KASIH YANG BEDA AGAMA

sumber gambar : www.ceritamu.com

sumber gambar : http://www.ceritamu.com

Hai, gue Romi dan sudah beberapa bulan gue memadu kasih dengan kekasih gue (iya lah, masa kekasih orang lain). Gue ga pernah inget angka, makannya gue cuman inget kalau kita sudah jadian beberapa bulan yang lalu. Jujur, gue beragama Kristen, sedangkan pacar gue yang bernama Ivana berasal keluarga Islam taat dan Ivana pun beragama Islam (obviously !). Sehingga kita memutuskan untuk backstreet. Pacaran backstreet itu susah ya. Yap, backstreet. Back itu artinya di belakang, Street itu jalan. Jadi kita itu pacarannya di belakang jalan, soalnya kalau di tengah jalan takutnya ketabrak, apalagi kalau ketabraknya sama bokap nyokapnya dia, masalahnya bisa jadi double dan belum lagi kalau yang nanggung biaya kecelakaan itu bokap nyokap gue, bisa-bisa gue dipecat jadi anak. Soalnya gue kan lahir dari keluarga Akew yang totok, jadi ga mau rugi. Gue tebak, kalau benar kecelakaan, yang pertama diomelin adalah kerugian akibat kecelakaannya, bukan karena pacar gue yang berkerudung dan beda agama. Backstreet juga bisa berarti jalan belakang. Kita kalau kencan sukanya lewat jalan belakang, karena di jalan depan suka ada yang tabrakan (jadi bikin jalan macet). Di jalan depan juga suka ada razia, sedangkan gue kan ga punya SIM, bahaya kalau lewat sana, belum juga kencan udah bisa tekor bayar tilang ratusan ribu. Baca lebih lanjut

Iklan

BUKAN RAJA JALANAN

“Tuhan tolong adikku Tuhan. Jangan ambil dia dariku !” teriak seseorang dengan histeris di depan ruang ICU.

Mendengar suaranya, seluruh pasien dan perawat pun menatap ke arahnya. Salah satu perawat mencoba menahannya karena mencoba masuk ruang ICU. Sementara kepalaku yang masih sedikit pusing mencoba medekat ke arahnya. Beberapa saat terdiam di samping dia yang menangis histeris. Di sampingnya, detak jarum jam terasa sangat lambat. Aku berpikir cukup beruntung, karena aku masih bisa bangun dan berjalan walaupun rasa pusing di kepalaku belum hilang dan luka lecet di kaki dan telapak tanganku. Kepalaku terbentur cukup keras, namun beruntung helm di kepalaku masih melindunginya. Namun, melihat orang tersebut menangis cukup keras membuatku tidak tega meninggalkannya begitu saja. Baca lebih lanjut