The Imitation Game dan Pembelaan Hak Kaum Gay

sumber : Solopos.com

sumber : Solopos.com

sumber : independent.co.uk

sumber : independent.co.uk

Dentuman suara ledakan bom dari tentara Jerman begitu terdengar keras. Ribuan orang menjadi korban perang. Entah berapa kepala keluarga yang hilang saat itu. Pasukan Jerman yang berkomunikasi melalui saluran radio menggunakan kode-kode rahasia yang tidak mampu dipahami pasukan Inggris. Di tengah ketidakberdayaan, pemerintah berusaha merekrut orang-orang yang dianggap mampu memecahkan kode tersebut. Alan Turing menjadi salah satu ilmuwan yang dipanggil kala itu. Berbekal ilmu logika matematikanya, Alan Turing menjadi pemimpin diantara rekan-rekannya tersebut. Dengan mempertaruhkan banyak uang negara, Turing membuat sebuah mesin yang sebenarnya belum tentu akan berhasil memecahkan kode enigma. Turing bertaruh semuanya pada satu mesin ini. Singkat cerita, kode enigma tersebut berhasil terpecahkan berkat mesin Turing tersebut. Tidak hanya itu, Turing juga mengatur arus informasi yang harus diterima pemerintah Inggris. Walaupun harus mengorbankan beberapa orang dalam perang, cara ini dilakukan Turing agar pasukan Jerman tidak curiga bahwa kodenya telah berhasil dipecahkan.

Cerita tersebut adalah potongan dari film ‘Immitation Game’ yang menceritakan perjalanan Alan Turing, seorang ilmuwan yang menemukan Mesin Turing, dimana mesin itu merupakan cikal bakal mesin komputer seperti yang digunakan banyak orang saat ini. Kontribusi Turing tersebut, membuatnya tidak hanya berjasa pada dunia ilmu pengetahuan, tapi juga menjadi pahlawan perang Inggris dan inspirasi bagi ilmuwan lainnya hingga menciptakan komputer secanggih sekarang. Namun, di tengah kecemerlangan karir dan pengetahuannya tersebut, ternyata di masa akhir hidupnya dipenuhi dengan kepahitan. Ya, Alan Turing adalah seorang homoseksual dan pemerintah Inggris saat itu tidak dapat menerima keberadaan homoseksual dan menganggapnya sebagai suatu kejahatan. Seakan tidak peduli jasa-jasa yang dilakukan oleh Alan Turing, pemerintah Inggris memberinya dua pilihan, yaitu masuk penjara atau menerima suntikan esterogen berkala yang dimaksudkan untuk mengatur libidonya. Di tengah tekanan tersebut, Turing merasa tersiksa hingga akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Keadaan akhirnya membuat Turing menyerah dan jatuh dalam dosa yang lebih dalam lagi. Bagi yang telah menonton film ‘Immitation Game’ pun pasti berpikiran bahwa terjadi ketidakadilan bagi Alan Turing. Hanya karena orientasi seksual yang berbeda dari banyak orang, dia harus menerima tekanan yang tidak sanggup dibendungnya.

Mari maju pada beberapa dekade setelah wafatnya Alan Turing. Secara perlahan homoseksual telah diterima oleh masyarakat, meskipun diskriminasi masih dapat terasa di tengah masyarakat dan bukan hal yang aneh apabila terjadi pembiaran terhadap hal tersebut. Ironisnya, diskriminasi tersebut banyak dilakukan oleh mereka yang berkata, “Aku adalah umat beragama, aku adalah hambaNya.” Ya, mereka yang begitu percaya dirinya berjalan dengan senyum seakan dapat memastikan dirinya akan masuk Surga di akhir hayatnya. Pertanyaannya, apakah seseorang dapat masuk Surga ketika mereka tidak memperlakukan seorang manusia sebagaimana seharusnya ? Mereka yang berani menyatakan dirinya sebagai homoseksual, atau ‘terperangkap di tubuh yang salah’ seringkali mendapat perlakuan yang buruk. Mereka dianggap sampah masyarakat, sehingga dikucilkan dari masyarakat dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya dikucilkan dari keluarganya sendiri.

Sebelum maju pada pembahasan kontroversi LGBT dan bendera pelangi di tengah masyarakat, saya kembali teringat pada sebuah kutipan. Saya tidak ingat percis, namun kurang lebih berbunyi seperti ini, “Seorang tabib tidak datang pada orang sehat, melainkan orang yang sakit. Sama seperti Tuhan yang datang pada orang berdosa, bukan pada orang yang benar.” Sebenarnya saya di sini bukan untuk menghakimi, namun kutipan ini adalah untuk mereka yang mengaku sebagai umat Tuhan. Mereka menghakimi para homoseksual adalah orang berdosa yang layak dipinggirkan. Lalu, jika mereka berdosa, bukankah mereka harus bertobat ? Bagaimana cara mereka bertobat apabila anda terus meminggirkan dan menganggap mereka sebelah mata ?

