Drama Si Kulit Bundar

Jutaan pasang mata menuju pada satu layar yang sama. Di suatu tempat ribuan orang bersorak sorai, beramai-ramai meneriakkan dukungannya. Si kulit bundar terus bergulir di atas rumput hijau. Dua puluh dua orang berlari mengejar si kulit bundar dengan beragam gaya dan teknik. Yang duluan berhasil menceplokan bola ke dalam gawang akan lebih dulu bersorak sorai. Waktu 2×45 menit merupakan waktu yang medebarkan dan tidak ada yang bisa menebak akhir cerita dari drama ini. Gengsi, semangat primordial dan adu kemampuan menjadi bumbu dalam pertandingan ini. Dari Sabang sampai Merauke menunggu sang juara sejati setiap tahunnya. Ada yang terawa di akhir tahun, dan ada pula yang menguras air mata dalam keterpurukan, namun hasil akhir tidak dapat ditolak.

Pemandangan itu, hanya tinggal kenangan. Entah kapan lagi ada semangat seperti itu. Negeri kita pernah bermimpi untuk mengirimkan putra-putri terbaiknya dalam ajang kejuaran dunia. Sekarang impian itu hanya menjadi bumbu dalam mimpi kita malam ini. Induk sepakbola kita tidak dapat berbuat apa-apa. Pria-pria berjas hitam bersembunyi di balik kantornya dan berbicara pada semua orang, bahwa merekalah pahlawan sepakbola Indonesia. Benarkah ? Ketika para pemuda terbaik bangsa yang menggantungkan hidupnya pada aksi di lapang hijau, kini hanya terdiam di balik pintu kamarnya. Sebagian tetap dapat bertahan hidup karena usahanya berjalan lancar di luar sepakbola. Sebagian lagi hanya dapat bersabar menunggu keputusan para pria di balik meja untuk berdamai.

Tidak untuk menyudutkan keduanya, namun memang sepakbola negeri ini sudah sangat rusak. Gembong mafia mulai terbongkar, organisasi berantakan, bapak menteri mencoba menjadi pahlawan namun membuat masyarakat kebingungan. Silahkan kalian berseteru. Timnas yang bermimpi ke Piala Dunia sudah harus menggantungkan mimpinya. Namun, jangan kau gantungkan pula para putra yang bergantung hidup dari sepakbola. Mereka memiliki hidup dan mereka memiliki talenta. Talenta ibarat mata uang yang dapat berbunga berlipat jika digunakan sebagai modal. Namun, bagaimana talenta ini dapat berkembang ketika sarana berkembang dalam kompetisi telah hilang ? Bagaimana talenta-talenta tersebut membentuk tim nasional yang kuat untuk mengharumkan nama bangsa ? Logikanya, semakin lama mereka kehilangan sarana itu, semakin kecil pula kemungkinan untuk mengembangkan talenta tersebut hingga berbunga berkali lipat.

Sesungguhnya, kami telah menerima bagaimana sepakbola kita telah babak belur di masa ini. Tapi kami tidak siap menerima bahwa sepakbola di masa depan tidak menjadi lebih baik. Kami hanya ingin melihat talenta-talenta itu berotak-atik dengan bola di kakinya. Kami hanya ingin melihat permainan yang lebih indah lagi. Jika kurang jelas, kami hanya menginginkan apabila kompetisi tidak perlu berhenti seperti ini. Tekukan muka itu berubah menjadi isak tangis. Tangisan untuk sepakbola kita. Bapak yang terhormat di sana yang sedang berurusan dengan sepakbola, mari singkirkan bendera politik di belakang anda dan duduk bersama. Tulisan ini tidak berbicara pada salah satu pihak , namun pada semua pihak yang sedang memperebutkan kuasa atas sepakbola.

Penulis,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s