincah diterobosnya dengan menggunakan jalur kanan. Polisi yang melihatnya pun tidak sanggup menangkap Roland. Di tengah lalu lintas yang padat, polisi pun sulit mengejar dengan menggunakan moge-nya. Bak pembalap, Roland menyusul kendaraan lain saat berada di tikungan tajam. Beberapa tikungan berhasil dilewati dengan mulus.

“Sudah dekat Don, sebentar lagi kamu bakal lihat abang menang balapan !” Seru Roland semangat

“Yakin bang ?”

“Yakin lah. Nanti kalau abang menang, kita makan-makan di tempat yang mahal Don !”

“Okey kalau gitu. Pokoknya aku mau makan steak di tempat yang mahal !” seru Doni seraya meminta Roland mentraktirnya jika menang balapan nanti.

Deal !” Roland menyetujuinya sambil terus memacu sepeda motornya.

Di balik perilaku yang sembrono, Roland merupakan kakak yang baik di mata Doni. Jika mendapat sedikit rejeki, pasti dibaginya dengan Doni. Tidak jarang juga Roland memberikan hadiah untuk Doni sebagai kado ulang tahun atau kado kenaikan kelas. Hanya saja cara yang dipakai untuk mendapatkannya, Roland harus mempertaruhkan nyawa dan harga dirinya di arena balap liar. Roland juga sebenarnya ingin memperlihatkan pada Doni jika seorang pembalap tidak boleh takut dengan jalanan. “Keberanian adalah yang utama !” seperti itulah semangat yang diserukan Roland pada Doni setiap kali akan memacu sepeda motor dalam balapan.

Tidak sampai 200 meter, Roland dan Doni akan tiba di arena balap liar. Roland terus menerobos jalur kanan untuk memotong lalu lintas yang padat. Namun, hari ini nampaknya tidak secerah biasanya. Saat Roland hendak berbelok ke kanan, sepeda motor sport dari arah berlawanan dipacu dengan kecepatan cukup tinggi. Ya, pengendara sepeda motor sport itu adalah aku sendiri. Pada saat itu aku terkejut dan langsung mencoba membanting kendali sepeda motor ke arah berlawanan. Roland pun terkejut melihatku melaju kencang di depannya. Roland tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Keterkejutannya membuat tubuhnya serasa kaku dan tidak sanggup memegan kendali sepeda motornya dengan baik. Tidak dapat berbelok ke arah kiri, karena lalu lintas sangat padat, tidak dapat membanting kendali ke kanan karena hal tersebut akan lebih berbahaya lagi. Waktu yang dimiliki sangat sedikit, dan kepala Roland tidak dapat berpikir dengan jernih. Tidak dapat mengelak, pijakan kaki Roland, bergesekan dengan pijakan kakiku dan mengakibatkan kami kehilangan keseimbangan untuk mengendalikan sepeda motor kami masing-masing. Sepeda motor Roland dan sepeda motorku tersebut harus tergelincir di atas aspal dan membuat kami bertiga terpental dari sepeda motor.

Lalu lintas menjadi semakin macet dengan kejadian ini. Aku pun terkejut melihat dua orang yang bertabrakan denganku, jatuh dengan luka di sekujur tubuhnya. Ini mengingatkanku pada kecelakaan yang membuat sahabatku, Yopi tewas. Aku hanya terdiam dan masih terguncang. Seseorang di pinggir jalan nampak membuat sebuah panggilan telepon. Aku harap dia menelepon ambulan.

“Doni ! Doni !” seruan itulah yang terdengar di telingaku sesaat setelah kami terjatuh. Sebenarnya aku ingin marah saat itu, karena aku merasa sudah berada pada jalur yang benar. Namun melihat luka yang didapat mereka saat itu, kuurungkan niat itu untuk sementara waktu. Butuh waktu cukup lama untuk ambulan datang, karena lalu lintas sangat padat saat itu. Setelah itu, yang kutahu kami bertiga dibawa ke rumah sakit. Perawat hanya memberi sedikit jahitan dan memasang perban pada telapak tangan dan area sekitar betisku yang terluka akibat gesekan dengan aspal. Aku sendiri kurang tahu kabar kedua saudara kandung itu.

Sekarang…

Aku melihat seorang dokter keluar dari ruang ICU dan menghampiri kami berdua. Dari ekspresi dokter tersebut, seperti bukan berita bagus yang akan diberitahukannya kepada kami. Setiap langkah yang keluar dari ruangan ICU membuat jantung seakan berhenti, berharap ada kabar baik yang akan disampaikannya.

“Benturan langsung antara aspal dengan kepala adik anda cukup keras. Sekarang adik anda mengalami pendarahan di dalam tengkorak. Saat ini sedang dalam keadaan kritis. Kami akan melakukan yang terbaik untuk adik anda. Mohon bantu kami dengan berdoa,” ucapnya dengan perlahan.