Saya sendiri umat beragama, walaupun bukan orang yang pandai dan hafal ayat suci. Memang Tuhan dalam kitab suci mengharuskan manusia menyatukan cintanya dengan lawan jenis. Namun, bukankah para homoseksual tersebut masih manusia ? Layakkah mereka dipinggirkan ? Meskipun begitu, apakah berarti Tuhan tidak mencintai umatNya yang memiliki kecenderungan homoseksual ?

Mari kita tinggalkan pertanyaan itu saat ini dan melihat pada situasi yang menjadi trend saat ini. Amerika Serikat mengesahkan pernikahan sesama jenis dan rakyat menggelar ‘Parade Bendera Pelangi’ untuk perjuangan kaum LGBT. Tidak hanya di AS, aksi ini menular ke sejumlah negara. Kaum LGBT memang perlu dibela hak-haknya ketika mereka mendapat banyak pelecehan dari masyarakat dan selalu dianggap sebagai ‘sampah masyarakat’. Mereka yang masih manusia, tentu sepatutnya diperlakukan sebagai manusia, begitu juga para kaum LGBT. Mereka tentu berhak mendapat pekerjaan yang sama dengan masyarakat pada umumnya, makan di tempat yang sama dan mendapat perlindungan hukum yang sama. Hal ini dapat dikatakan, karena menurut pendapat saya, tidak ada satupun manusia yang ingin lahir berbeda dengan lainnya. Namun, perkembangan secara natural terjadi, hingga akhirnya mereka menyadari bahwa mereka berbeda dari masyarakat pada umumnya.

Jika berbicara soal pernikahan kaum gay, saya tidak dapat banyak berbicara (daripada salah ngomong). Namun, dari dulu yang saya tahu adalah bahwa pernikahan merupakan hal yang suci dan fungsi dari pernikahan tersebut adalah untuk melanjutkan keturunan. Apabila esensi pernikahan adalah sama seperti yang disebutkan barusan, tentu pernikahan sesama jenis masih akan menjadi perdebatan panjang.

Perjuangan Yang Berlebihan ?

Layaknya kampanye, kaum LGBT mempublikasikan dukungannya melalui berbagai media sosial dan memamerkannya pada seluruh penjuru dunia. Maksud dari publikasi tersebut adalah agar masyarakat aware dan menerima keberadaan mereka. Bukan perjuangannya yang dipermasalahkan, namun konten apakah yang dipamerkan untuk menarik simpati masyarakat ? Apakah konten tersebut sudah pantas atau dapatkah masyarakat menerima konten tersebut ? Untuk membuat seorang anak kecil mau memakan sayuran, tentu bukan dengan cara mengikatnya hingga tidak dapat melawan, lalu memasukan sayuran itu ke dalam mulutnya, namun tampilan dari sayuran tersebut dapat diubah atau dapat dilakukan dengan kreatifitas lainnya sehingga si anak kecil dapat menerima dengan senang hati sayuran tersebut masuk ke dalam mulutnya. Begitu pula dengan kampanye yang dilakukan LGBT. Kampanye yang disebarkan baik itu secara langsung atau melalui media sosial, memiliki dua kemungkinan, diterima lalu mendapatkan simpati masyarakat atau sebaliknya. Jangan karena hegemoni ‘Bendera Pelangi’ berada di puncak, kaum LGBT merasa bebas semaunya

Beberapa hari lalu, tersiar kabar bahwa ada seorang transgender yang menggunakan simbol ‘Salib Yesus’ sebagai bagian dari parade. Simbol yang sangat sensitif bagi umat Nasrani tersebut tentu akan memunculkan pandangan negatif pada pelakunya. Aksi tersebut tentu tidak akan mengundang rasa simpati dari masyarakat. Mereka hanya akan dipandang sebagai sekumpulan orang yang berani menggunakan simbol agama untuk kepentingan mereka sendiri dan bukan tidak mungkin bahwa gerakan yang lebih radikal akan muncul setelah ini.

Awalnya ada simpati pada kaum LGBT, namun saya merasa gerakan ini mungkin akan memunculkan sesuatu yang lebih besar lagi. Sama seperti kemunculan feminisme yang membela hak-hak kaum perempuan, dan seiring berjalannya waktu, terdapat beberapa aliran feminisme dan salah satu yang paling terkenal adalah aliran feminisme radikal, dimana beberapa penganutnya tidak ingin menikahi laki-laki karena dianggap sebagai sumber masalah (mohon koreksi jika salah). Bukan tidak mungkin, gerakan pembelaan hak-hak LGBT ini akan memunculkan gerakan radikal. Sekali lagi, saya tidak maksud menyinggung para kaum gay. Saya tetap menghormati mereka sebagai manusia, namun bukan dengan paksaan pada masyarakat agar anda dapat diterima, namun rasa simpati anda terhadap manusialah yang dapat mengundang rasa simpati masyarakat pada kaum LGBT.

Hormat saya,

Penulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s