Makna Di Balik Teriknya Matahari

sumber gambar : www.memobee.com

sumber gambar : http://www.memobee.com

Teriknya matahari di siang hari, aku berjalan tergopoh-gopoh. Aku lelah dan aku ingin menegak minuman dingin yang telah aku bawa. Tidak sadar, ternyata air dingin yang kubawa telah habis. Kenapa alam begitu kejam ? Kenapa mereka tidak tahu kita kelelahan dan kepanasan karena matahari ? Tidak dapatkah dia mati untuk sehari saja ? Begitulah pikirku. Aku terus berjalan hingga aku tiba di rumah. Kubuka baju, lalu kugantungkan bajuku agar panas tubuhku dapat keluar. Kurebahkan tubuhku di kasur dan kubiarkan mataku terlelap.

Tiba-tiba kulihat di depan rumahku, semua menjadi gelap. Perlahan, udara pun semakin dingin. Segera kuambil jaket yang paling tebal di dalam lemari. Kucoba membuka pintu dan berjalan keluar. Cuaca yang dingin hampir tidak dapat ditahan meskipun aku mencoba. Pohon kacapiring yang tumbuh di halaman rumah pun tampak mati. Tidak ada aktivitas apapun di luar rumah saat ini. Jika ada, itupun petugas yang harus siap tanggap darurat. Aku pun segera masuk ke dalam rumah. Jantungku berdetak kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Segera kuhubungi teman-temanku untuk menanyakan keadaan mereka, namun tampaknya jaringan ponsel sudah tidak berfungsi. Mungkin nanti dapat berfungsi lagi pikirku, lalu dengan keadaan perutku yang lapar, segera ku berlari menuju dapur untuk membuat makanan. Namun sialnya gas sudah habis, dan akupun tidak bisa memasak.

Aku hanya terdiam dalam kesendirian dan kedinginan. Mungkin kupikir aku tidak dapat bertahan dalam keadaan seperti ini. Entah kenapa hari ini begitu gelap. Peralatan listrik pun tidak dapat dihidupkan. Semuanya begitu gelap dan dingin. Apakah ini sudah malam ? Namun kudengar dari petugas yang melintas, bahwa saat ini adalah jam 8 pagi. Ketika kutanya mengapa, dia hanya menjawab, “Sudah seminggu ini matahari tidak terbit. Matahari telah mati,” ujarnya. Setengah percaya, aku hanya menganga di depan petugas yang langsung pergi setelah menjawab pertanyaanku. Mungkin hanya aku orang sipil yang berani keluar rumah saat ini. Karena aku benar-benar bingung.

Beberapa saat kemudian kudengar langkah-langkah menyeramkan datang. Kulihat samar-samar dari balik jendela, ada harimau, singa, ular, banteng dan hewan buas lainnya berlalu lalang di depan rumah. Apa yang sedang terjadi? Kupikir mereka telah kehilangan tempat tinggalnya dan sedang mencari habitat barunya. Aku benar-benar tidak dapat bertahan lagi di sini. Rasanya aku seperti akan mati.

Seketika mataku terbuka. Aku terbangun. Akhirnya sekarang kusadari, itu hanyalah mimpi. Namun kejutan itu masih terbayang dalam pikiran. Bayangan akan kehidupan setengah mati sungguh amat menyeramkan untukku. Ternyata matahari lebih baik bersinar dengan terik. Aku tidak mau kehidupan tanpa matahari satu hari pun. Ternyata kita harus bersahabat dengan matahari. Kita harus mengerti bahwa matahari hanya bermaksud memberi kehidupan pada kita, dia tidak mau kita mati kedinginan dan terancam dalam kegelapan.

Tidak hanya pada matahari, juga pada semua yang menjadi bagian dalam hidup ini. Aku harus sadar akan apa yang dimaksud. Bukan sekedar apa yang terlihat, namun aku harus mengerti apa yang menjadi tujuan. Seperti matahari yang bermaksud memberi kita kehidupan, bukan hanya ingin kita kepanasan. Matahari tidak tertawa melihat kita kepanasan, namun tersenyum melihat kita masih dapat menjalani hidup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s