Kali ini Roland tidak bereaksi apapun, hanya terdiam dan menitihkan air matanya. Sementara itu kedua orangtua Roland dan Doni pun akhirnya datang. Setibanya mereka, aku pun sedikit menyingkir dari hadapan mereka karena nampaknya ada pembicaraan privasi diantara mereka. Aku tidak jelas mendengar apa yang mereka bicarakan, namun tampaknya kedua orangtua Roland sangat marah padanya, bahkan hampir saja ayahnya kehilangan kendali dan hendak memukul Roland di depan umum. Namun, beberapa karyawan rumah sakit yang berada di situ berhasil menahan amarah sang ayah. Sementara ibu Roland hanya terduduk sembari menangis histeris meratapi nasib yang dialami anak bungsunya tersebut. Roland, mungkin jiwanya semakin terguncang, mempersiapkan diri untuk menerima kemungkinan terburuk adalah hal yang tidak mudah. Hanya sesal yang tersisa. Roland terus bergumam sepanjang detak jarum jam berbunyi. “Andai saja kubiarkan dia cari helm dan membiarkan kami datang terlambat, pasti dia selamat. Andai aku tidak harus ngebut, pasti dia selamat. Andai aku tidak pergi hari ini, pasti dia selamat. Andai aku tidak perlu balapan sama sekali, pasti dia selamat,” kalimat tersebut lah yang terus-menerus diulang Roland berkali-kali. Mungkin kali ini aku tidak membiarkan nafsu amarahku keluar. Kerugianku hanyalah sedikit lecet pada kulit dan sepeda motorku, aku bisa mengurusnya nanti.

“Mas,” seorang dengan suara berat berdiri dan menghampiriku yang duduk di pojok ruangan tersebut. “Maafkan anak saya ya mas, saya minta tolong jangan perpanjang masalah ini lagi. Saya janji akan mengganti rugi kerugiannya. Tapi saya minta tolong, tidak sekarang. Saya juga sangat minta tolong agar dapat mencicil kerugiannya karena saya ini orang ga punya mas,” ujar bapak tersebut dengan isak tangis yang cukup keras.

Lalu aku menjabat tangan bapak tersebut, “Nama saya Jaka, Om. Sekarang Om fokus saja dengan kesehatan anak Om. Soal kerugian saya, bisa dibicarakan nanti saja. Saya tidak akan memperpanjang masalah ini,” balasku pada bapak tersebut karena perihatin dengan kondisi anaknya saat ini. Doni adalah orang yang tidak bersalah dan tidak seharusnya terlibat dalam masalah ini, namun dialah yang menjadi korban paling parah dalam kecelakaan ini. Jalanan bukanlah hutan belatara tempat hukum rimba berlaku, tidak dapat juga bertingkah bak Raja Neptunus dalam lautan lepas, namun satu kesalahan bodoh akan membawa penyesalan seumur hidup.

Dari arah pintu masuk rumah sakit, aku melihat Jerry, adikku datang menjemputku. Tentu saja aku senang, karena untukku, aku dapat mengakhiri hari ini namun aku masih belum lega dengan kondisi Roland dan Doni. Dengan berpakaian jaket klub motor, lengkap dengan sepatu boot di kakinya, menghampiriku dan hendak langsung membawaku pulang. Namun ketika melihat ke arah Roland, dirinya nampak tidak asing dengan wajah itu.

“Kak, apa bocah itu yang menabrak kakak tadi ?” tanyanya

“Iya Jer, memang kenapa ? Kamu kenal dia ?” aku berbalik tanya.

“Dia adalah orang yang di jalan tadi kutemui dan menghina klub motorku Kak. Sekarang dia menabrak kakakku, kurang ajar dia. Biar kuberi dia pelajaran,” Jawabnya sembari emosi. Lalu kutahan dia, kutarik tangannya dengan cepat sebelum dia menghajar bocah yang sedang menangis tersebut.

“Sudahlah, dia sudah mendapat pelajarannya. Adiknya dalam kondisi kritis saat ini,” tanggapku sembari menahan Jerry dari emosinya. “Jer, tolong tunggu sebentar lagi ya. Aku ingin mengetahui kondisi adiknya,” pintaku pada Jerry.

Satu jam kemudian, kami kembali melihat dokter yang keluar dari ruang ICU. Roland dan orangtuanya tentu berharap berita baik yang akan disampaikan oleh dokter tersebut. “Bapak, Ibu, saat ini Doni sudah melewati kondisi kritis, namun untuk sementara dia mengalami koma dan kemungkinan besar Doni akan mengalami kelumpuhan. Saya mohon bapak dan ibu bisa bersabar. Saya sebagai dokternya akan terus mengontrol kesehatan Doni,”

Entah dapat dibilang kabar baik atau kabar buruk. Doni masih dapat bertahan hidup, namun masa depan dan cita-citanya sebagai pembalap tentu sudah selesai. Nyawa terselamatkan namun masa depannya terbunuh begitu saja karena sebuah kesalahan. Tidak ada kesempatan untuk memperbaiki. Roland nampaknya tidak akan tidur nyenyak malam ini. Ayah dan ibunya tidak akan bernafsu makan hingga Doni dapat bangun dari komanya. Aku hanya dapat bersimpati dan tidak menambah beban mereka. Lalu, aku mohon pamit pada mereka. Aku pulang dengan kepala tertunduk dan pikiranku terisi penuh dengan kejadian yang baru saja terjadi hari ini. Kita memang tidak dapat meremehkan jalanan. Namun kita tidak perlu takut, semua akan baik-baik saja andai kita bisa saja bersahabat dengan jalanan dan menghormati pengemudi lain.

Roland, Doni, pengalaman ini akan menjadi guru kita. Aku memang tidak berada di posisi seberat kalian, namun kita bertiga sama-sama tahu apa yang tidak boleh kita lakukan besok.

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s