Yang Mengaku Diri Habib

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah waktunya pulang ke rumah untuk menyantap makan malam. Namun, malam ini tidak akan semudah itu. Di ujung jalan terdapat sebuah kerumunan, yang memadatkan jalan. Mereka berkerumun, menggunakan pakaian serba putih, lengkap dengan sorban di kepala. Berseloroh dengan nama Tuhan. Paling depan di barisan tersebut paling lantang dengan suaranya yang khas. Berorasi dengan membara, membuktikan dirinya benar dan patut diikuti. Aku bertanya pada orang-orang yang melewati jalan tersebut. “Itu namanya Habib,” ujar salah seorang pejalan kaki tersebut. Dengan tatapan mata yang tajam, mulut yang tak pernah berhenti berteriak membuat penduduk sekitar geram karena keributan ini. Kami hanya ingin pulang dan beristirahat dari hari yang panjang, namun itu pun tidak mudah didapat hari ini.

Beruntung hari ini mereka tidak membawa konvoi motor, batang kayu dan alat pukul lainnya. Entah aku pun tidak mengerti mengapa berbagai alat pukul berbau vandalisme itu memiliki korelasi dengan Tuhan. Tuhan dalam bayanganku tidak pernah seperti itu. Mungkin aku tidak memiliki keyakinan yang sama dengan mereka, namun mereka yang mengagungkan agama mereka (bukan Tuhan) dan berujar bahwa agama mereka paling masuk akal, kini menjadi hal yang paling absurd di negara ini, selain kasus korupsi yang tiba-tiba bisa hilang (jelas !). Benarkah agama seperti itu ? Benarkah Tuhan menginginkan ini ?

Kupikir pasti hidupnya sangat bahagia. Menjadi orang yang merasa paling dekat dengan Tuhan (padahal jelas tidak). Dengan telunjuk mengacung ke depan, mikrofon di depan bibir berbicara seribu bahasa. Kau lafalkan banyak teks yang kau ambil dari kitab suci. Namun, kau tidak menyadari, semakin lama mulutmu bicara, semakin kau menunjukkan bahwa tidak ada yang kau mengerti tentang agama dan tentang Tuhan. Kau membiarkan dirimu seperti itu, dan kau bahagia dengan kehidupan seperti itu. Hidup mulia atau mati syahid, kau tidak pernah memilih keduanya. Berbicara perdamaian dengan kekerasan, berbicara moral dengan kata kasar, berbicara kebenaran dengan opini, berbicara keadilan bersama para buaya dan berbicara agama dengan kebencian, itulah yang kau lakukan. Sadari atau tidak, kau bahagia dengan itu, dan kau merasa dekat dengan Tuhan dalam cara itu. I will pray for you guys.

Aku tidak menghakimi, aku tidak mau dan aku tidak pernah. Namun mata dan telinga tidak dapat berbohong. Walaupun begitu, aku yakin Tuhan pasti akan menghampirimu dan mungkin saat ini juga Tuhan ada berada si sampingmu, hanya saja suaraNya terdengar saru dengan kebisingan jalan, teriakan kawan, omelan di rumah dan lain sebagainya. Sama seperti dokter, akan datang pada orang yang sakit, begitu juga Tuhan pasti akan datang pada anda. Aku bukan ahli agama atau teologis yang mencoba sok tahu, tapi aku hanya geli melihat orang yang merasa paling benar dan paling dekat dengan Tuhan.

Penulis,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s