UNTUK SANG PENDETA FLAMBOYAN

Dengan rambut klimis, wangi parfum khas selebriti hollywood, jas bermerek, dasi, celana panjang dan sepatu pantofel, dirinya tampak percaya diri berbicara di depan ribuan pasang mata. Berbekal Alkitab di tangan dan mencatut kalimat di dalamnya, begitu dirinya menjadi dikenal banyak orang. Semua orang kini mengenalnya sebagai ‘Domba yang Terpilih’, atau ‘Utusan Allah’ atau entah apalagi yang dikatakan orang itu padanya. Utusan Anak Domba Allah yang lahir di palungan, kini diam di dalam sebuah bangunan megah dan elit. Kakinya tidak akan merasakan panasnya jalanan ibukota, karena kereta beroda empat siap mengantarkan ‘Pelayan Allah’ itu kemanapun.

Mengaku sebagai ‘Utusan Allah’ di layar kaca dan disaksikan jutaan umat yang membutuhkan Kasih Tuhan. Mengaku sebagai yang terpilih, dan mengaku terpanggil hingga semua orang terpesona dan mendengar setiap kata (baca : bualan) dari dalam mulutnya. Label ‘Pendeta’ membuat dirinya diyakini memiliki kebenaran. Siapakah pelayan tersebut ? Pendeta dengan gaya flamboyan itu selalu tegap di hadapan setiap orang yang membutuhkan Tangan Tuhan, Kasih Tuhan yang sesungguhnya. Dengan haru dan percaya diri, jutaan pasang mata yang terhipnotis bersemangat dan memberitahu seisi rumah bahwa dirinya baru saja ‘disentuh’ oleh Kasih Tuhan melalui Pendeta Flamboyan tersebut.

Si bungsu enggan percaya, dan seisi rumah berbicara, “Kamu tidak boleh begitu, dia utusan Tuhan, dia telah mengalami mukjizat dan kini dia hanya ingin membantu kita berdoa agar lebih dekat dengan Tuhan,”

Membantu agar kita lebih dekat dengan Tuhan ? Itukah yang ditanamkan ‘Pendeta Flamboyan’ itu pada kita ? Semua pertanyaan itu hanya akan berkembang menjadi pertanyaan yang lebih besar lagi. Adakah seorang pelayan yang justru hidup lebih mewah dibanding tuannya ? Jika untuk tujuan pelayanan, mengapa justru minta dilayani ? Sudahlah, tidak perlu bersembunyi lagi dalam pujaan jutaan orang, tidak perlu lagi bersembunyi dalam buaian, tidak perlu bersembunyi dari setiap kata mutiara yang kau buat dengan rumus teori-teori public speaking dalam ilmu komunikasi. Semua menjadi rahasia umum, kau telah menerima segalanya bermodalkan Alkitab di tangan. Kemewahan dalam popularitas, ruang istirahat kelas satu, kendaraan bak selebriti dan sebagainya. 

Di kala matahari terbit hingga senja, kau berbicara lantang seakan tahu segala tentang Tuhan, agama dan iman, sedangkan di kala malam kau dapat mengatupkan mata di atas kasur empuk, bermandikan udara AC yang dapat kau atur suhunya sehingga kau tidak perlu mengkhawatirkan malam ini akan kepanasan atau kedinginan (dimana banyak umat yang menunggunya berkhotbah sedang tidur dalam kedinginan atau kepanasan. Ironi !). 

Kau berbicara tentang hidup sederhana dalam beriman pada Tuhan, sementara kau menikmati kemewahan saat menjual ayat-ayat suci tersebut.

Cara berbicara, berpakaian dan pemilihan tempatmu sudah menceritakan sebagian. Atas nama rating dan mencari perhatian, para ‘Pendeta Flamboyan’ bekerja keras dan membuktikan bahwa dirinya berada di kelas sosial yang tinggi dengan menjual nama Tuhan dan ayat suci tanpa mengerti makna sesungguhnya, dan tanpa mengerti seberapa besar orang-orang tersebut mengharapkan Kasih Tuhan yang nyata.

