CONGRATULATION

Hanya kata ‘selamat’ yang dapat kuucapkan ketika kau pergi. Hari ini ketika gerbang besar telah terbuka dan lonceng berdetak. Karpet merah yang mengantarkanmu ke depan altar bersama pangeran pujaanmu. Mungkin jika aku melakukan hal berbeda pada hari itu, pria itu tidak ada disebelahmu saat ini. Tapi , sudahlah aku tidak bisa merusak hari bahagiamu.

Aku hanya bercerita tentang keraguanku. Saat itu aku menunggu tamu istimewaku, di depan perapian. Baca lebih lanjut

Iklan

SAYANG PADA SAHABAT (?)

‘Aku ingin ketemu kamu’ ;‘Aku kangen kamu’ ;‘Kapan kamu pulang ?’

Seringkali aku mendengar 3 kalimat itu. Berulang kali kalimat itu membangunkanku di saat matahari bahkan belum menunjukkan sinarnya. Entah pukul berapa saat itu. Jujur, aku terganggu saat itu, namun senyum selalu tergores di wajah ketika mengetahui itu adalah kamu. Aku tahu saat itu kamu sangat membutuhkan seseorang. Itu selalu terulang, bahkan di saat aku belum pergi, benar-benar belum pergi, di saat sebenarnya aku bisa setiap hari mengunjungimu dan membuatmu tertawa. Kadang aku pun merindukan waktu saat aku bisa membuatmu tertawa. Sekarang, waktu kita terbatas. Tapi aku juga membenci waktu-waktu dimana kau hanya berkeluh kesah, tentang dia. Aku tidak tahu apa yang kau lihat dari dia, tapi… entahlah aku tidak pernah berani berkomentar buruk karena aku pun tidak benar-benar mengenal siapa dia, yang kutahu kau terlalu mudah untuk percaya padanya. Baca lebih lanjut

Drama Si Kulit Bundar

Jutaan pasang mata menuju pada satu layar yang sama. Di suatu tempat ribuan orang bersorak sorai, beramai-ramai meneriakkan dukungannya. Si kulit bundar terus bergulir di atas rumput hijau. Dua puluh dua orang berlari mengejar si kulit bundar dengan beragam gaya dan teknik. Yang duluan berhasil menceplokan bola ke dalam gawang akan lebih dulu bersorak sorai. Waktu 2×45 menit merupakan waktu yang medebarkan dan tidak ada yang bisa menebak akhir cerita dari drama ini. Gengsi, semangat primordial dan adu kemampuan menjadi bumbu dalam pertandingan ini. Dari Sabang sampai Merauke menunggu sang juara sejati setiap tahunnya. Ada yang terawa di akhir tahun, dan ada pula yang menguras air mata dalam keterpurukan, namun hasil akhir tidak dapat ditolak. Baca lebih lanjut

Yang Mengaku Diri Habib

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah waktunya pulang ke rumah untuk menyantap makan malam. Namun, malam ini tidak akan semudah itu. Di ujung jalan terdapat sebuah kerumunan, yang memadatkan jalan. Mereka berkerumun, menggunakan pakaian serba putih, lengkap dengan sorban di kepala. Berseloroh dengan nama Tuhan. Paling depan di barisan tersebut paling lantang dengan suaranya yang khas. Berorasi dengan membara, membuktikan dirinya benar dan patut diikuti. Aku bertanya pada orang-orang yang melewati jalan tersebut. “Itu namanya Habib,” ujar salah seorang pejalan kaki tersebut. Dengan tatapan mata yang tajam, mulut yang tak pernah berhenti berteriak membuat penduduk sekitar geram karena keributan ini. Kami hanya ingin pulang dan beristirahat dari hari yang panjang, namun itu pun tidak mudah didapat hari ini.

Beruntung hari ini mereka tidak membawa konvoi motor, batang kayu dan alat pukul lainnya. Baca lebih lanjut

UNTUK SANG PENDETA FLAMBOYAN

Dengan rambut klimis, wangi parfum khas selebriti hollywood, jas bermerek, dasi, celana panjang dan sepatu pantofel, dirinya tampak percaya diri berbicara di depan ribuan pasang mata. Berbekal Alkitab di tangan dan mencatut kalimat di dalamnya, begitu dirinya menjadi dikenal banyak orang. Semua orang kini mengenalnya sebagai ‘Domba yang Terpilih’, atau ‘Utusan Allah’ atau entah apalagi yang dikatakan orang itu padanya. Utusan Anak Domba Allah yang lahir di palungan, kini diam di dalam sebuah bangunan megah dan elit. Kakinya tidak akan merasakan panasnya jalanan ibukota, karena kereta beroda empat siap mengantarkan ‘Pelayan Allah’ itu kemanapun.

Baca lebih lanjut

Awalnya

Semua orang yang menulis di blog memiliki alasannya masing-masing, mulai dari sekedar hobby, menuangkan ekspresi, hingga membagi pemikirannya dengan banyak orang. Setiap blog yang banyak mendapat perhatian, akan menjadi populer di berbagai kalangan, dan hal itu tentu dapat menjadi batu loncatan bagi setiap penulis blog. Namun, alasan saya memulai blog ini bukan hanya untuk mencari popularitas (nb : lagipula siapa saya ? hehehe). Saya memiliki teori seperti ini, bahwa setiap orang memiliki kekhawatirannya masing-masing dengan segala apa yang dihadapinya mulai dari kehidupan sehari-hari hingga kehidupan karir, perkuliahan hingga urusan pribadi, dan setiap orang memiliki sikap yang berbeda dalam memandang kekhawatiran atau kegelisahannya tersebut. Nah, dalam setiap masing-masing pribadi saya rasa ada satu waktu kita menginginkan orang mengetahui bagaimana sikap kita menghadapi kekhawatiran tersebut. Caranya banyak, sangat banyak. Mulai dari curhat dengan sahabat hingga keluarga. Namun, kadang kita menemukan tantangan yang lain, yaitu ketika apa yang kita pikirkan tidak sejalan dengan lawan bicara kita, namun kekhawatiran itu harus segera dilepas karena kita merasa gerah. Dari situlah saya berpikir untuk menuliskan kekhawatiran saya tersebut dalam sebuah blog. Setidaknya apa yang saya pikirkan tidak dipendam sendiri dan orang-orang di luar dapat mengetahui apa yang saya gelisahkan.

Lembar goresan diperlukan bagi setiap orang yang tidak hanya mengandalakan mulut untuk mengungkapkan pendapat, namun menjelaskannya secara tuntas melalui sebuah tulisan. Tulisan dalam blog ini akan jauh dari sempurna, namun saya mencoba untuk membawa kekhawatiran saya dibagikan bersama orang banyak. Mungkin suatu hari ada orang yang memiliki kegelisahan yang sama dengan saya.