Kau tidak memberi mereka yang dibutuhkan , kau hanya memberi yang mereka inginkan yaitu buaian atas nama Tuhan. Mengapa kau harus berbicara di tempat yang elit ? Mengapa kau harus menggunakan setelan jas,kemeja, celana seperti para eksekutif ? Mengapa kau meminta umat untuk tampil sederhana seperti para Utusan Tuhan pada jaman dahulu kala ketika kau sendiri tidak dapat menunjukkannya ? Sangat jelas, kau di sini sedang menangkap mangsamu, orang-orang yang setingkat dengan penampilanmu kini (baca : Orang-orang kaya yang membutuhkan bimbingan spiritual). Apakah aku salah ? Kau dapat membuktikannya. Please, be my guest.

Buaian yang dibalut bersama bualan, betapa hebat kau mengerti cara menarik perhatian orang yang membutuhkan Kasih tersebut. Oh, tunggu, ya benar kau memiliki teori-teori public speaking, dan tidak heran kau dapat menarik mangsa pasar. Kukira, kau hanya seorang penipu, tapi ternyata aku salah, kau adalah pebisnis yang hebat. Ya, kau dapat menarik pasar dan memenuhi keinginan dari pasar tersebut, atau lebih tepatnya mereka MERASA kebutuhannya terpenuhi. Tidak heran mereka tidak pergi dari hadapan anda.

Aku bahkan masih ingat salah satu dari pendeta flamboyan tersebut berujar bahwa dirinya mendapat mukjizat setelah berhari-hari demam, lalu melihat dengan mata kepala sendiri Tangan Tuhan telah menyerahkan kekuasaan padanya untuk melawan setan yang mendekatinya, hingga akhirnya sang pendeta itu sembuh. Dirinya bersaksi, sekali lagi dia bersaksi Atas Nama Tuhan. Sementara, tengoklah ke rumah sakit, ratusan orang menderita kanker dan hanya beberapa diantaranya yang selamat, dan mereka tidak pernah melihat Tangan Tuhan memberi kekuasaan untuk menyelematkan dirinya. Mungkin beberapa menerima mukjizat, tapi tidak ada yang seperti ‘Sang Pendeta’ yang melihat Tangan Tuhan untuk menyerahkan kekuasaan dan kekuatanNya hanya untuk menyembuhkan demam berhari-hari. Mohon maaf bila perkataan ini menyinggung anda, tapi mungkin anda benar, mungkin anda melihat Tangan Tuhan secara langsung, mungkin saat anda terbaring sakit, anda sedang melihat tayangan sepakbola ketika Maradona mencetak gol ke gawang Inggris menggunakan tangan, dimana selama puluhan tahun, dia dijuluki Tangan Tuhan. Okey, jika hal tersebut yang mau anda katakan, saya mengerti.

Tidak ada maksud dalam tulisan ini menyudutkan para pendeta. Saya yakin para pendeta dan pemuka agama adalah pelayan yang dipilih Tuhan. Namun ketika kebutuhan umat ditangkap sebagai mangsa pasar, selamanya para ‘Pendeta Flamboyan’ akan terjebak dalam sistem kapitalisasi ajaran agama. Umat menjadi modal sosial dan ayat yang suci tidak lagi menjadi suci ketika menjadi komoditas dan senjata para ‘Pendeta Flamboyan’ berjualan. Suaramu lantang terdengar di penjuru negeri, namun menghancurkan hati di saat yang sama. Menjadi seorang pendeta atau pemuka agama tidaklah mudah, banyak beban dan harapan setinggi langit dari jutaan orang. Tidak mudah menjadi orang yang dianggap tahu seperti apa kemauan Tuhan, padahal jaman sudah berganti dan perkembangan gaya hidup sudah berkembang pesat dibanding masa-masa saat para ‘Utusan Tuhan’ datang membawa kabar keselamatan bagi seluruh umat manusia. Tapi, memanfaatkan keinginan orang-orang yang ingin menyaksikan Kasih Tuhan demi mendapat kenikmatan dan kemewahan, bukanlah jalan yang terhormat. Saya percaya Tuhan, tapi saya tidak pernah berada di sisi yang sama dengan anda. Dengan hormat, penulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s